Penggunaan enzim babi untuk suplemen, 'tak menjamin'

Babi

Sumber gambar, EPA

Keterangan gambar, Fungsi pencernaan babi mirip dengan manusia, yaitu bersifat monograstik.

Badan Pengawas Obat dan Makanan, BPOM, mengintruksikan dua perusahaan obat Indonesia untuk menghentikan produksi dan/atau distribusi produknya yang positif mengandung DNA babi.

Keduanya adalah, menurut BPOM, adalah Viostin DS dari PT. Pharos Indonesia dan Enzyplex tablet yang diproduksi PT Medifarma Laboratories.

Walau tidak ada larangan penggunaan unsur babi dalam produk kesehatan, namun kedua suplemen makanan itu tidak tidak mencantumkan peringatan 'Mengandung Babi' yang diwajibkan.

BPOM juga meminta agar masyarakat tidak resah dengan beredarnya surat tersebut karena kedua perusahaan disebutkan sudah menarik produk bersangkutan.

BBC Indonesia sudah menghubungi PT Pharos Indonesia dan diminta untuk menunggu pernyataan resmi dari pihak manajemen yang sedang disiapkan sedangan penerima telepon di PT Medifarma Laboratories mengatkan staf humas sudah pulang dan diminta agar menghubungi kembali besok.

Penggunaan enzim babi babi dalam produk kesehatan jelas bukan hal baru di Indonesia maupun sejumlah negara lainnya.

Namun secara khusus sebenarnya tidak ada kelebihan dari enzim babi untuk digunakan sebagai suplemen makanan.

"Enzim punya fungsi masing-masing, misalnya untuk memecah karbohidrat atau untuk memecah protein di dalam tubuh. Jadi masing-masing punya fungsi yang berbeda," jelas Dr Rimbawan, ahli gizi dari Institut Pertanian Bogor, IPB.

"Jadi tidak bisa dipastikan bahwa enzim dari babi itu lebih baik."

Bagaimanapun fungsi pencernaan babi mirip dengan manusia, yaitu bersifat monograstik, sehingga babi bisa dijadikan model untuk penelitian manusia.

"Sehigga kemudian diasumsikan ada hal-hal yang bisa bekerja di babi mungkin bisa juga bekerja di manusia. Asumsinya seperti itu,tapi tetap saja perlu dibuktikan," jelas Dr Rimbawan, yang menyesalaikan studi S3 di Nottingham University, Inggris.

Di laboratorium, beberapa enzim babi memang digunakan untuk beberapa penelitian, antara lain untuk model-model pencernaan manusia.

"Namun untuk suplemen, saya sendiri belum pernah menelitinya," katanya.

Bagaimanapun penelitian pencernaan manusia, tambah Dr Rimbawan, jelas tidak harus mengunakan enzim babi semata karena juga bisa dengan enzim sapi.