Sriwijaya Air SJ182: 'Kemarin masih tertawa bersama, hari ini dia tiada' - Bagaimana cara keluarga korban bisa melewati masa kedukaan?

Sriwijaya Air SJ182

Sumber gambar, ANTARAFOTO/NOVA WAHYUDI

Keterangan gambar, Salah satu keluarga penumpang pesawat Sriwijaya Air SJ182 dalam prosesi pemakaman
    • Penulis, Muhammad Irham
    • Peranan, BBC News Indonesia

Pencarian penumpang Sriwijaya Air nomor penerbangan SJ182 dihentikan, Kamis (21/01). Dari 62 penumpang dan awak pesawat, tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri mengidentifikasi 49 jenazah.

Menurut para psikolog, kesedihan keluarga korban peristiwa traumatik ini lebih mendalam, karena kehilangan orang yang dicintai tanpa diduga. Pendampingan diperlukan agar keluarga bisa melewati masa kedukaan dengan wajar dan tak menimbulkan trauma di kemudian hari.

Sejumlah orang yang telah melewati masa-masa sulit kehilangan orang yang dicintai secara tak terduga, ikut berbagi cerita.

Kejadian jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ182 menarik kembali ingatan Vini Wulandari pada peristiwa serupa 2018 silam.

"Pertama saya dengar ada pesawat Sriwijaya lost contact di Pulau Laki itu, saya menangis. Karena ini yang saya rasakan dua tahun lalu. Yang benar-benar itu, berat banget untuk bisa kita terima, karena nggak disangka mereka mau pergi di dalam pesawat itu," kata Vini kepada BBC News Indonesia, Selasa (12/01).

Pada 29 Oktober 2018, pesawat Lion Air JT-610 rute Jakarta-Pangkal Pinang yang membawa co-pilot Harvino—kakak Vini—jatuh di Laut Jawa. sebanyak 189 penumpang beserta kru pesawat dinyatakan meninggal dunia. Sampai sekarang 125 jenazah sudah teridentifikasi, 64 lainnya belum ditemukan, termasuk Harvino.

Kata Vini, satu bulan pertama setelah peristiwa itu adalah masa-masa yang "masih susah untuk kita terima ".

Sriwijaya Air SJ182

Sumber gambar, ANTARAFOTO/Indrianto Eko Suwarso

Keterangan gambar, Anggota Basarnas membawa kantong jenazah berisi objek temuan dari lokasi jatuhnya pesawat Sriwijaya Air PK-CLC nomor penerbangan SJ 182 rute Jakarta-Pontianak di Dermaga JICT II, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Minggu (17/01).

"Shock, bingung, nggak tahu mau bagaimana. Namanya ditinggal orang yang kita cintai tiba-tiba, yang tidak ada firasat apa pun itu. Jadi benar-benar, kita nggak percaya, masa sih. Pertanyaan itu pasti ada."

"Saya pasrah di 30 hari. Karena saya pikir nggak mungkin juga saya bertahan, sementara saya sendiri saat itu sudah tiga kali datang ke laut. Saya masih berusaha cari karena kakak saya nggak ketemu. Cuma terakhir saya sudah menyerah, saya pikir juga sudah jalannya seperti itu, sudah tak mungkin ditemukan," kata Vini.

Bahkan dua tahun lebih, anggota keluarga lainnya masih ada yang belum percaya dengan peristiwa itu.

"Keponakan-keponakan saya (anak Harvino) masih belum percaya papa-nya sudah meninggal, karena nggak ada kuburannya," kata Vini.

Lion Air

Sumber gambar, Azwar/Anadolu Agency/Getty Images

Keterangan gambar, Keluarga korban menaburkan bunga di lokasi yang disebut lokasi jatuhnya pesawat Lion Air JT di Laut Tanjung Karawang, Jabar, yang menyebabkan 189 orang penumpangnya meninggal dunia

Selama proses penerimaan, Vini mengaku mendapat dukungan dari grup percakapan keluarga penumpang. Di dalam grup ini mereka saling menguatkan. Ia juga mendapat pendampingan dari psikolog.

Dari situ, Vini juga beranjak untuk mengurus dokumen-dokumen untuk proses identifikasi jenazah untuk pencocokan DNA, mulai dari barang-barang yang digunakan seperti sikat gigi dan sampel darah.

