Transgender cilik dari Inggris: Saya tidak ingin berjanggut

Tahun lalu, program BBC Victoria Derbyshire menjumpai anak-anak yang melewati suatu periode perubahan luar biasa.
Apa yang terjadi pada dua anak yang diklaim sebagai transgender termuda di Inggris? Ikuti penelusuran wartawan BBC, Sarah Bell.
Pada bulan Mei, Lily, seorang anak berusia 7 tahun, pergi ke sekolah dengan mengenakan rok. Untuk pertama kalinya orang-orang memanggilnya dengan nama seorang anak perempuan.
Dia sebetulnya terlahir sebagai seorang anak laki-laki, dan "hari di mana dia mengenakan rok" menandai peralihan ke dalam kehidupan sebagai seorang gadis.
Tampaknya, dia maupun teman-teman sekelasnya bisa menerimanya. "Saat saya pergi ke sekolah hari itu, semua orang mengatakan, 'Hai Lily, kamu terlihat cantik pakai rok’.
"Dan saya bilang 'ooh terima kasih,'" katanya.
"Rasanya sedikit alami, tapi yang paling memalukan adalah celana ketat yang membuat saya sangat gatal."
Lily, bukan nama sebenarnya, baru-baru ini mulai berpakaian seperti layaknya seorang anak perempuan pada Januari 2015.
"Rasanya sedikit berbeda, tapi umumnya sama karena saya pernah melakukan hal ini saat saya masih kecil," katanya.
Klinik transgender
Transgender adalah istilah yang digunakan untuk orang yang tidak mau diidentifikasi sebagai gender yang melekat pada dirinya ketika mereka lahir. Mereka ingin dilihat sebagai gender yang berbeda atau malah tidak didefinisikan sama sekali.
Tavistock dan Portman NHS Trust adalah satu-satunya klinik di Inggris yang khusus merawat kaum transgender di bawah umur 18 tahun, klinik ini berada di London dan Leeds.
Di sana ada konsultasi psikologi agar kalangan transgender muda yang melebur dalam masyarakat bisa lebih diterima kehadirannya.
Tahun lalu, sebanyak 167 anak yang berumur 10 tahun atau di bawah usia tersebut dirujuk ke klinik-klinik tersebut. Jumlah ini hampir dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.
Di antara mereka ada anak yang berusia tiga tahun.
Kaum transgender anak-anak bisa dirawat di lembaga kesehatan Inggris (NHS), namun untuk usia tersebut mereka harus menjalani sesi konseling dan bantuan.
Penanganan secara medis tidak diperkenankan sampai mereka mencapai masa pubertas, saat mungkin penghalang hormon ditawarkan.
Penghalang hormon dapat menunda perubahan fisik yang terkait dengan pubertas, serta memberikan kesempatan lebih lama bagi para remaja orang muda untuk memutuskan apakah mereka ingin hidup sebagai seorang pria atau wanita.
Saat pasien menginjak usia 16 tahun, mereka diperbolehkan untuk mengkonsumsi hormon lintas-seks, sedangkan bila ingin menjalani operasi secara keseluruhan pasien harus berusia di atas 18 tahun.
Operasi kelamin di NHS menelan biaya sekitar 10.000 pounds atau sekitar Rp192 juta.
Jay Stewart, direktur Gendered Intelligence -sebuah organisasi yang membantu kalangan muda transgender- mengatakan umumnya kehidupan mereka akan lebih sukar selama masa pubertas.
Namun, bantuan sosial, psikologis dan fisiologis bisa membantu mereka melalui masa-masa sulitnya.
“Kesulitan-kesulitan seperti itu tidak mempengaruhi kaum transgender, namun memang beberapa remaja mengisahkan bagian tubuh mereka berkembang dengan cara yang tidak diinginkan.
"Berbagai layanan, seperti sekolah-sekolah, harus menyadari bahwa perubahan-perubahan yang terlihat akibat pubertas ini bisa menyebabkan stres karena kita tahu bahwa hal itu akan berdampak pada cara kita diperlakukan dalam masyarakat."
Mimpi-mimpi buruk
Anak perempuan lain yang kami temui pada Januari lalu adalah Jessica –juga bukan nama sebenarnya– dia kini berusia sembilan tahun. Sudah dua bulan dia bersekolah dan menjadi “seorang anak perempuan”.
Dia mengungkapkan kegembiraannya saat menindik telinganya, seperti yang dilakukan para anak perempuan lainnya. "Saya hanya ingin terlihat seperti seorang gadis dan saya ingin melakukannya langsung," katanya.
Namun, orang tuanya mengatakan dia mulai menemui kesulitan dalam hidupnya.
Sang ibu, Ella menjelaskan, "Ini merupakan tahun yang sangat baik, dia bersekolah dengan baik, dan kini dia bisa mengubah namanya [menjadi Jessica] secara hukum, karena kami sudah mendapat izin dari ayahnya.
