Holywood 'rabun terhadap perempuan, LGBT dan minoritas'

Orange is the New Black

Sumber gambar, AP

Keterangan gambar, Orange is the New Black dianggap seri yang turut mempelopori keberagaman di televisi.

Hollywood mengidap "penyakit rabun" terhadap perempuan, minoritas dan kaum LGBT, dan itu mewabah di seluruh industri, sebuah studi baru meneybutkan.

Laporan yang disusun University of Southern California itu menyebut, Hollywood mengalami "krisis" tentang keberagaman mulai dari CEO, pimpinan tertinggi perusahaan hingga peran-peran kecil.

"Secara keseluruhan, lanskap konten media masih bersaput putih," simpul studi itu.

Laporan itu diluncurkan menjelang penganugrahan hadiah Oscar, yang dijuluki OscarsSoWhite, atau OscarBegituPutih.

Minimnya keragaman dalam nominasi Oscar membuat <link type="page"><caption> Spike Lee dan Jada Pinkett Smith memboikot acara</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/01/160122_majalah_oscar_viola_davis" platform="highweb"/></link>, dan pimpinan Oscar, Cheryl Boone Isaacs berjanji untuk melipatgandakan <link type="page"><caption> jumlah anggota perempuan dan minoritas</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/01/160119_majalah_film_oscar" platform="highweb"/></link> di Academy Awards -nama resmi Oscar.

Spike Lee

Sumber gambar, .

Keterangan gambar, Sutradara Spike Lee memutuskan untuk memboikot malam penyerahan Oscar 2016.

Minimnya transgender, perempuan dan minoritas etnik

"Kelanjutan dari OscarsSoWhite adalah HollywoodSoWhite -HolywoodBegituPutih," kata profesor Stacy Smith, salah satu penyusun studi tersebut.

"Kita tidak memiliki masalah keberagaman. Kita menderita krisis inklusivitas."

Laporan yang disusun Media, Diversity and Social Change Initiative (Media, Keanekaragaman dan Prakarsa Perubahan Sosial) itu mencatat, dari 414 film dan serial TV, hanya sepertiga dari tokoh yang berbicara di dalamnya adalah perempuan.

Sekitar 50% tidak memiliki satupun peran Asia atau Asia-Amerika dan 20% tidak melibatkan peran kulit hitam.

Oscar 2013: Aktris kulit hitam Lupita Nyong'o, dengan sutradara Steve McQueen, untuk film 12 Years of Slave.

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Oscar 2013: Aktris kulit hitam Lupita Nyong'o, dengan sutradara Steve McQueen, untuk film 12 Years of Slave.

Peran berusia 40 tahun atau lebih, menampilkan 74,3% laki-laki dan 25,7% perempuan.

Di antara 11.306 peran yang berdialog, hanya tujuh yang transgender (dan empat dari tujuh itu dari seri yang sama).

Di belakang layar, perempuan hanya meliputi 15,2% dari direksi, 28,9% dari penulis dan 22,6% dari pencipta seri TV.

Dalam film, kesenjangan gender adalah yang terbesar, dengan hanya 3,4% film yang disutradarai oleh perempuan.

Kesenjangan terbesar

Ini mencerminkan lagi sebuah laporan yang dirilis pada bulan Januari oleh Centre for the Study of Women in Television and Film (Pusat Studi Perempuan di Televisi dan Film) yang mencatat hanya 9% dari film terlaris Hollywood tahun lalu yang disutradarai oleh perempuan -sebagaimana tahun 1998.

Cheryl boone isaacs

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Cherl Boone Isaacs mengumumkan nominasi Oscar 2016 -yang disorot dan lalu dijuluki OscarSoWhite.

Pada bulan Mei, American Civil Liberties Union di Southern California meminta lembaga-lembaga hak-hak sipil federal dan negara bagian untuk menyelidiki persoalan sistemik tentang langkanya penunjukkan sutradara perempuan di semua tingkatan dari industri film dan televisi.

Dan pada bulan Oktober, Equal Employment Opportunity Commission (Komisi Kesetaraan Kesempatan Kerja) AS mulai menghubungi para sutradara perempuan untuk menyelidiki diskriminasi gender di Hollywood.

Studi terbaru ini mencatat hanya dua dari 109 sutradara yang merupakan perempuan kulit hitam yaitu Ava Duvernay, yang menangani Selma, dan Amma Asante, yang menyutradarai Belle.

Studi itu juga untuk pertama kalinya memapar "indeks inklusivitas" dari 10 perusahaan media besar yang mencatat persentase peran perempuan, minoritas dan LGBT dan penulis serta sutradara perempuan.