Sriwijaya Air SJ182: 'Mohon doa terbaik', penantian keluarga pilot dan penumpang

sriwijaya air

Sumber gambar, Oscar Siagian/Getty Images

Polri akan memulai proses identifikasi pada Senin (11/01) dan berharap keluarga korban membantu dengan membawa tanda identitas korban berupa berkas apapun yang mungkin dapat berguna.

Sebelumnya, pada Minggu (10/01), Kepala Basarnas, Marsdya Bagus Puruhito, mengatakan pihaknya sudah mendapatkan 10 kantong jenazah yang berisi bagian dari korban dan lima potong pakaian.

Semua kantong ini telah dilabeli di JICT lalu dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk diidentifikasi.

BBC Indonesia menemui sejumlah keluarga penumpang serta keluarga pilot Sriwijaya Air SJ182, yang menyampaikan kenangan sekaligus doa untuk para mendiang.

Kado ulang tahun terakhir untuk si bungsu Dinda Amelia

Beberapa hari terakhir sungguh kelabu bagi keluarga Dinda Amelia, remaja berusia 15 tahun yang merupakan salah seorang penumpang pesawat Sriwijaya Air SJ182.

Lena, ibunda Dinda, menangis sembari menatap hujan yang membasahi kawasan Bandara Supadio, Kota Pontianak, Minggu (10/01). Sesekali pundaknya terguncang karena tersedu.

Ini kali kedua kedatangan Lena ke Posko Ante Mortem di Graha Chandra Disti Wiradi untuk menyerahkan data-data diri Dinda.

Sebelumnya, Lena sudah datang untuk diambil darah serta cairan hidungnya. Sampel DNA dari Lena akan dijadikan contoh pencocokan untuk Dinda Amelia, anaknya.

"Adek pulang ya Dek, mama tunggu Adek," kata Lena terbata-bata. Kedua kakak Dinda tak kuasa membendung tangis.

sriwijaya air

Sumber gambar, Antara Foto

Keterangan gambar, Lena memandangi foto putrinya, Dinda Amelia, yang merupakan penumpang Sriwijaya Air SJ182, di Posko Informasi Bandara Supadio, Kalimantan Barat, Minggu (10/1).

Dinda pergi liburan ke Jakarta menemani Rahmania Ekananda, istri Kepala Dinas Logistik (Kadislog) Lanud Supadio, Kolonel Teknik Akhmad Khaidir.

Rahmania membawa kedua anaknya, Fazila Ammara dan Fatima Ashalina yang baru berusia 2,5 tahun.

"Mereka pergi sejak 27 Desember lalu. Tepat di hari ulang tahunnya yang ke-15. Dia sangat senang," ujar Lena, sebagaimana dilaporkan wartawan di Pontianak, Widianingsih, untuk BBC News Indonesia.

Lena sudah lama bekerja dengan keluarga Akhmad Khaidir. Maka, ketika Lena dimintai izin agar Dinda ikut menemani keluarga tersebut ke Jakarta, Lena tak menolak.

"Tante (istri Kadislog) tanya, 'boleh kan bude?' Saya bilang, 'terserah anaknya'," katanya.

Dia berharap bisa membawa Dinda kembali dalam keadaan selamat. Sementara suaminya dan Kolonel Akhmad telah bertolak ke Jakarta, Minggu (10/01) untuk mengikuti proses penyelamatan.

"Jika boleh pergi, saya ingin pamannya pergi juga mendampingi bapaknya," kata Lena.

Lena meratapi Dinda dengan memperlihatkan fotonya kepada para wartawan.

"Dek, pulang ya Dek, lihat mama," katanya sembari memandangi foto putrinya di telepon seluler.

