Bagaimana karya sastra menyuarakan keberagaman, penuturan soal 'orang Asia yang tiba-tiba keren' dan 'bagaimana rasanya jadi orang Bali'

Sumber gambar, Emma McIntyre/Getty Images
- Penulis, Famega Syavira Putri
- Peranan, Wartawan BBC News Indonesia
- Waktu membaca: 6 menit
Bagaimana tulisan bisa menyuarakan representasi kelompok yang tidak banyak terdengar suaranya? Penulis buku Crazy Rich Asian Kevin Kwan dan sastrawan Bali Oka Rusmini menjelaskannya.
Penulis buku Crazy Rich Asian, Kevin Kwan menyatakan ia baru disadarkan akan kekuatan tulisan untuk menampilkan keberagaman, setelah kesuksesan novel dan film Crazy Rich Asian memicu apa yang disebutnya sebagai "pergerakan budaya".
"Saya pikir (Crazy Rich Asian) ini memberikan kesadaran lebih di dalam budaya Amerika. Orang menjadi punya gambaran baru yang lebih mengapresiasi orang Asia dan ada kesadaran baru bahwa Asia bukan hanya satu budaya besar," kata Kevin dalam wawancara dengan BBC News Indonesia melalui Zoom dalam rangkaian acara Kembali2020: A Rebuild Bali Festival.
Pada tahun 2013, Kevin Kwan menulis novel komedi satir berjudul Crazy Rich Asian, buku pertama dari trilogi yang kemudian menyusul terbit pada 2015 dan 2017.
"Ketika saya menulis novel pertama saya, itu adalah cara saya untuk menulis dan memahami budaya, negara, dan orang-orang yang saya tinggalkan ketika saya pergi dari Singapura saat berusia 11 tahun.
"Saya berusaha mengumpulkan kenangan, berusaha memahami keluarga dan ikatan sosial yang berbeda-beda. Saya tidak mengira buku itu akan diterbitkan," kata Kevin.
'Tahun 2018, tiba-tiba orang Asia jadi keren'
Kevin yang semula tidak bermaksud menulis novelnya untuk dibaca banyak orang, menjadi tersadar atas peran tulisannya yang merepresentasikan Asia di Amerika.
Dia menjadi mengerti bahwa keterwakilan adalah hal yang perlu diperjuangkan.
"Asia adalah berbagai negara dan budaya dan manusia, yang semuanya sangat berbeda.
"Ada kekayaan budaya, yang saya rasa sekarang orang Amerika ingin menjelajahinya, mereka ingin melihatnya di layar lebih banyak lagi," kata Kevin yang lahir di Singapura dan pindah ke Amerika ketika berusia 11 tahun.
Pada 2018, buku Crazy Rich Asian difilmkan di Hollywood dan menjadi film AS pertama dalam 25 tahun terakhir yang sebagian besar pemainnya adalah orang Asia atau keturunan Asia.
Film ini kemudian memicu diskusi mengenai keterwakilan Asia di dalam industri film di Hollywood, dengan beberapa pendapat yang memuji maupun mengkritik.

