Tilik: Bisakah popularitas film pendek di Indonesia menyaingi sinetron?

Sumber gambar, Ravacana Films
- Penulis, Pijar Anugerah
- Peranan, BBC News Indonesia
- Waktu membaca: 6 menit
Film Tilik membuka mata masyarakat akan pesona film-film pendek buatan Indonesia. Namun pengamat film mengatakan perlu upaya untuk menghubungkan film-film pendek dengan khalayak luas.
Gerombolan perempuan paruh baya berdiri berdesak-desakan di bak sebuah truk yang melaju di jalanan desa. Mereka hendak menjenguk (tilik) Bu Lurah yang terbaring di rumah sakit.
Di atas truk, terjadi perdebatan sengit antara Bu Tejo (Siti Fauziah) dengan Yu Ning (Briliana Dessy) tentang seorang perempuan muda bernama Dian, yang dianggap bukan perempuan baik-baik.
Demikian cuplikan plot film Tilik yang telah menarik perhatian banyak masyarakat Indonesia. Film arahan sutradara Wahyu Agung Prasetyo dalam naungan rumah produksi Ravacana Films ini telah ditonton lebih dari 15 juta kali di YouTube hingga Kamis (27/08), dan mendapat berbagai tanggapan serta kritik di media sosial.
Film pendek ini merupakan pemenang Piala Maya 2018 (Film Pendek Terpilih), Official Selection Jogja-Netpac Asian Film Festival 2018, dan Official Selection World Cinema Amsterdam 2019. Pada peringatan hari kemerdekaan Indonesia 17 Agustus lalu, film ini untuk pertama kalinya diunggah ke Youtube dan dipromosikan secara luas.
Banyak warganet merasa gemas dengan tokoh Bu Tejo (Siti Fauziah), yang suka bergosip dan mempercayai kabar-kabar dari internet yang belum tentu benar. Beberapa merasa karakter Bu Tejo mirip dengan sosok yang kerap ditemui di dunia nyata.
"Bu Tejo itu kayak sosok realita yang ada di sekitar, yang nyinyir, gosip, terus dia berasumsi bahwa gosip yang ada di internet itu benar," ungkap Putri, 26 tahun, salah satu penonton.
Namun Tilik juga mendapat kritik dari sejumlah pengamat film dan pegiat feminis, yang menilainya malah memperkuat stereotipe perempuan sebagai suka bergosip.
Terlepas dari beragam tanggapan itu, Tilik tampaknya telah membangkitkan minat banyak warganet akan film-film pendek lain karya sineas Indonesia. Misalnya Anak Lanang, film pendek lain dari Ravacana Films; dan Unbaedah, yang dibintangi Siti Fauziah pemeran Bu Tejo. Kedua film tersebut langsung mendapat ribuan penonton dalam hitungan hari.
Beberapa warganet di kolom komentar memuji kualitas film-film pendek buatan Indonesia dibandingkan sinetron di televisi, baik dari segi cerita maupun akting.
"Ceritanya realita banget, kalau di sinetron itu kayak bukan realita. Tapi kalau yang ini tuh ada di kehidupan nyata terus pesannya juga mudah ditangkap," kata Putri.
Alternatif sinetron
Penulis skenario Tilik, Bagus Bacep Soemartono, berharap film-film pendek bisa menjadi alternatif bagi masyarakat yang selama ini hanya menonton sinetron. Ia mengaku kaget akan kesuksesan film Tilik.
"Tidak menghakimi bahwa sinetron nggak bagus. Mungkin perlu pembanding aja, karena selama ini asupan gizi estetika masyarakat hanya dikuasai satu bidang yaitu sinetron," katanya kepada BBC News Indonesia.
Menurutnya, film pendek punya kekhasan tersendiri sebagai medium bercerita. Ibarat cerita pendek (cerpen), permasalahan langsung disampaikan di awal sehingga lebih lugas.
"Kalau film panjang ibarat novel jadi masih ada napas. Film pendek tidak ada napas. Sebaiknya penonton langsung disedot ke dalam satu aspek dalam penceritaannya," ujarnya.