Kenangan peci putih sang pilot

Matahari pagi menyinari rumah putih dua tingkat di kawasan Cibinong, Bogor, Jawa Barat itu ketika Dwiki Marta, jurnalis video BBC Indonesia tiba di sana pada Minggu (10/01). Namun suasana murung terasa kental di kediaman Afwan, pilot pesawat Sriwijaya Air SJ182.

sriwijaya air

Sumber gambar, Dwiki Marta/BBC Indonesia

Keterangan gambar, Kerabat berdatangan ke kediaman pilot Sriwijaya Air

Kerabat datang dan bergiliran masuk ke dalam rumah dengan protokol ketat Covid-19. Petugas PMI juga tampak bersiaga di depan gerbang, mengukur suhu tubuh para tamu yang ingin memberikan tanda simpati dan menguatkan keluarga.

Sampai hari Minggu pagi, keluarga masih menanti kabar tentang Afwan yang juga merupakan mantan penerbang TNI AU itu.

"Kami masih menunggu konfirmasi dari Sriwijaya Air. Belum ada kabar sama sekali,"kata Ferza Mahardhika, keponakan Afwan yang ditunjuk keluarga jadi juru bicara.

sriwijaya air

Sumber gambar, Endah

Keterangan gambar, Kapten Afwan, pilot Sriwijaya Air SJ 182 berangkat tergesa-gesa dan meminta maaf pada anak-anaknya sebelum bertugas pada Sabtu (09/01)

Sementara istri dan ketiga anak perempuan Afwan dikatakan berada di dalam rumah. Diketahui ketiga anak pilot Sriwijaya Air itu masih duduk di bangku SMP, SD, dan yang paling kecil baru masuk TK.

Berbagai kenangan akan pilot Afwan yang kerap dipanggil Pak Haji pun menguar. Sejumlah teman Afwan yang tengah bertamu bercerita bahwa pria usia 54 tahun itu terkenal dengan peci putihnya. Bahkan saat di dalam kokpit Afwan juga suka memakai peci putih bukan topi pilot.

sriwijaya air

Sumber gambar, Endah

Keterangan gambar, Afwan dikenal kerap memakai peci putih termasuk saat bertugas

"Dia orang yang sangat baik. Baik terhadap semua orang, ia suka mengingatkan kami mengenai pentingnya beribadah. Saya seharusnya bertemu dia pada hari ia terbang, tapi karena jadwal penerbangan diubah, dia bilang pertemuan kami batal. Ia bilang ' maaf pertemuan kita batal ya'," tutur Jamal salah satu teman Afwan.

Di lingkungan perumahannya, Afwan juga dikenal sering memberikan tausiyah dan selalu ibadah di masjid perumahan untuk shalat lima waktu. Namun sejak pandemi virus corona, Afwan mengikuti aturan dan protokol. Sejumlah warga sempat bertemu dengan Afwan pada hari Jumat(08/01), sehari sebelum pesawat yang dipilotinya dinyatakan hilang kontak dan jatuh di perairan Kepulauan Seribu.

"Hari itu ia pergi dengan tergesa-gesa, bahkan bajunya belum disetrika. Biasanya ia selalu rapi. Ia juga meminta maaf pada anak-anaknya. Kami masih tidak percaya kenyataan ini. Mohon doakan yang terbaik untuk paman saya dan keluarga," kata Ferza Mahardhika.

Penantian keluarga penumpang

Berdoa dan menanti dengan harapan yang terbaik bagi para penumpang dan awak pesawat. Demikian yang kini terus ada di benak para keluarga. Afrida, salah satunya. Ibu di Padang, Sumatera Barat ini amat berharap anaknya menjadi korban pesawat yang selamat.

sriwijaya air

Sumber gambar, Agus Embun

Keterangan gambar, Afrida berharap anaknya selamat

Afrida mengatakan anaknya, Angga Fernanda Afrion, menumpang pesawat Sriwijaya Air SJ 182 untuk kembali bekerja sebagai kru kapal tongkang batubara di Pontianak.

"Jumat (08/01) sekitar jam 23.00 WIB, dia menelpon ke saya dan memberitahu ingin balik ke Pontianak karena kapalnya rusak dan dapat perintah dari bos untuk menariknya. Biasanya, dia naik kapal ke mana-mana, jarang sekali naik pesawat," kata Afrida kepada wartawan di Padang, Agus Embun, yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Angga, menurut Afrida, berdomisili di Jakarta bersama istrinya dan seorang anak yang baru berusia satu minggu.

