Ketika warga dusun di Jeneponto menanti sebuah jembatan

Sumber gambar, Sofyan Syamsul

Dusun Biring Jene dan Dusun Talangbua di Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, dipisahkan oleh sungai selebar sekitar 80 meter.

Tak ada jembatan yang menghubungkan dua dusun itu dan warga membutuhkan waktu hingga 1,5 jam berkendara untuk memutar sampai ke seberang.

Ini menyebabkan sejumlah warga termasuk guru dan anak sekolah basah kuyup karena harus menyeberang sungai untuk memulai aktivitas mereka.

Cerita tentang apa yang terjadi di dusun ini terangkat setelah muncul berita tentang anak-anak sekolah yang terpaksa menyeberang sungai saat menuju sekolah di media online dan televisi.

Warga Dusun Biring Jene sangat berharap suatu saat akan ada jembatan untuk memudahkan aktivitas. Inilah harapan mereka.

_____________________________________________________________

Sumber gambar, Sofyan Syamsul

Budiman duduk di kelas 4 Madrasah Ibtidaiyah (MI) Mangepong yang terletak di Dusun Biring Jene, Desa Magepong.

Untuk mencapai sekolah, dia harus menyeberang dua sungai dengan jarak tempuh 30 menit berjalan kaki.

"Kalau airnya tinggi, (saya) terpaksa bermalam di rumah nenek yang tinggalnya di dekat sekolah," katanya yang tinggal di Dusun Aung, yang dekat dengan Dusun Talangbua.

Bagaimana jika diantar naik motor? Perjalanannya bisa memakan waktu dua kali lebih lama, yaitu sekitar satu jam.

_____________________________________________________________

Sumber gambar, Sofyan Syamsul

"Rugi. Pergi ke pasar kalau tidak ada jembatan rugi. Jauh anu toh pasar," kata Matang, 30 tahun, warga Dusun Biring Jene.

_____________________________________________________________

Sumber gambar, Sofyan Syamsul

"Guru-guru sebagian besar dari dusun sebelah (Dusun Talangbua). Kadang kalau musim hujan itu kami tidak bisa pergi mengajar atau kebanyakan terlambat tiba ke sekolah karena harus memutar jauh sekali. Kadang kalau airnya dalam, siswa yang tinggal di dusun sebelah menginap di rumah keluarganya yang di dusun sini," kata Fatimah, guru MI Magepong, Desa Biring Je'ne.

"Saya dulu sempat jatuh karena ke sekolah harus naik motor. Sekarang saya lebih pilih menyeberang saja walaupun tidak ada sepatu yang bisa bertahan lebih sebulan karena air. Kadang kami guru-guru ini malu karna datang ke sekolah basah-basah. Hahahaha..."

"Jembatan itu kami perlukan sekali. Bukan cuma untuk sekolah ini saja, tapi, juga buat masyarakat sekitar sungai ini. Kalau disuruh memilih antara jalanan beraspal sama jembatan, kami lebih pilih jembatan. Itu jalanan biar jadi jalanan petani saja, tidak apa-apa. Tidak usah diaspal."

_____________________________________________________________

Sumber gambar, Sofyan Syamsul

"Soal jembatan, tidak baik kalau tidak ada. (Karena) kalau motor rusak begini, bagaimana bisa lewat. Tidak bisa jalan," kata Caming, 33 tahun.

_____________________________________________________________

Sumber gambar, Sofyan Syamsul

"100% perlu. Bagus ada jembatan buat menyeberang anak sekolah toh? Guru-guru juga menyeberang ke sana. Kalau banjir tidak bisa menyeberang. Kita juga masyarakat kalau pergi ke pasar tidak bisa. Lumpuh total kalau airnya naik tidak ada aktivitas di sini," kata Niar, 31 tahun.

Dari Makassar, butuh sekitar 3,5 jam berkendara hingga sampai di dusun ini. Kebanyakan warga mencari uang dengan menjadi petani jagung.

_____________________________________________________________

Sumber gambar, Sofyan Syamsul

Fauziah, siswa kelas 4, Madrasah Ibtidaiyah (MI) Mangepong yang tinggal di Dusun Aung mengatakan, "Sebenarnya tidak apa-apa harus menyeberang sungai tiap ke sekolah karena menyenangkan. Tapi, kalau ada jembatan, selain ke sekolah bisa lebih cepat, mau ke pasar juga bisa lebih terjangkau."

_____________________________________________________________

Sumber gambar, Sofyan Syamsul

"Saya sudah lama harap ada jembatan di sini. Karena otomatis anak-anak yang tinggalnya dekat dari dusun ini pasti sekolahnya di sini. Seperti di Dusun Talangbua, yang memisahkannya dari sekolah ini kan ya, itu sungai," jelas Amiruddin, Kepala Sekolah Madrasah Ibtidaiyah (MI) Mangepong.

"Di dusun itu ada 40 rumah dan hampir semua anak-anak di sana tidak ada yang sekolah karena orang tuanya takut biarkan anaknya menyeberang sungai. Mending berkebun saja. Jadi petani."

Foto-foto oleh fotografer di Makassar, Sofyan Syamsul, yang berkunjung ke Dusun Biring Jene.