Mengapa Anda perlu mematikan kamera selama rapat virtual?

Sumber gambar, Getty Images
- Penulis, Fernando Duarte
- Peranan, BBC World Service
Pertemuan virtual telah menjadi cara penting bagi orang untuk berkomunikasi, berkolaborasi, dan bersosialisasi selama pandemi Covid-19.
Namun, tim peneliti AS menunjukkan ledakan dalam penggunaan teknologi rapat virtual ini berdampak negatif terhadap lingkungan, meskipun ada penurunan emisi karbon global secara umum pada tahun 2020 akibat aturan lockdown dan pembatasan perjalanan sejak virus corona melanda lebih dari setahun yang lalu.
Para ahli dari Purdue University, Yale University dan Massachusetts Institute of Technology memberikan saran yang mungkin bisa membantu.
Dalam makalah yang diterbitkan dalam jurnal Resources, Conservation and Recycling, para peneliti menyarankan untuk mengadakan pertemuan virtual dengan suara saja karena secara substansial itu dapat mengurangi jejak karbon, air, dan tanah dari aktivitas online.
Mereka memperkirakan bahwa satu jam konferensi video atau streaming video bisa menghasilkan antara 150 hingga 1.000 gram karbon dioksida dan membutuhkan hingga 12 liter air.
Mereka menghitung bahwa dengan mematikan kamera selama rapat virtual, akan ada pengurangan 96% pada jejak karbon dan air.
"Teknologi digital akan terus ada dan membantu banyak orang, terutama di saat-saat seperti ini," kata Kaveh Madani, seorang profesor Ilmu Lingkungan di Universitas Yale dan salah satu penulis studi kepada BBC.
"Tetapi studi kami menunjukkan pentingnya memperhatikan bagaimana kita dapat mengurangi dampak lingkungannya," tambahnya.

Bagaimana rapat virtual memengaruhi lingkungan?
Setiap kali kita online, baik untuk mengecek pesan, melakukan pencarian atau menggunakan media sosial, hal itu membutuhkan pengolahan data.
Pengolahan data ini menggunakan listrik, yang berdampak antara lain pada emisi karbon.
Pada tahun 2019, perusahaan think-tank The Shift Project yang berbasis di Paris, yang didukung oleh pemerintah Prancis, merilis perkiraan bahwa teknologi digital bertanggung jawab atas hampir 4% emisi gas rumah kaca global pada tahun 2018, jumlah yang sama dengan industri penerbangan sebelum pandemi.

Sumber gambar, Getty Images
Selama pandemi, lalu lintas internet telah melonjak di seluruh dunia akibat pembatasan pergerakan, yang pada gilirannya menyebabkan lebih banyak konsumsi data.
Salah satu perhatian khusus para ahli yang mempelajari jejak karbon internet adalah dengan masalah pusat data.
Pusat data adalah ruang yang sangat besar, yang digunakan oleh perusahaan untuk menyimpan data mereka. Fasilitas ini menjadi lebih populer dengan kemajuan komputasi cloud. Pusat data memerlukan listrik dalam jumlah besar untuk beroperasi.
Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan pada 2019 bahwa pusat data di seluruh dunia hanya memakan sekitar 1% dari penggunaan listrik global.
Namun, badan itu mencatat bahwa permintaan dan dampak lingkungan di tingkat nasional dan lokal bisa lebih parah - terutama di negara-negara di mana pembangkit listrik sangat bergantung pada bahan bakar fosil.

Sumber gambar, Getty Images
"Para sarjana menyebut pusat data 'pabrik masa depan' karena suatu alasan," kata Alexander Taylor, antropolog Universitas Cambridge yang mempelajari dampak lingkungan dari industri teknologi.
"Lalu lintas internet adalah metafora yang sangat tepat untuk penggunaan internet ini karena mendorong kita untuk memikirkan aktivitas ini dalam kaitannya dengan asap yang kita asosiasikan dengan lalu lintas kendaraan."
"Kita perlu mulai memikirkan asap yang dihasilkan oleh pusat data yang memfasilitasi aktivitas online kita," tambahnya.
Tentunya tidak semuanya berita buruk?

Sumber gambar, Getty Images
Kaveh Madani mengatakan bahwa tujuan utama dari studi baru ini adalah untuk meningkatkan kesadaran tentang dampak dari penggunaan teknologi digital yang terus meningkat - bukannya untuk menghakiminya.
"Kami tidak mengatakan bahwa konferensi video - atau aktivitas online lainnya - itu buruk. Rapat Zoom masih lebih baik daripada orang yang mengemudi atau terbang untuk bertemu," kata Madani.
"Tapi teknologi ini meninggalkan jejak. Teknologi ini tidak netral karbon dan banyak orang tidak mengetahuinya. Penyedia layanan atau perusahaan teknologi juga tidak memberitahu soal itu," kata akademisi itu.
Madani mengatakan bahwa ia telah mengikuti banyak pertemuan virtual dan melihat bahwa seringkali hanya ada satu orang yang berbicara, tetapi semua kamera peserta menyala.
"Ini tidak perlu," Madani menjelaskan.
Referensi langsung ke Zoom bukannya tidak disengaja.
Platform konferensi video ini adalah contoh keberhasilan selama pandemi.