" Keluarga berharap, kalau bisa Angga selamat. Jika ada jasadnya, bisa dibawa pulang dan dikuburkan oleh pihak keluarga dengan layak. Saat ini, anggota keluarga yang lain masih melakukan pencarian terhadap Angga di Jakarta. Jika boleh, saya mau ke Jakarta ikut membantu mencari informasi tentang Angga, tapi karena pandemi ini belum bisa sepertinya."

Di Pontianak, Kalimantan Barat, puluhan orang keluarga penumpang pesawat Sriwijaya Air juga masih menanti hasil pencarian pesawat. Widianingsih, wartawan yang melaporkan untuk BBC Indonesia menggambarkan suasana Sabtu (09/01) malam di Bandara Supadio. Para keluarga menanti dengan cemas, sejumlah orang di antaranya menangis karena sangat khawatir.

sriwijaya air

Sumber gambar, Widianingsih

Keterangan gambar, Yaman Z. Zai menanti kabar istri dan ketiga orang anaknya

Sekitar pukul 18.00 WIB hari itu, ketika kepastian akan kabar istri dan tiga orang anaknya tak kunjung tiba, Yaman Z. Zai terisak-isak dan berulang kali menghapus air mata dengan tangannya sambil menelepon, berbicara dengan bahasa daerah.

Yaman telah menunggu lama di bandara saat itu, ia berpikir pesawat yang ditumpangi istri dan ketiga buah hatinya hanya terlambat biasa. Namun kabar yang kemudian membenarkan pesawat itu hilang kontak dan jatuh membuatnya shock luar biasa.

"Istri saya baru mengirimkan foto bayi kami, baru usia 11 bulan, sebelum bertolak. Bagaimana hati saya tidak hancur," katanya sambil menangis.

Yaman yang merupakan orang asli Sumatera Utara menuturkan ia sudah setahun bekerja di Pontianak. Sedianya, Sabtu (09/01) itu istri dan anak-anaknya pulang usai liburan akhir tahun.

Perkembangan pencarian

sriwijaya air

Sumber gambar, Antara Foto

Keterangan gambar, Sejumlah prajurit Detasemen Jala Mangkara (Denjaka) Korps Marinir TNI AL mengangkut serpihan dari pesawat Sriwijaya Air SJ 182 yang hilang kontak saat melakukan pencarian di perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, Minggu (10/1).

Pada Senin (11/01), Karopenmas Divhumas Polri, Brigjen Rusdi Hartono, mengatakan tim Disaster Victim Identification (DVI Polri) telah menerima 40 sampel DNA dari pihak keluarga untuk dicocokkan dengan temuan-temuan bagian tubuh.

Tim DVI, lanjutnya, telah menerima 16 kantong jenazah dan tiga kantong berisi properti yang diduga milik penumpang dan kru pesawat.

Sebelumnya Brigjen Rusdi Hartono memohon pada keluarga untuk membantu tim DVI melaksanakan tugas.

"Keluarga bisa datang ke tempat-tempat yang telah kami tentukan, bisa memberikan identitas penumpang, bisa berupa kartu keluarga, ijazah dll. Keterangan apapun sungguh berarti untuk identifikasi," jelasnya.

Pada Minggu (10/01) sore, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto mengatakan lokasi black box pesawat Sriwijaya Air SJ182 sudah ditandai.

"Mudah-mudahan dalam waktu yang tidak lama, black box bisa kita temukan," kata Hadi dalam jumpa pers, pukul 15.40 WIB.

Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Bagus Puruhito, menambahkan pihaknya "meyakini itu black box. karena pancaran sinyal emergensi hanya dari dua alat tersebut."

Pesawat komersial Sriwijaya Air tipe Boeing 737-500 rute Jakarta-Pontianak hilang kontak sekitar pukul 14.40 WIB pada Sabtu (09/01), empat menit setelah bertolak dari Jakarta.