Artikel ini memuat konten yang disediakan Instagram. Kami meminta izin Anda sebelum ada yang dimunculkan mengingat situs itu mungkin menggunakan cookies dan teknologi lain. Anda dapat membaca Instagram kebijakan cookie dan kebijakan privasi sebelum menerima. Untuk melihat konten ini, pilihlah 'terima dan lanjutkan'.
Lompati Instagram pesan
Dalam menulis Tilik, Bagus mengatakan ia terinspirasi oleh interaksi dengan masyarakat desa. "[Di desa] itu jaringan internet susah, kalau ada hoaks tuh cepet kemakan," katanya kepada BBC News Indonesia.
Bagus sehari-hari aktif dalam pemberdayaan masyarakat desa. Kegiatannya antara lain menghidupkan sanggar kesenian, membantu UMKM, dan membuat pelatihan kerajinan. Saat ini ia membina tiga desa di Jawa Tengah: Saradan, Lemah Rubuh, dan Wijirejo. Ia mengaku "lebih sering di desa daripada di rumah sendiri."
Ia menjelaskan, karakter Bu Tejo, Yu Ning, dan kawan-kawan merupakan gabungan dari berbagai macam karakter yang ia temui dalam kegiatannya di desa. "Saya masukkan dialog dari figur-figur yang saya jumpai di kehidupan saya," ujarnya.
Bagus juga mengaku terinspirasi dari cerita-cerita wayang, yang menurutnya menggambarkan bahwa "dalam hidup itu tidak ada kebenaran mutlak". Seperti Adipati Karna dalam epik Mahabharata dan Kumbakarna, adik Rahwana dalam cerita Ramayana, terkadang orang benar bisa ada di sisi yang salah; dan sebaliknya.
Hal itu barangkali menjelaskan alasan mengapa sosok Bu Tejo yang dianggap sebagai tokoh antagonis tidak mendapat ganjaran atas perilakunya yang suka bergosip; malah Yu Ning, yang terus menentang Bu Tejo dan mempertahankan prasangka baik, ternyata salah.
Bagaimanapun, Bagus menekankan bahwa "Bu Tejo belum tentu benar" karena ibarat wayang, sosok Dian yang dibicarakan selama perjalanan di atas truk pun hanya bayang-bayang dari Dian sebenarnya.
Menanggapi para kritik, Bagus mengatakan "Film ini saya buat dengan perasaan, jadi kalau dianalisis dengan pikiran ya tidak akan pernah ketemu."

Sumber gambar, Ravacana Films
Bangkitkan minat pada film pendek
Sutradara Joko Anwar menilai Tilik menjadi populer karena karakter dan ceritanya begitu dekat dengan masyarakat Indonesia. "Karakter seperti ibu Tejo jamak di Indonesia, walaupun mungkin banyak orang tidak sadar atau denial,"ujarnya.
Joko berharap, Tilik bisa membuat masyarakat tertarik dengan film pendek di Indonesia, yang selama ini belum mendapat banyak perhatian dari penonton. Menurut Joko, walaupun film pendek adalah medium yang sangat menarik, ia sangat sulit untuk dimonetisasi.
Film pendek jarang diputar di bioskop, kecuali dalam bentuk antologi atau omnibus yang durasinya memenuhi syarat yaitu 90 menit. Selama ini, film pendek lebih sering diputar di festival-festival film atau platform seperti YouTube dan Vidsee, yang khusus menawarkan film pendek.
Menurut Joko, dibandingkan film panjang, film pendek memungkinkan si pembuat film lebih bebas bercerita; baik itu dari segi penyampaian cerita atau tema yang diangkat. Itu karena film pendek tidak terikat tuntutan komersil.
"Film panjang ada tuntutan untuk balik modal, menghasilkan uang, jadi format berceritanya seringkali terbatas karena misalnya kalau dibikin terlalu berbeda dengan cara bercerita yang selama ini ditonton oleh penonton mungkin penontonnya tidak mau nonton. Film pendek bebas dari itu."
Senada, kritikus film Adrian Jonathan menilai film pendek lebih menunjukkan "keragaman realitas" Indonesia. "Saya selalu percaya kalau ingin kenal Indonesia, jangan lihat film panjangnya, lihat film pendeknya," ujarnya.
Tilik, menurutnya, membuktikan itu dengan menunjukkan realitas yang selama ini "Kita tahu, kita bayangkan ... tapi tidak terlalu terjamah dalam film panjang kita."