Sumber gambar, Getty Images
Jumlah pengguna hariannya meroket dari 10 juta menjadi lebih dari 300 juta antara Desember 2019 dan Desember 2020, menurut angka yang dirilis oleh perusahaan.
Tetapi menurut studi baru ini - zoom bukanlah yang terburuk.
Jadi, aplikasi mana yang memiliki emisi terbesar?
Tim peneliti AS menganalisis sejumlah aktivitas internet dan mengidentifikasi aktivitas yang memiliki gabungan jejak karbon terbesar.
Mereka menemukan bahwa platform streaming video seperti YouTube dan Netflix sejauh ini memiliki jejak ekologis yang diperkirakan paling tinggi.

Mereka juga menilai dampak dari aktivitas populer lainnya seperti penggunaan media sosial, gim online, dan penjelajahan web.
Apa yang bisa kita lakukan?
Kaveh Madani ingin menggarisbawahi bahwa studi Purdue / Yale / MIT tidak dirancang untuk menyorot aktivitas internet tertentu atau mengecilkan manfaatnya bagi pengguna.
"Perhatian kami valid dan ada kebiasaan yang bisa kita ubah untuk mengatasi dampak lingkungannya," tandasnya.
"Kami sama sekali tidak berpikir bahwa tekanan harus diberikan pada pengguna. Regulator dan pemilik bisnis, semuanya dapat melakukan sesuatu, dimulai dengan bersikap transparan kepada orang-orang."

Sumber gambar, Getty Images
"Tidak ada jaminan bahwa orang akan mengubah kebiasaan jika mereka mendapatkan informasi, tapi saya jamin tidak akan ada perubahan tanpa informasi," kata profesor itu.
Dalam studi tersebut, Madani dan rekan-rekannya memperkirakan kekuatan aksi kolektif.
Dalam kasus konferensi video, mereka menghitung bahwa seseorang yang mengadakan pertemuan 15 jam seminggu dengan kamera menyala akan menghasilkan 9,4kg karbon dioksida.
Dengan hanya mematikan video, para peneliti mengklaim bahwa emisi akan berkurang hingga kurang dari 400g.

Kiat untuk menjadi lebih ramah lingkungan saat online, meliputi:
- Matikan kamera Anda saat rapat daring ketika Anda tidak sedang berbicara
- Hapus email yang tidak diinginkan
- Jangan selalu menonton video dalam kualitas HD

Jika satu juta pengguna membuat perubahan ini, mereka akan mengurangi produksi emisi yang setara dengan energi yang dihasilkan batu bara untuk konsumsi listrik sebuah kota berpenduduk 36.000 orang selama satu bulan.
Apa yang dilakukan raksasa teknologi untuk mengatasi ini?
Seorang juru bicara Zoom mengatakan kepada BBC bahwa perusahaan tersebut melakukan penelitian pada tahun 2019 yang menunjukkan pengurangan jejak karbon yang signifikan dari orang yang menggunakan rapat virtual sebagai pengganti perjalanan bisnis.
"Kami yakin komunikasi video yang mulus dapat memberikan kontribusi yang berarti dalam mengatasi krisis iklim dengan memungkinkan orang untuk berkomunikasi, terhubung, dan berkolaborasi secara efektif tanpa harus melakukan perjalanan yang tidak perlu," kata juru bicara itu.
"Kami berkomitmen untuk meminimalkan dampak [karbon] kami sendiri terhadap lingkungan, dengan melihat segala sesuatu, mulai dari cara kami mengelola fasilitas hingga cara kami mengurangi efek perubahan iklim di komunitas kami."

Sumber gambar, Getty Images
Seorang juru bicara Google mengatakan kepada BBC bahwa perusahaannya telah mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mengurangi jejak ekologisnya.
"Kami adalah perusahaan besar pertama yang mencocokan penggunaan energi kami dengan 100 persen energi terbarukan mulai 2017," kata juru bicara itu.
"Setiap email yang Anda kirim melalui Gmail, setiap pertanyaan yang Anda ajukan di Google Meet, dan setiap video YouTube yang Anda tonton sudah bebas karbon dari pusat data kami."
Dalam laporan terbarunya tentang kebijakan lingkungan di tahun 2019, Netflix menyatakan telah mengatasi masalah energi yang digunakan secara global untuk memberikan layanannya dengan mendukung proyek energi terbarukan di 15 negara bagian AS dan 20 negara lain.
Dan Facebook, pemilik WhatsApp dan Instagram, mengatakan bahwa mereka bertujuan untuk mencapai nol emisi karbon pada tahun 2030 dan bahwa operasi global perusahaan "100% didukung oleh energi terbarukan" tahun lalu.
Tidak diragukan lagi kita akan menghabiskan lebih banyak waktu dan hidup kita secara online, terutama karena lockdown akibat pandemi terus berlanjut.
Tetapi jika Anda benci berada dalam kuis keluarga atau rapat tim di zoom yang membuat Anda takut, maka mungkin sekarang ini Anda memiliki alasan yang tepat untuk tidak menyalakan kamera.
Anda bisa menjawab, "Maaf, saya tidak bisa. Saya membantu menyelamatkan lingkungan."









