Ridwan Sumantri, pria yang kehilangan kedua kakinya dan bangkit
- Penulis, Christine Franciska l @cfranciska
- Peranan, Wartawan BBC Indonesia

Sumber gambar, Muhammad Taufiq
Lahir di keluarga kurang mampu, Ridwan Sumantri sejak kecil rajin berjualan plastik dan bekerja di pabrik demi melanjutkan sekolah, hingga suatu saat sebuah kecelakaan memaksanya hidup berkursi roda, mengubur cita-cita sang juara kelas itu.
Berjuang melawan diskriminasi, Ridwan bangkit menjadi simbol perjuangan kaum disabilitas, mendirikan komunitas jelajah kota, dan menggugat maskapai penerbangan yang tak ramah bagi mereka.
Kepada wartawan BBC Indonesia, Christine Franciska, Ridwan menceritakan kisah hidupnya:

Sumber gambar, Ilustrasi Muhammad Taufiq
Saya lahir di Sukabumi, tepatnya di Kampung Selakopi, 17 Agustus 1980. Bisa dibilang saya lahir dari keluarga tidak mampu, karena dari cerita ibu, saat umur satu bulan, kami sudah ditinggal bapak. Jadi ibu yang menghidupi saya sendirian sebelum akhirnya menikah lagi ketika usia saya dua tahun.
Perjuangan saya dari kecil memang sudah dimulai. Karena faktor ekonomi keluarga, saya kelas 3 SD sudah berjualan es mambo dan setelah pulang sekolah biasa membantu ibu di kebun.
Sampai lulus SD pun saya tidak langsung melanjutkan ke SMP, saya mencari uang setahun untuk bisa sekolah tahun depannya. Saya pernah jualan kantong keresek di Pasar Pelita, Sukabumi. Sampai setelah enam bulan jualan, saya ketemu paman yang kerja di pabrik dompet, saya ikut kerja di sana, siang malam, di usia 13 tahun.
Saya merasakan sendiri bagaimana berjuang sendiri tanpa mengandalkan keluarga. Dengan saya bekerja, saya membantu ibu, untuk ekonomi keluarga. Di tahun 1992-1993, penghasilan saya terhitung luar biasa, Rp35.000 per dua minggu.
Saya cukup bangga ya, tahun ajaran berikutnya saya bisa masuk SMP dan semua seragam, buku, saya beli sendiri dari tabungan saya setahun. Saya tidak malu walaupun saya sekelas dengan adik-adik kelas. Guru-guru saya pun bangga, karena kebetulan dari SD kelas 1 sampai 6 saya juara kelas. Guru-guru sempat kecewa waktu saya tidak melanjutkan sekolah dulu.
- <link type="page"><caption> Kisah Shandra Woworuntu, WNI korban perbudakan seks di Amerika</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/04/160330_majalah_sandra_korban_perbudakan_seks" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Kisah Kokom, ibu 10 anak yang mencari jalan keluar dari 'lingkaran setan'</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/10/150707_trensosial_pengemis_komik?ocid=socialflow_facebook" platform="highweb"/></link>
Setelah pulang sekolah, saya tetap bekerja di pabrik dompet. Tapi setelah ada pengurangan karyawan, saya beralih menjadi kenek angkot. Nah, yang lucunya, saat jadi kenek, guru-guru saya yang jadi penumpang juga.
Suatu saat, di keluarga saya ada masalah. Ibu dan suaminya yang kedua bertengkar sehingga saya memutuskan untuk keluar dari rumah dan tinggal di tempat Ibu Neneng, pemilik sekolah yang juga pengelola yayasan. Saya berprestasi dan aktif di yayasan sehingga kenal dekat dengan beliau, yang kemudian saya anggap sebagai ibu angkat.
Tapi, masalah di keluarga membuat saya terguncang sehingga saya memutuskan berhenti sekolah. Daripada kerja tidak jelas, saya akhirnya diajak ke Subang untuk bantu-bantu keponakan ibu angkat yang baru pindah dinas. Itu usia saya 18 tahun, dan akhirnya melanjutkan sekolah di sana.
'Dibanting, diinjak, disiram'
Ini mungkin jalan dari Tuhan: di Subang di usia 19 tahun saya jatuh dari pohon kelapa.
Sudah jadi kebiasaan setiap hari Minggu, saya dan keluarga angkat saya di sana pergi mengambil panen di kebun. Kami memetik pisang, nangka dan rambutan waktu itu. Terakhir karena haus, kami berencana minum air kelapa muda dan saya yang memanjat.

