Kaum bapak usulkan cuti ayah diperpanjang tujuh kali lipat

Waktu membaca: 2 menit

Dua orang laki-laki membuat petisi mendesak pemerintah memberikan cuti ayah dari dua hari menjadi dua minggu ketika istri melahirkan, sebagai salah satu upaya menghidupkan peran bapak dalam pengasuhan anak sedini mungkin.

Apa pengalaman yang paling tak terlupakan selama menjadi ayah?

"Melihat anak pertama kali keluar dari rahim ibu," kata Ahmad Zaini, 38. "Sampai sekarang tidak bisa dideskripsikan perasaannya. Wah anak pertama ini, nangis, nangis deh."

  • <link type="page"><caption> Bocah Jepang itu maafkan ayah yang meninggalkannya di hutan</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/06/160607_majalah_bocah_jepang_maafkan_ayah.shtml" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Foto bapak dan anak telanjang: indah atau menjijikkan?</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/05/160520_trensosial_foto_bapak_anak.shtml" platform="highweb"/></link>

Itu adalah momen pertama dia menyentuh anaknya dan mengucap azan, sebuah ritual yang umum dilakukan umat Muslim. "Itu kedekatan emosional pertama antara saya dengan anak-anak saya."

Sejak itu, komitmen Ahmad dan istrinya Windy Virgawati untuk mengasuh anak-anak sebagai tim dimulai. Ahmad dengan terampil mengganti popok, memandikan, memasak, dan menyuapi, sehingga Windy tak cemas meninggalkan anaknya yang masih bayi dengan sang ayah.

Bagi Windy, hadirnya suami dalam proses kelahiran sangat penting, tak hanya untuk hubungan ayah dan anak, tetapi juga hubungan antara mereka sebagai suami istri.

"Itu menunjukan bahwa kasih sayang itu ada, terlihat," katanya.

Petisi ini telah didukung oleh lebih dari 25.000 penandatangan.

Sumber gambar, CHANGE ORG

Keterangan gambar, Petisi ini telah didukung oleh lebih dari 25.000 penandatangan.

Cuti dua minggu

Ahmad tak bisa membayangkan jika momen kelahiran tiga anaknya terlewat. Sebagai seorang pekerja, dia cukup beruntung bisa mengambil cuti tujuh hari ketika istrinya melahirkan ketiga anak mereka. Namun tak semuanya mendapat kesempatan itu.

Dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan, pekerja laki-laki hanya memperoleh hak tidak bekerja selama dua hari ketika istri melahirkan - waktu yang dipandang sangat sempit.

Inilah alasan mengapa Ahmad Zaini dan rekan kerjanya Adi S. Noegroho membuat petisi agar pemerintah bisa memberikan cuti khusus untuk ayah lebih lama, yaitu sekitar dua pekan.

"
Menghadirkan ayah dalam pola pengasuhan menjadi sangat penting bahkan sejak dini. Sejak anak baru saja lahir..." tulis mereka dalam petisi yang hingga kini ditandatangani lebih dari 25.000 orang.

Tak membutuhkan waktu lama untuk membuat petisi ini banjir dukungan, tak hanya dari kalangan ayah dan calon ayah, tetapi juga dari para ibu. "Saya merasakan sendiri saat putri saya lahir hanya bisa menemani dia selama dua hari," kata Affan Hakim salah satu penandatangan petisi.

"Setuju. Bahagianya jika suami bisa mendampingi awal-awal kelahiran buah hati. Belajar bersama, bergadang bersama, menghadapi baby blues bersama. Karena awal kelahiran si kecil bukan hanya milik ibu tapi juga ayah," kata Ryan Indriani.

"Suami saya mendapat cuti hanya tiga hari saja dan itu pun masih diganggu oleh banyak telepon kantor," keluh Inda Nurmia.

Umar Kasim dari Kementerian Tenaga Kerja mengatakan ketentuan UU untuk memberikan cuti pada pekerja laki-laki ketika istri melahirkan (selama dua hari) mengikat dan memiliki sanksi hukum.

Perusahaan yang tidak bisa memenuhinya bisa diberikan sanksi sesuai pasal 186, yaitu pidana penjara dan denda paling sedikit Rp10 juta.

Apa pengalaman yang paling tak terlupakan selama menjadi ayah? "Melihat anak pertama kali keluar dari rahim ibu."
Keterangan gambar, Apa pengalaman yang paling tak terlupakan selama menjadi ayah? "Melihat anak pertama kali keluar dari rahim ibu."

Kedekatan yang tak tergantikan

Terkait petisi, Umar mengatakan, "mengajukan untuk adanya perubahan UU (ke DPR) sah-sah saja, tetapi bisa juga disepakati secara perdata antara para pihak, misalnya antara pengusaha dan serikat pekerja."

Ahmad Zaini mengatakan dia bersyukur bahwa dia bisa terlibat dalam pengasuhan anak sejak awal. "Kedekatan dengan anak tidak tergantikan dan ternyata waktunya sangat pendek."

"Dulu saya berpikir, kedekatan dengan anak itu masih panjang, 15 tahun, 16 tahun sebelum dia suka keluar sama teman-temannya masih bisa. Tetapi ternyata tidak selama itu."

"Misalnya dongeng, (dulu) anak-anak suka didongengin, tetapi begitu sudah kelas 1 SD dan sudah bisa baca, ketika saya mau dongengin dia bilang, 'ayah keluar aja deh aku bisa baca sendiri'. Itu menyakitkan sebenarnya, tapi jadi penyadaran bagi saya. Oh iya! Waktu kedekatan dengan anak itu terbatas sekali dan harus dilakukan sejak kecil."