Sumber gambar, Warner Bros
"Pada tahun 2018 tiba-tiba orang Asia jadi keren. Saya ingat aktor-aktor di film saya, Henry Golding, Gemma Chan, Constance Wu, mereka semua datang ke Oscar pada Januari 2019.
"Semua orang ingin bertemu mereka, semua ingin bicara dengan mereka, minta foto bersama.
"Semua orang terkenal di sana, ingin bertemu mereka karena mereka sedang ada di pusat pergerakan budaya ini," kata pria yang tahun ini baru saja menerbitkan buku keempatnya yang berjudul Sex and Vanity.
Pembuatan Crazy Rich Asian menghabiskan dana 30 juta dolar, dan berhasil mendulang 238 juta dolar di seluruh dunia, menurut website film IMDB.
Film ini mendapatkan berbagai penghargaan, termasuk dua nominasi Golden Globe Award tahun 2019.
Menurut Kevin, Crazy Rich Asian membuka jalan untuk berbagai proyek baru di dunia penerbitan maupun perfilman.
"Ada banyak penulis Asia baru yang bukunya diterbitkan, karena ada rasa penasaran yang muncul akan kebudayaan Asia kontemporer, Asia yang modern, dengan intensitas yang belum pernah ada sebelumnya," katanya.
"Saya jadi disadarkan juga ketika saya melihat apa yang terjadi karena film ini, ketika saya melihat bagaimana perubahan terjadi, dan saya jadi merasa bertanggung jawab juga untuk menciptakan lebih banyak lagi karya yang bisa menjadi etalase untuk keberagaman yang ada di luar sana," kata Kevin
Artikel ini memuat konten yang disediakan Instagram. Kami meminta izin Anda sebelum ada yang dimunculkan mengingat situs itu mungkin menggunakan cookies dan teknologi lain. Anda dapat membaca Instagram kebijakan cookie dan kebijakan privasi sebelum menerima. Untuk melihat konten ini, pilihlah 'terima dan lanjutkan'.
Lompati Instagram pesan
Dan menurutnya, itu bukan hanya untuk mereka yang berada di Amerika. "Saya ingin sekali menampilkan aktor Indonesia lebih banyak lagi, misalnya. Juga aktor Filipina, Malaysia, Singapura.
"Di Crazy Rich Asian, saya berkeras agar mereka casting sebanyak mungkin aktor Singapura, dan saya akan terus menekankan itu di proyek-proyek terbaru," kata dia.
Ketika proses casting, Kevin menjelaskan, dia bertemu dengan ratusan talenta berdarah Asia-Amerika, dari aktor sampai para pekerja di belakang layar seperti penulis naskah, desainer set dan lain-lain.
"Mereka semua perlu lebih banyak lagi proyek agar mereka bisa membuktikan dirinya. Makanya saya berusaha menciptakan lebih banyak proyek lagi," kata dia.
"Ada banyak sekali talenta hebat di seluruh Asia yang layak ditampilkan, dirayakan, dan ditunjukkan ke seluruh dunia," ujar Kevin.
Dia mengakui bahwa selama ini dirinya termasuk beruntung karena tidak pernah mengalami tantangan tambahan di dunia penerbitan hanya karena ras dan warna kulitnya.
"Tapi saya dengar dari penulis lain, para aktor dan pembuat film, pekerja kreatif, dengan kulit berwarna, kejadian yang mereka alami tidak sama dengan saya.
"Usaha mereka terus-menerus menghadapi tantangan, ada tembok besar yang menghalangi ketika mereka berusaha mengerjakan suatu proyek," kata dia.

Sumber gambar, Matt Winkelmeyer/Getty Images
Majalah Time memasukkan Kevin Kwan dalam list 100 orang paling berpengaruh pada 2018. Kevin disebut sebagai penulis yang "mengerti perempuan, dengan kisah yang penting untuk laki-laki Asia juga, yang tumbuh di dalam budaya patriarki".
"Kwan tidak berfokus untuk membuat orang Asia nampak keren, tapi dia fokus membuat kisah kita utuh.
"Hal-hal yang kita banggakan, hal-hal yang kita coba sembunyikan, dan kedahsyatan yang berdetak di balik semua itu," demikian kata Constance Wu, aktris yang bermain dalam film Crazy Rich Asian, saat menulis pengantar untuk daftar orang paling berpengaruh di Majalah Time tahun 2018.
Menyuarakan perempuan melalui tulisan

