Apa yang diketahui tentang 'kerangka kesepakatan masa depan' Donald Trump atas Greenland?

Sumber gambar, AFP via Getty Images
- Penulis, Paulin Kola
- Waktu membaca: 5 menit
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan bahwa pihaknya telah mencapai "kerangka kesepakatan masa depan terkait Greenland."
Pernyataan yang disampaikan pada 21 Januari lalu itu menjadi kejutan setelah terjadi peningkatan ketegangan diplomatik selama berminggu-minggu sebelumnya.
Trump sempat melontarkan ancaman untuk menggunakan kekuatan militer guna merebut wilayah semi-otonom milik sekutu NATO, Denmark.
Trump juga mengancam akan memberlakukan tarif impor yang berat bagi negara-negara NATO jika keinginannya untuk mencaplok Greenland tidak dipenuhi.
Lalu, apa saja yang mungkin tercakup dalam kesepakatan itu? Dan, apakah kerangka itu dapat diterima oleh Denmark dan Greenland—yang keduanya secara tegas bilang tak akan melepas kedaulatan atas pulau terbesar di dunia, yang terletak di Arktik itu?
Apa yang telah disampaikan tentang kerangka kesepakatan itu?
Presiden Trump menyampaikan pengumuman resmi itu usai melakukan pembicaraan di Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Swiss, 21 Januari lalu.
"Berdasarkan pertemuan yang sangat produktif saya dengan Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, kami telah membentuk sebuah kerangka kesepakatan masa depan dengan rasa hormat terkait Greenland," ujar Trump melalui platform media sosial, Truth Social.
Meskipun tidak memberikan penjelasan yang rinci tentang kerangka itu, Trump menyatakan bahwa pembicaraan akan terus berlanjut untuk mencapai kesepakatan tersebut.

Sumber gambar, EPA
Namun, Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, menyatakan bahwa dirinya tidak membahas isu utama mengenai kedaulatan Denmark atas Greenland dalam pertemuannya dengan Trump.
Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen, menegaskan bahwa meskipun Denmark dapat menegosiasikan banyak hal, namun kami "tidak dapat menegosiasikan kedaulatan."
Mungkin Anda tertarik:
Pernyataan senada juga disampaikan oleh Perdana Menteri Greenland, Jens-Frederik Nielsen, yang menyebut kedaulatan sebagai "garis merah."
Selain itu, Nielsen mengungkapkan bahwa dirinya tidak mengetahui detail dari kesepakatan yang sedang dibahas itu.
Apakah ada detailnya dan apa saja pilihannya?
Mengutip pernyataan sejumlah pejabat yang anonim, surat kabar New York Times melaporkan bahwa salah satu ide yang muncul adalah Denmark menyerahkan kedaulatan atas wilayah kecil di Greenland untuk pembangunan pangkalan militer Amerika Serikat.
Pengaturan itu disebut akan mirip dengan status dua pangkalan militer di Siprus, yang tetap berada di bawah kedaulatan Inggris sejak Siprus merdeka pada 1960.
Namun, belum jelas bagaimana model tersebut dapat diterapkan jika Denmark dan Greenland sama-sama menolak untuk melepaskan kedaulatan mereka.