Urusan di bank, pengadilan agama, dinas kependudukan dan catatan sipil selama tiga bulan untuk mendapat surat pernyataan meninggal, hingga pengadilan luar negeri.

"Banyak dokumen-dokumen yang harus disiapkan. Makanya saya bilang jangan terlalu larut dalam kesedihan, karena balik lagi, kita semua akan kembali ke sang Pemilik," kata Vini.

Lion Air

Sumber gambar, Dasril Roszandi/NurPhoto via Getty Images

Keterangan gambar, Seorang petugas kepolisian berdiri di dekat barang-barang milik korban dan serpihan bangkai pesawat Lion Air JT 6-10 di Tanjung Priok, 3 November 2018.

Pengalaman serupa juga dihadapi Anton Suhadi. Adik iparnya adalah penumpang pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT-610.

Menurut Anton, butuh waktu setidaknya dua tahun untuk bisa kembali beradaptasi dengan rutinitas.

"Karena dengan semakin cepat menerima dan mengikhlaskan itu, almahum dan almarhumah akan lebih tenang di sana. Satu hal lagi, kenapa harus begitu, supaya psikologis kita ini tidak terganggu dengan satu pikiran yang berpusar di situ saja," katanya kepada BBC News Indonesia, Kamis (14/01).

Anton juga mengakui akan banyak urusan administrasi yang dihadapi keluarga, termasuk masalah ahli waris.

'Kedukaan tidak biasa'

Psikolog dari Universitas Indonesia, Edward Andriyanto Sutardhio, mengatakan kedukaan yang terjadi secara mendadak lebih rumit dari pada kehilangan orang yang dicintai karena sudah ditandai dengan sakit.

Kedukaan mendadak terbagi menjadi bencana alam, dan non-alam di mana ada faktor manusia di dalamnya. "Ada tujuan dari orang marah itu, ada orangnya yang dimarahin. Kalau bencana alam kan Tuhan itu nggak mungkin disalahin. Itu yang sedikit berbeda," kata Edward kepada BBC News Indonesia, Kamis (14/01).

Pada prinsipnya, kata Edward, "semua kedukaan sama". Adapun intensitasnya tergantung dari kedekatan dan pemaknaan terhadap orang yang meninggal dan ditinggalkan.

Sriwijaya Air SJ182

Sumber gambar, ANTARAFOTO/ASPRILLA DWI ADHA

Keterangan gambar, Keluarga dan kerabat menabur bunga di pusara pramugari Isti Yudha Prastika korban kecelakaan Sriwijaya Air SJ 182 di TPU Pondok Petir, Depok, Jawa Barat, Sabtu (16/1/2021).

Semua akan melewati siklus yang disebut model Kubler-Ross yaitu penangkalan (denial), kemarahan (anger), depresi (depression), menawar (bargaining), dan penerimaan (acceptance).

"Kalau kedekatannya lebih tinggi, meninggalnya mendadak. Dianggap tidak wajar kematiannya. Itu biasanya, anger dan denial-nya lebih panjang. Lebih lama. Jadi proses sampai menerimanya lebih berat," kata Edward yang saat ini menjadi tim pendamping keluarga penumpang Sriwijaya Air SJ182.

Faktor lain untuk mempercepat tahap penerimaan dipengaruhi kepribadian dari anggota keluarga yang ditinggalkan.

"Ada orang-orang tertentu yang cepat (menerima) karena kepribadiannya lebih positif. Pemaknaannya lebih oke, bahwa ini tidak meninggal, tapi ini pulang ke rumah bapa di surga atau ke surga. Itu pemaknaannya akan berbeda," tambah Edward.

Keterangan video, Kenangan terakhir pilot pesawat Sriwijaya Air SJ-182

Pertolongan psikologis pertama

Selain itu, dukungan sosial tak kalah penting. Dukungan lingkungan sangat berarti bagi keluarga yang ditinggalkan orang yang dicintai secara mendadak untuk bisa menerima.

Tak harus selalu pendampingan terhadap keluarga yang berkabung dilakukan oleh psikolog, tapi juga bisa oleh masyarakat pada umumnya.