Sumber gambar, Muhammad Taufiq
Saya memang dikenal jago manjat. Beberapa menit sebelum saya jatuh saya bahkan sempat dengar di bawah ada orang berceletuk, "Si Ridwan itu manjatnya kayak monyet beneran." Tak sampai satu menit sudah sampai atas.
Ketika saya ingin menjatuhkan kelapa yang ketiga, tiba-tiba kepala saya kunang-kunang. Gelap. Saya tidak sadar waktu jatuh, tiba-tiba sudah digotong ke rumah sakit. Kata orang yang melihat, saya jatuh dalam posisi duduk jadi tulang belakang saya tempurungnya keluar dan syarafnya terganggu. Kecelakaan itu membuat bagian perut ke bawah lumpuh. Tidak terasa, baik sensorik dan motorik.
Dalam keadaan itu, saya dibawa kembali ke Sukabumi. Orang tua angkat meminta saya dirawat di rumah sakit, tapi keluarga saya memilih pengobatan di kampung-kampung.
Tahun pertama lebih banyak saya habiskan di kampung orang. Pergi ke kampung ini dan kampung yang lain untuk berobat. Saya depresi waktu itu, karena banyak metode yang menurut saya tidak manusiawi. Saya dibanting, diinjak, dan disiram dengan air yang begitu banyak. Dan, saya menahan sakit yang luar biasa.

Sumber gambar, Muhammad Taufiq
Pengobatan dilakukan dua kali selama satu minggu, menghadapi hari-hari itu saya selalu kecut duluan. Takut. Hingga akhirnya saya bilang saya capek, saya tidak mau (berobat) seperti ini lagi. Saya tidak masalah dengan kondisi, kita sudah berusaha. Saat-saat terakhir itu, badan saya hanya tulang saja.
Karena pengobatan itu, kata dokter, tulang punggung makin rusak. Saya selalu bilang ke teman-teman yang baru jangan sampai berobat ke kampung-kampung, ke dokter saja dan fokus bagaimana cara mandiri. Bukan saya anti pengobatan altematif itu, tetapi pengalaman saya, itu menyiksa diri sendiri dan menghabiskan uang.
"Saya tidak akan tinggal diam"
Saya kemudian pindah ke Jakarta dengan bantuan tetangga di Sukabumi. Saya tinggal di Panti Pondok Bambu, belajar kerajinan, dan akhirnya bisa bekerja di sebuah yayasan.
Ketika saya ditugaskan ke Denpasar saya terbang dengan satu pesawat. Jam 11.00 WIB saya sudah sampai bandara untuk penerbangan 13.05 WIB. Saya sudah minta untuk bangku paling depan karena saya berkursi roda. Tetapi, saya diberi urutan 35C.
Berangkat bersama seorang peneliti yang mendampingi, kami menuju ke ruang tunggu. Di sana saya minta ganti kursi, tetapi petugas tidak mau proses. "Ada yang antar saya ke pesawat?" saya bertanya. "Ada," katanya.

Sumber gambar, Muhammad Taufiq
Setelah menunggu, ternyata boarding-nya pindah dari ruang A5 ke A1. Saya bingung karena yang lain sudah pada keluar. Saya bingung tidak ada petugas untuk membantu saya. Saya tahu saya akan kesulitan. Menjelang naik pesawat, saya menyadari semua penumpang turun tangga menuju pesawat, tidak ada gabarata.
"Pak Mohon maaf kalau untuk saya ada lift atau tidak?" saya tanya satu petugas pesawat. "Oh saya tidak tahu, Pak," kata petugasnya.
Saya agak marah waktu itu karena petugas maskapai tidak tahu ada fasilitas apa untuk saya. "Bapak tidak tahu ada fasilitas apa untuk saya?"
"Tidak tahu," katanya. Aduh gimana ini? Saya tanya lift tidak tahu di mana? Dia tidak siap melayani pelanggan dengan disabilitas yang kebutuhannya berbeda. Akhirnya, saya meminta bapak itu mencari teman untuk membantu saya turun. Dia cari, tiga menit kemudian dia bilang tidak menemukan. "Sedang sibuk," katanya.
Akhirnya saya mengatakan, "Pak, bapak bantu saya pegangin saya dari belakang, saya mundur (dengan kursi roda) bapak tahan saja." Itu sekitar 30 menit, karena lumayan banyak anak tangganya.
- <link type="page"><caption> Yanti Musabine, yang menyelamatkan harimau dalam sepi dan putus asa</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/03/160321_majalah_harimau_sumatera" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Kisah ibu-ibu 'dusun miskin' yang menanam tanaman liar di Jombang</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/05/160516_trensosial_getinspired_hayu_diah?ocid=socialflow_twitter" platform="highweb"/></link>
Setelah turun tangga ada masalah kedua: naik tangga ke pesawat. Itu kecil sekali ukurannya sehingga tidak mungkin bisa sendiri. Pramugari sudah pada teriak-teriak untuk minta saya dibantu. Akhirnya petugas parkir pesawat ikut bantu, mengangkat kursi roda saya.
Di kabin, bingung lagi, tempat duduk saya di tengah. "Aduh jauh," kata pramugarinya, "ini gimana sih yang kasih seat?".
Mau tidak mau saya harus digendong. Nah, masalahnya ketika digendong, orang semua sudah masuk. Kaki saya menjuntai, sangat mengganggu, sangat tidak nyaman bagi saya, setiap lewat saya selalu minta maaf sama penumpang lain takut terbentur kaki saya ke kepala mereka.
Penderitaan saya tidak selesai sampai situ, pramugari menyodori surat pernyataan sakit, bahwa jika ada sesuatu terjadi. Ini kesepakatan antara para penyandang disabilitas, kami memang sudah tidak mau tanda tangan itu karena disabilitas bukan penyakit, kami hanya butuh fasilitas yang berbeda. Tapi empat kru pesawat menekan saya menandatangani itu, dua laki-laki, dua perempuan.
Tidak ada aturan hukum yang mengharuskan saya menandatangani itu, tetapi mereka mengatakan ini adalah perintah pilot, jika tidak mau, saya diminta turun. Saya mau saja turun, tetapi saya ada pekerjaan esok hari di Denpasar. Akhirnya saya terpaksa tanda tangan, tetapi saya bilang ke mereka, "mbak, mas, mungkin peristiwa ini akan Anda ingat, saya tidak akan tinggal diam."