"Tapi dia mengalami berbagai mimpi buruk, dia mengatakan dirinya akan mati sebagai seorang pria, dia akan memiliki janggut. Dia mulai meminta penghalang hormon."
Ayah tirinya menambahkan, "Anak-anak merasa bahwa sesuatu akan terjadi secara instan, dia pikir saat dirinya bangun tidur, sesuatu akan langsung terjadi pada mereka."
Jessica mengakui sulit mengendalikan emosi ketika orang-orang masih menganggapnya sebagai seorang anak laki-laki dan lupa memperlakukannya sebagai seorang gadis.
"Saya sedikit kesal dan marah karena saya tidak menyukainya," katanya. Dia mengatakan dia menanti saat di mana gendernya tidak lagi dipersoalkan.
"Saya tidak ingin menjadi seorang anak laki-laki selamanya, karena saya akan menjadi seorang gadis dan saya tahu itu. Walaupun kadang-kadang tidak merasa seperti itu."
Orang tua Lily mengatakan dia tampak bahagia dan belum berpikir secara mendalam tentang masa depannya. Namun hal itu juga merupakan tahun besar bagi keluarganya.
Lily, yang sudah meminta untuk hidup sebagai seorang gadis selama beberapa tahun, menguasai laju perubahan dengan mengatakan dia ingin dikenal sebagai seorang gadis di sekolahnya. "Dia hanya tinggal berjalan dengan semua itu," kata ibunya Jen.
Keluarganya sudah beberapa kali mengadakan pertemuan dengan pihak sekolah untuk merencanakan transisi.
Lalu, pada hari dia mengenakan rok untuk pertama kalinya, kepala sekolah Lily memimpin upacara sekolah dan menjelaskan untuk menerima perbedaan.

Sumber gambar, Lilys Parents
Menerima perubahan
Untuk Jen, itu adalah momen yang emosional. "Rasanya seperti hari yang benar-benar penting, sebuah hari resmi di mana tidak ada lagi anak laki-laki dan kini kami memiliki seorang gadis."
Kakak Lily yang berusia sembilan tahun pertama kali melihat dia berbeda saat dirinya ingin membeli gaun merah muda dan bermain dengan boneka dan peri. Tapi kini dia mengatakan hubungan mereka "normal".
Keduanya bersekolah di SD yang sama, dia mengatakan orang-orang di sana"baik-baik saja dengan kondisi itu sekarang".
"Sebelum kami melaksanakan upacara, mereka (siswa-siswa lainnya) biasanya menanyakan kepada saya,‘mengapa ‘benda-benda dan hal-hal lain’ yang dimiliki adik kamu seperti anak perempuan?
Saya lalu menjawab, 'karena itulah cara dia '.
Saya sangat bangga dengan apa yang sudah dia lalui, dia melewatinya dengan sangat baik saat ini dan tidak ada satu pun siswa yang mengganggu atau apa pun, jadi semuanya baik-baik saja," katanya.
Kehidupan pribadi juga Jessica mengalami perubahan besar.
Orang tua kandungnya berpisah dan ibunya menjalin hubungan dengan wanita lain, Alex, sejak dia masih bayi. Pada bulan Februari 2015, Alex juga memutuskan untuk beralih menjadi seorang pria.
"Saya tidak ingin melakukan apa-apa sampai saya merasa bahwa Jessica dan keluarga berada di tempat yang lebih stabil. Saya pikir sekarang adalah waktu yang saya butuhkan untuk menjadi lebih jujur pada diri sendiri," dia menjelaskan.
"Saya sudah cukup banyak merasakan hal yang sama seperti Jessica, tapi saya tidak akan bisa memahami atau mengetahui sampai saya mengkaji apa yang terjadi dengan Jessica. Lalu, saya bisa langsung mengetahuinya sendiri."
Tapi pasangan itu tidak yakin bahwa masa transisi yang dialami Alex telah mempengaruhi Jessica.
Sebagian orang mungkin berpikir ini hanyalah sebuah fase, dari masa pertumbuhan anak-anak. Ibu Lily, Jen, mengatakan sulit bagi orang-orang untuk memahami kecuali mereka pernah tinggal dengan anak dalam situasi yang sama.
"Ini adalah sebuah kondisi medis, itu bukan pilihan, itu adalah kondisi bagaimana mereka dilahirkan. Anda bisa mengetahui dari orang-orang yang melalui masa transisi pada masa remaja. Mereka mengatakan bahwa mereka sudah mengetahui sejak usia dini.
"Kami hanya mencoba untuk membantu anak-anak kami sehingga mereka bisa memiliki lagi kehidupan yang mereka inginkan," katanya.