Kesuksesan Tilik, menurut Adrian, menunjukkan bahwa film pendek bisa diterima banyak masyarakat Indonesia ketika punya platform yang tepat.

Sumber gambar, Prenjak
Skena film pendek di Indonesia sudah aktif sejak sekitar tahun '90-an ketika handycam mulai dijual secara luas.
Festival yang menayangkan film pendek pun cukup banyak. Menurut hitungan Adrian, sebelum pandemi, ada sekitar 60-an festival film, termasuk yang diadakan oleh mahasiswa dan anak sekolahan.
"Film pendek yang selama ini tampil di kantong-kantong kecil, punya pengikutnya sendiri dalam tingkat lokal, jadi teramplifikasi secara luar biasa lewat media sosial dan (berkat) timing yang sangat tepat," ujarnya.
Perlu perantara
Tilik bisa dikatakan film pendek Indonesia pertama yang menjadi viral. Tapi Indonesia telah menghasilkan banyak film pendek yang kualitasnya diakui di luar negeri, salah satu yang paling terkenal adalah Prenjak arahan Wregas Bhanuteja yang mendapat penghargaan di Festival Semaine de la Critique, Cannes, pada tahun 2016.
Sebelumnya ada Fox Exploits Tigers Might arahan Lucky Kuswandi yang mendapat penghargaan di festival yang sama.
Adrian mengatakan, hampir tiap tahun ada film pendek karya sineas Indonesia yang mendapat penghargaan bergengsi di luar negeri.
Tapi mengapa mereka kurang populer di negeri sendiri?
Adrian menjelaskan bahwa berbicara ekosistem film secara luas, ada tiga tahap yaitu produksi (pembuatan film), distribusi (pengedaran film), dan eksibisi (penayangan film di depan penonton),
Menurutnya, di sisi produksi, sineas Indonesia menelurkan banyak karya yang beragam. Namun ketika dibawa ke distribusi, 'selang' untuk mengalirkan film-film ini tidak banyak.
"Kita menghadapi situasi bottleneck. Produksi luar biasa, tapi distribusi terbatas," kata Adrian.

Sumber gambar, Antara Foto
Ia mengatakan bahwa kebanyakan film pendek di Indonesia diedarkan secara "gerilya dan personal". Pembuat film mengontak komunitas-komunitas atau mengajukannya ke festival, kemudian dalam penayangan-penayangan terbatas itu barangkali ada penonton yang tertarik untuk mengadakan screening di daerahnya masing-masing.
"Makanya kenapa bisa lebih populer di luar karena akhirnya itu opsi yang paling jelas, dan banyak juga film kita yang dikirim ke luar. Mereka mau nampung, mereka cari itu, setiap tahun mereka ada.
"[Sementara] ke publik umum... mereka kalau mau muter di sini harus nunggu festival dulu atau inisiatif bikin pemutaran sendiri," kata Adrian.
Ia berkata pekerjaan rumah ke depannya ialah membuat semacam perantara yang bisa menghubungkan masyarakat Indonesia dengan film-film pendek yang banyak dan beragam itu.
Selain YouTube, ada platform-platform streaming lain yang menawarkan film pendek, misalnya Vidsee. Namun tidak banyak publik yang tahu.
"Kenapa Tilik menjadi populer karena tim publisisnya memang cepat menyebarkannya, ramai, strategis... filmnya juga komedi, notabene genre populer di Indonesia.
"Di sisi lain, kita menghadapi 'kebosanan akut' sejak pandemi."
Adrian berkata ia berani bertaruh bahwa kebanyakan film pendek buatan sineas Indonesia secara konten - cerita, akting, nilai produksi - superior dari sinetron. Tapi mereka masih sulit bersaing karena sinetron terkait dengan ekosistem media yang masih mendominasi yaitu televisi.
Sebelum Tilik menjadi hit di YouTube, ia pernah tayang di TVRI pada bulan Juni, sebagai bagian dari rangkaian film pendek yang mengisi slot waktu dua jam. Tapi respons masyarakat waktu itu tidak seperti sekarang.
"Saat ini, film pendek statusnya masih alternatif," kata Adrian.