Sumber gambar, Muhammad Taufiq
Malamnya di Denpasar saya langsung buat kronologi dan mengirim surel ke Komnas HAM. Saat pulang dari Denpasar, saya ketemu dengan Happy Sebayang, pengacara yang juga disabilitas. Dia yang langsung buat gugatan, dan langsung ke Pengadilan Negeri. Tahun 2012 kita menang, tetapi maskapai minta banding. Di Pengadilan Tinggi menang juga, lalu kasasi, di Mahkamah Agung kita menang juga.
Saya senang, bahwa apa yang mereka lakukan itu salah. Argumen kami dibenarkan oleh hakim. Kenyataannya seperti itu, kami tidak mengada-ngada. Ini membuktikan maskapai tidak boleh semena-mena.
Kami sering dianggap minoritas dan hak kami disepelekan. Kalimat yang sering terlontar adalah, "jangankan yang disabilitas, ngurus yang lain aja susah."
Tetapi bagi kami yang sudah melek hukum, kami tidak akan menyerah dengan pernyataan-pernyataan yang mengaburkan hak kita. Pemerintah sudah mengakui, hanya aplikasi di tingkat lapangan. Beberapa kasus, saya ketika naik pesawat, saya berargumen pada mereka untuk tidak mau menandatangani surat pernyataan sakit.
"Meminjam mata saya"
Saya orangnya sering jalan. Pada tahun 2012, saya dan tiga orang disabilitas lain sama-sama suka jalan dan membentuk komunitas Jakarta Barrier Free Tourism, kegiatannya berkeliling kota Jakarta dengan transportasi umum, jalan ke museum, taman-taman, sampai Bogor hingga Bandung.
Saya sering jalan bersama Jaka Ahmad, seorang tunanetra. Saya kolaborasi dengan dia, dia 'pinjam' mata saya dan dia mendorong saya. Di komunitas ini banyak sekali yang kami temukan, membuat saya ingin nangis, semua ingin teriak.
Lift di Stasiun Kota yang tidak bekerja misalnya, sehingga kami harus berjuang meyakinkan petugas untuk membantu kami naik. Banyak hal-hal seperti itu yang membuat kita menangis juga. Trotoar yang mudah itu hanya di Sudirman-Thamrin, meski sekarang banyak patok yang menghalangi agar motor tidak bisa lewat.
Saya sering membayangkan kehidupan yang berbeda. Jika suatu saat fasilitas umum disabilitas di Indonesia baik, saya ingin sekali pergi ke taman, membuka laptop saya dan menulis. Sesederhana pergi ke bioskop atau sekedar mengobrol dengan kawan di tempat makan.
Saya berharap perjuangan saya dan kawan-kawan untuk fasilitas yang lebih baik bisa mendatangkan hasil di masa depan, bahwa generasi mendatang tidak perlu merasakan seperti ini….
Tetapi, sekarang saya sekarang merasa frustrasi. Apa yang disampaikan ke pemerintah tampaknya belum berbuah hasil.