Menurut Edward, setiap keluarga perlu memiliki pertolongan psikologis pertama, yaitu orang yang berperan sebagai pendamping untuk menenangkan. Orang ini bisa mengambil peran di keluarga sendiri, atau pada kerabat, tetangga, dan kolega.

"Psychological First Aid. Ini sama kayak P3K. Dukungan psikologis awal. Nah, di sini orang-orang biasanya akan melihat memperhatikan kondisinya. Lalu mendengarkan keluh kesahnya," katanya.

Sriwijaya Air SJ182

Sumber gambar, ANTARAFOTO/MUHAMMAD ADIMAJA

Keterangan gambar, Panglima Koarmada I Laksamana Muda TNI AL Abdul Rasyid menunjukan kepada media kotak penyimpanan memori dari perekam suara kokpit atau Cockpit Voice Recorder (CVR) hasil pencarian saat operasi SAR pesawat Sriwijaya Air nomor penerbangan SJ 182 di perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, Jumat (15/1/2021).

Di masa-masa sulit, pendamping awal ini bisa mengarahkan anggota keluarga yang sedang berduka untuk mengekspresikan kesedihannya. Lambat laun kesedihan itu diredam dengan teknik repetisi, seperti pembacaan doa berulang-ulang.

Hal yang perlu dihindari, kata Edward adalah banyak bertanya saat keluarga sedang mengalami duka. "Itu ada orang yang terus bertanya, kenapa meninggal, ada tanda-tanda nggak, bagaimana kondisinya, kamu pasti sedih, nggak nyaman, itu men-trigger kondisinya lebih buruk."

Mencegah kondisi makin memburuk

Edward juga memberikan sejumlah saran bagi keluarga yang ditinggalkan orang yang dicintai secara mendadak agar bisa melewati masa-masa sulit dengan normal.

Pertama, kata dia, seseorang harus menyadari apa yang dialami adalah sesuatu yang wajar. Menangis, menjerit, marah adalah suatu kondisi normal di saat seseorang kehilangan anggota keluarga yang ia cintai.

Hal yang tak wajar adalah kondisinya, dan kejadiannya. Bahwa satu waktu seseorang bisa meninggal tanpa menunjukkan tanda, misalnya lewat bencana alam, bunuh diri, dibunuh, dan kecelakaan transportasi.

Sriwijaya Air SJ182

Sumber gambar, ANTARAFOTO/ARNAS PADDA

Keterangan gambar, Prosesi pemakaman salah satu kru pesawat Sriwijaya SJ182

"Di Indonesia kita cenderung tidak mengeluarkan emosinya, dan cenderung menahan. Nah, ini bahaya untuk jangka panjang," kata Edward.

Kedua, bercerita. Dengan bercerita pada orang yang dipercaya, seseorang dapat memproses ulang informasi dan membantu mempercepat membuat pemaknaan pada suatu peristiwa.

Ketiga, berdiskusi dengan ahli ketika mengalami adanya gejala berat yang mulai mengganggu, seperti sulit tidur, makan, dan sakit pada badan dalam waktu lama. "Kalau sangat mengganggu bisa mencari ahlinya yang memberikan terapi untuk trauma," kata Edward.

Keempat, sebisa mungkin menghindari menyendiri ketika proses kedukaan masih tinggi. "Kalau bisa tetap ada orang-orang terdekat yang mendampingi mereka, karena dukungan sosial adalah salah satu yang penting, yang paling positif efeknya," lanjutnya.

Seseorang yang mengalami trauma berat berkepanjangan yang tak tertangani dengan baik akan cepat tersinggung, sangat bergantung dengan orang lain, sulit memecahkan masalah, dan terserang maag hingga eksim.

"Kalau itu tidak ditangani, dan berlanjut terus, fisiknya penyakitnya makin parah. Banyak yang dihubungkan dengan stress," kata Edward.

Sriwijaya Air SJ182

Sumber gambar, ANTARAFOTO/NOVA WAHYUDI

Keterangan gambar, Sejumlah keluarga dan kerabat melakukan shalat jenazah untuk Almarhumah Indah Halimah Putri sebelum dimakamkan di Desa Sungai Pinang, Ogan Ilir, Sumatera Selatan, Minggu (17/1/2021).

