Jerman, Prancis 'desak' FIFA pilih Qatar

Sepp Blatter

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Sepp Blatter, yang memimpin FIFA sejak 1998, berencana mundur.

Presiden FIFA, Sepp Blatter, mengatakan ada tekanan dari Jerman dan Prancis sebelum dilangsungkan pemungutan suara untuk menentukan tuan rumah Piala Dunia 2018 dan 2022.

Dalam wawancara dengan surat kabar Jerman, Welt am Sonntag, Blatter mengatakan presiden Prancis dan Jerman ketika itu, Nicolas Sarkozy dan Christian Wulff, mempengaruhi para pemilik suara agar mendukung Rusia dan Qatar.

"Itulah sebabnya mengapa ada Piala Dunia di Qatar," kata Blatter. "Mereka yang memutuskan juga harus bertanggung jawab," tambah Blatter.

Pria yang memimpin FIFA sejak 1998 ini mengatakan persatuan sepak bola Jerman, DFB, menerima rekomendasi agar memilih Qatar karena "keuntungan ekonomi" yang akan diperoleh Jerman.

Penyelidikan pidana

"Lihat saja perusahaan-perusahaan Jerman ... Deutsche Bahn (perusahaan kereta api) Hochtief (perusahaan konstruksi) dan banyak lagi yang punya proyek di Qatar sebelum negara ini ditetapkan sebagai tuan rumah Piala Dunia," papar Blatter.

Penunjukkan Rusia dan Qatar pada 2010 sebagai penyelenggara Piala Dunia saat ini diselidiki oleh aparat penegak hukum di Swiss yang menduga ada pelanggaran prosedur.

Pada saat yang hampir bersamaan beberapa pejabat penting FIFA juga menghadapi penyelidikan oleh Amerika Serikat dalam kasus dugaan korupsi di organisasi sepak bola dunia tersebut.

Pada awal Juni Blatter mundur sebagai presiden dan penggantinya akan dipilih dalam kongres luar biasa FIFA antara Desember 2015 hingga Maret 2016.