Sumber gambar, SONNY TUMBELAKA/Getty images
Oka Rusmini, sastrawan perempuan asal Bali, menjelaskan bahwa ia menulis untuk menampilkan perspektif Bali dari sudut pandang perempuan Bali.
"Kenapa saya menulis? Tulisan saya tentang Bali karena selama ini orang yang bicara tentang Bali, itu orang asing.
"Buku-buku tentang bali ditulis oleh orang asing, jadi saya mencoba menawarkan pemikiran saya, persoalan-persoalan saya" kata Oka dalam wawancara dengan BBC News Indonesia melalui Zoom dalam rangkaian acara Kembali2020: A Rebuild Bali Festival.
Oka Rusmini adalah sastrawan yang menulis puisi, cerita pendek, novel dan kumpulan esai.
Buku karyanya antara lain Tarian Bumi (2000), Sagra (2001), Akar Pule (2012) hingga Men Coblong (2019). Karya-karyanya banyak menceritakan tentang kehidupan perempuan.
"Semua buku saya, semua tokohnya perempuan itu benar-benar ada 99%."
Buku Men Coblong, misalnya, berisi kumpulan esai yang menceritakan kehidupan perempuan 40 tahun bernama Men Coblong.
"Men Coblong memvisualkan bagaimana perempuan Bali memandang masalah sosial politik agama dan perubahan yang terjadi di tingkat lokal dan jarang tercatat di tingkat pusat, tapi juga dibenturkan dengan apa yang terjadi di politik nasional," kata Oka.
'Pernahkah orang berpikir bagaimana rasanya jadi orang Bali'

Sumber gambar, Antara Foto
Dalam salah satu esai di buku Men Coblong, diceritakan bahwa Men Coblong sedang mempekerjakan tukang untuk mengecat pagarnya.
Perbincangan dengan tukang yang ke mana-mana menggunakan motor itu membawa Men Coblong merefleksikan tentang kemacetan yang terjadi di Denpasar.
"Jika di Denpasar transportasi umum bisa nyaman, dijamin kemacetan tidak akan terjadi."
Esai yang lain menceritakan tentang sahabatnya yang ditinggal suami yang menikah lagi dengan alasan tidak punya anak laki-laki.
"Menjadi perempuan saat ini adalah sebuah pilihan yang cukup rumit. Hanya perempuan yang bisa mengurai kerumitan itu, bukan orang lain, tidak juga kekasih," kata Men Coblong di dalam akhir perenungannya.
"Saya tinggal di Bali, orang berpikir enak tinggal di Bali kayaknya seperti ada di pintu surga. Pernahkah orang bertanya bagaimana rasanya menjadi orang Bali? Keruwetan-keruwetan psikologis, budaya, sosial dan agama apa yang terjadi di Bali?" kata Oka.
Bukunya telah diterjemahkan ke beberapa bahasa, termasuk Bahasa Inggris dan Bahasa Jerman. Dia mengaku tak menduga jika perempuan Jerman yang membaca bukunya akan dapat berempati dengan permasalahan yang dia tulis di dalam bukunya.
"Saya berpikir buku saya bermuatan lokal dan akan tidak sampai ke komunitas perempuan di Berlin, kota besar di Eropa.
"Tapi ternyata ketika mereka membaca buku saya mereka senang, karena perempuan Jerman juga mengalami hal-hal yang saya tulis," kata perempuan yang selama 30 tahun bekerja sebagai wartawan di media lokal Bali itu.
Menurutnya, mungkin memang ada latar belakang budaya yang berbeda-beda bagi perempuan dari negara yang berbeda, tapi esensi persoalan yang dihadapi perempuan sebenarnya sama.
Tantangan membawa Indonesia ke tingkat dunia
Oka menyakini karya perempuan Bali, atau perempuan Indonesia dapat dibawa ke tingkat dunia.
Namun, masalah utama yang menghambat karya perempuan Indonesia mendunia adalah kurangnya penerjemahan.
"Pemerintah seharusnya menjembatani penerjemahan sastra lokal ke Bahasa Inggris dan menghubungkan dengan penerbit di luar negeri. Saya beruntung karya saya diterjemahkan ke beberapa bahasa, tapi tak semua penulis punya akses," kata Oka.
Saat ini Oka juga mengelola akun Instagram yang bertujuan mendokumentasikan karya para penulis perempuan.
Dia ingin karya perempuan dapat ditampilkan tanpa membedakan jenis karyanya, apakah itu sastra pop, atau "sastra serius".
"Saya ingin orang tahu bahwa perempuan juga ada jejaknya di dalam literasi, karena selama ini sulit mencari jejak literasi perempuan dari masa lalu sampai sekarang.
"Kita hanya tahu beberapa yang sudah terkenal, tapi penulis indie, atau perempuan yang menulis dalam bahasa daerah, sulit dicari," kata dia.