Sumber gambar, Getty Images
Dalam argumennya untuk menguasai Greenland, Trump telah menyinggung ancaman dari kapal-kapal China dan Rusia di sekitar pulau itu, meskipun Denmark menyatakan bahwa tidak ada ancaman "saat ini".
Terkait hal itu, sekutu-sekutu NATO telah mencoba meyakinkan AS bahwa mereka akan meningkatkan keamanan di Arktik, dan Mark Rutte menyatakan bahwa kerangka kesepakatan tersebut juga akan mewajibkan kontribusi ini.
"Saya tidak ragu, kita dapat melakukan ini dengan cukup cepat. Tentu saya berharap pada tahun 2026, bahkan saya harap awal tahun 2026," ujar Rutte pada Kamis lalu.
Menteri Luar Negeri Inggris, Yvette Cooper, berkata bahwa Inggris telah menyerukan pembentukanArctic Sentry (Penjaga Arktik) yang "sangat mirip dengan pendekatan yang diambil NATO terhadap Baltic Sentry"—sebuah misi untuk meningkatkan pengawasan terhadap kapal-kapal di Laut Baltik.
Akankah ada kesepakatan selain 'kepemilikan' yang dapat memuaskan Trump?
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Berdasarkan perjanjian pada 1951 dengan Denmark, AS memiliki wewenang untuk mengirim pasukan dalam jumlah tak terbatas ke Greenland.
Saat ini, AS telah menempatkan lebih dari 100 personel militer secara permanen di pangkalan Pituffik, yang terletak di ujung barat laut pulau itu.
Menurut keterangan sejumlah pejabat AS, diskusi untuk mencapai kesepakatan baru kemungkinan akan berpusat pada renegosiasi perjanjian tahun 1951.
Namun, proses negosiasi ini terus dibayangi oleh desakan Presiden Trump yang tetap ingin "memiliki" Greenland.
Jika Trump memaksakan kehendaknya, selain harus melampaui "garis merah" terkait kedaulatan, para negosiasiator juga perlu menemukan solusi atas larangan konstitusional terhadap penjualan tanah di Greenland.
Salah satu model yang dipertimbangkan seperti pangkalan Angkatan Laut AS di Teluk Guantánamo, Kuba, yang telah berada di bawah kendali penuh AS sejak 1903 melalui semacam perjanjian sewa permanen.
Namun, masih belum jelas apakah opsi-opsi itu yang memicu perubahan sikap Trump di Davos untuk membatalkan ancaman penggunaan militer guna mencaplok Greenland—sebuah langkah yang memberikan kelegaan bagi para sekutu NATO-nya.
NATO didirikan pada 1949 dengan prinsip bahwa serangan luar terhadap satu sekutu adalah serangan terhadap semua.
Denmark telah mempertegas bahwa serangan militer oleh satu sekutu terhadap sekutu lainnya akan mengakhiri aliansi trans-atlantik tersebut, yang mana AS adalah mitra utamanya.
Fakta bahwa pengumuman "kerangka kerja" Trump muncul setelah pertemuannya dengan Mark Rutte memicu kekhawatiran di Greenland bahwa negosiasi mengenai masa depan dilakukan tanpa kehadiran mereka.
Menteri Luar Negeri Greenland, Vivian Motzfeldt, pada Kamis lalu, menyatakan bahwa pemerintahnya tidak meminta Rutte untuk bernegosiasi dengan AS atas nama mereka, melainkan untuk menyampaikan adanya "garis merah secara langsung kepada Presiden Trump."
Hingga saat ini, Rutte belum mengonfirmasi hal tersebut dan justru menuai kritik atas pujian yang terus-menerus dia berikan kepada Presiden Trump.
Mengapa Trump menginginkan Greenland? Apakah karena mineralnya?
Presiden Trump menyatakan bahwa Greenland merupakan bagian penting dalam rencananya membangun sistem pertahanan Golden Dome, yang dirancang untuk melindungi Amerika Serikat dari serangan rudal Rusia dan China.
Trump juga menambahkan bahwa sekutu-sekutu Eropa dapat bekerja sama dalam upaya tersebut.
Namun di sisi lain, Greenland menyimpan cadangan mineral langka yang sangat besar dan sebagian besar belum dimanfaatkan.
Banyak dari mineral tersebut sangat krusial bagi berbagai teknologi, termasuk ponsel genggam dan kendaraan listrik.
Meskipun Trump tidak secara eksplisit menyatakan bahwa AS mengincar kekayaan di Greenland, dia menegaskan bahwa kendali AS atas pulau tersebut "menempatkan semua pihak dalam posisi yang sangat baik, terutama yang berkaitan dengan keamanan dan mineral."
Do you have any views, comments or questions about this story?