Trauma berkepanjangan

Tri Iswardani adalah Wakil Ketua Himpunan Psikologi Indonesia wilayah Jakarta. Ia mengikuti pendampingan psikososial penyintas dan keluarga dari sederet peristiwa traumatik yang menjadi perhatian nasional dan internasional, seperti tsunami di Aceh, letusan gunung Merapi, insiden pesawat Sukhoi (2012), Air Asia (2014), dan Lion Air (2018), termasuk Sriwijaya Air (2021).

Menurut Dani—sapaan Tri Iswardani—sebagian keluarga yang kehilangan orang yang dicintai dalam peristiwa traumatik umumnya bisa melalui proses kedukaan hingga penerimaan setelah satu tahun.

Tapi, ada juga yang berkutat pada fase menyangkal, depresi, dan marah selama bertahun-tahun. Ketika terpapar peristiwa serupa, reaksinya akan kembali pada saat ia pertama kali mengalami insiden tersebut atau disebut trauma.

Sriwijaya Air SJ182

Sumber gambar, ANTARAFOTO/M RISYAL HIDAYAT

Keterangan gambar, Prajurit Dinas Penyelamatan Bawah Air (Dislambair) TNI AL memindahkan puing yang ditemukan di sekitar lokasi jatuhnya pesawat Sriwijaya Air nomor penerbangan SJ 182 di geladak KRI Rigel-933 di perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, Kamis (14/1/2021)

"Belum selesai dia mengolah, belum bisa mencerna kejadian itu, belum ikhlas. Belum bisa berdamai. Masih berontak," katanya kepada BBC News Indonesia, Jumat (15/01).

Biasanya, tambah Dani, orang yang sulit melewati proses kedukaan hingga pada fase penerimaan cenderung "mematikan emosi" saat peristiwa terjadi. "Jadi kedukaannya itu ditunda," katanya.

Selain itu, ada pula yang mengalami gejala psikosomatis menahun. "Jadi berkembang ke penyakit yang lain, PTSD (Post Traumatic Stress Disorder), sebagai kejadian yang traumatik tidak bisa dilupakan," katanya.

Sriwijaya Air SJ182

Sumber gambar, ANTARAFOTO/M RISYAL HIDAYAT

Keterangan gambar, Prajurit TNI AL mengamati peta lokasi penyelaman sebelum melanjutkan operasi SAR pesawat Sriwijaya Air nomor penerbangan SJ 182 di atas geladak KRI Rigel-933 di perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, Kamis (14/1/2021).

Pendampingan terganggu pandemi

Menurut Dani, masa pandemi menjadi kendala tersendiri bagi tim psikolog untuk mendampingi keluarga yang anggotanya meninggal karena peristiwa traumatik. Di dalam proses pendampingan, biasanya dibutuhkan sentuhan dan keterhubungan antara psikolog dengan orang yang sedang berduka.

"Jadi di dalam pendampingan itu kendalanya tidak bisa menjalani service full. Karena kita mesti pakai APD, kita nggak menangkap ekspresinya dia secara penuh. Kita nggak bisa menangkap reaksinya, apakah ini marah sedih atau segala macam. Tapi terbatas untuk menangkap ekspresi luapan emosinya," kata Dani.

Selain itu, risiko penularan virus ikut membatasi jumlah psikolog untuk diturunkan ke lapangan.

Bagaimana pun, kata Dani, setiap orang memilik kekuatan alami untuk pulih. Hal yang ia percaya bisa membuat orang yang mengalami proses kedukaan akan bangkit kembali, dan menemukan hikmah dari peristiwa tragis yang pernah ia lalui.

"Pada akhirnya setiap orang punya natural healing power. Kita tidak pelihara pasien. Jadi semua orang punya natural healing power," kata Dani.

----

Jika Anda, sahabat, atau kerabat memiliki masalah kesehatan jiwa, segera hubungi dokter kesehatan jiwa di Puskesmas, Rumah Sakit terdekat, atau Halo Kemenkes dengan nomor telepon 1500567.

Anda juga dapat mencari informasi mengenai depresi dan kesehatan jiwa dengan mengontak sejumlah komunitas untuk mendapat pendampingan seperti LSM Into The Light melalui intothelightid.org dan Yayasan Pulih pada laman yayasanpulih.org.