Calon presiden FIFA bantah langgar HAM

Sumber gambar, AP
Salah satu calon kuat presiden Badan Sepak Bola Dunia (FIFA), Sheikh Salman bin Ibrahim Al Khalifa, membantah ia terlibat dalam pelanggaran hak asasi manusia.
Tudingan itu dilontarkan oleh beberapa kelompok hak asasi manusia di negaranya, Bahrain, yang menyebutkan ia terlibat dalam penyiksaan dan penahanan sejumlah pemain sepak bola dan atlet-atlet lain setelah terjadi gelombang protes menuntut demokrasi pada 2011.
"Saya tidak dapat menepis sesuatu yang tidak pernah saya lakukan," kata sosok yang kini menjabat sebagai presiden Federasi Sepak Bola Asia itu dalam wawancara dengan BBC Sport.
"Tuduhan seperti itu tidak hanya merusak tetapi juga menyakitkan. Sebagian orang mempunyai agenda tertentu."
Penumpasan aksi unjuk rasa menuntut reformasi yang dimotori masyarakat Syiah empat tahun lalu menelan sejumlah korban.
Menurut kelompok-kelompok HAM, Sheikh Salman membantu mengindentifikasi para pemain yang terlibat dalam protes dan ia dituduh gagal melindungi mereka dari penyiksaan.
Di samping Sheikh Salman, yang juga maju memperebutkan kursi presiden FIFA dalam pemilihan Februari mendatang antara lain adalah mantan wakil sekjen FIFA, Jerome Champagne, <link type="page"><caption> Pangeran Ali bin al-Hussein</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/olahraga/2015/10/151014_olahraga_fifa_pemilihan" platform="highweb"/></link> dari Yordania.





