Kisah kaum muda Amerika Serikat yang baru memperoleh paspor

paspor

Sumber gambar, Morgan Grant / Hilary Cassoday

Keterangan gambar, Morgan Grant dan Hilary Cassoday - dua warga Amerika Serikat yang baru saja mendapat paspor.
    • Penulis, Owen Amos
    • Peranan, BBC News, Washington DC

Elijah Stem tampak kebingungan ketika dia membuka kado Natal dari kekasihnya, Margo.

Warnanya merah, ukurannya lebih kecil dari buku, dan berbahan kulit.

Baru kemudian dia sadar. Benda itu adalah sampul paspor.

Mahasiswa jurusan politik berusia 21 tahun dari Philadelphia ini belum pernah keluar dari AS seumur hidupnya.

Karena itu, dia merasa sangat senang ketika mendapat hadiah sampul paspor, bantuan untuk mendapat paspor, dan jalan-jalan ke Air Terjun Niagara serta Toronto di Kanada pada Maret mendatang.

"Saya tidak mengira hal seperti itu sebagai kado. Saya sangat gembira," ujarnya.

Ada sebuah mitos yang mudah ditemukan di dunia maya bahwa hanya 10% warga Amerika Serikat yang punya paspor. Itu memang benar, pada 1994 lalu. Kini, persentasenya telah meningkat lebih dari 40% dan terus berkembang setiap tahun.

Elijah, yang termasuk bagian dari tren tersebut, bakal menikmati hak pemegang paspor AS. Berdasarkan data Indeks Paspor Global yang dikeluarkan oleh Arton Capital, pemegang paspor AS dapat berkunjung ke 158 negara tanpa memerlukan visa. Jumlah ini jauh melampaui pemegang paspor Indonesia yang hanya bisa berkunjung ke 68 negara bebas visa.

Philadelphia

Sumber gambar, Elijah Stem

Keterangan gambar, Elijah Stem dan kekasihnya, Margo, di Philadelphia.

Menurut Lisa Delpy Neirotti selaku profesor studi pariwisata di Fakutas Bisnis Universitas George Washington, AS, ada tiga penyebab terjadinya peningkatan jumlah kepemilikan paspor.

Penyebab pertama, aturan berubah sejak serangan 11 September 2001.

Sebelum 2007, warga AS bisa bepergian ke Kanada, Meksiko, dan negara-negara di sekitar, tanpa paspor.

Ketika aturan diperketat, warga AS diwajibkan membawa paspor untuk bepergian ke luar negeri. Hanya dalam tiga tahun, jumlah kepemilikan paspor AS meningkat menjadi 20 juta eksemplar.

Penyebab kedua, berkembangnya bisnis pesawat dengan tiket murah.

"Saya baru saja melihat iklan tiket pesawat ke Inggris senilai US$90 (Rp1,2 juta) satu arah ," kata Profesor Neirotti. "Siapa yang menolak kesempatan itu?"

Penyebab ketiga, adalah meningkatnya fenomena ingin mencoba sesuatu yang baru.

"Kaum milenial lebih memilih menghabiskan uangnya untuk pengalaman ketimbang produk konsumsi," ujarnnya.

"Bagi mereka lebih baik memakai uang untuk sesuatu yang akan mendatangkan kenangan—atau foto Snapchat—ketimbang mobil atau sofa baru," tambahnya.

Penjabaran tersebut diamini kekasih Elijah, Margo. Ketika dia membuka kadonya, kekasihnya berkata: "Saya tahu kamu lebih suka pengalaman daripada barang-barang."

Asia Jones, perempuan berusia 20 tahun dari Maryland juga sependapat.

Asia bekerja sama dengan kaum difabel dan pada saat bersamaan bermimpi menjadi penulis. Dia telah memulai sebuah blog yang berfokus pada perjalanan dan kecantikan.

Paspor pertamanya muncul pada awal Januari dan, menurut rencana, akan digunakan bepergian ke Meksiko atau Belize sebulan kemudian.

Asia mengaku impiannya didorong oleh buku-buku yang dibacanya.

"Saya membaca banyak novel romantis—jatuh cinta dengan miliarder, keliling dunia. Saya adalah orang yang romantis sekaligus petualang," ujarnya.

Menurutnya, internet dan media sosial mempercepat perkembangan wisata.

"Dulu prinsipnya 'kuliah, menikah, dan hidup menetap' dan semacamnya. Sekarang prinsip itu berubah, berkembang, dan saya suka arahnya," kata Asia

"Walau generasi ini kadang-kadang keterlaluan, ke manapun kami pergi pastinya seru."

Asia Jones

Sumber gambar, Asia Jones

Keterangan gambar, Asia Jones, mendapat paspornya pada Januari.

Walaupun jumlah pemegang paspor AS semakin banyak, 42% mungkin tampak kecil. Di Inggris, persentasenya jauh lebih tinggi.

Pada 2011, saat sensus diadakan, 76% warga Inggris dan Wales memiliki paspor. Hanya 17% yang tidak punya paspor sama sekali.

Hanya saja, seorang warga Amerika tanpa paspor sekalipun bisa menempuh perjalanan beribu-ribu kilometer ketimbang warga Inggris tanpa paspor.

Morgan Grant, mahasiswa berusia 22 tahun dari Maryland, baru mendapatkan paspor bulan ini. Namun, dia sudah terbang ke negara bagian AS terjauh, Alaska (6.500 kilometer) dan Hawaii (8.000 km). Dia juga pernah ke Kepulauan Virgin AS (teritori AS di Karibia, 2.500 km dari Maryland).

Bagaimanapun, Morgan memutuskan untuk membuat paspor. Baginya, itu adalah keputusan politik.

"Saya merasa perlu pilihan untuk ke luar negeri," ucapnya.

"Jika orang ini (Presiden Donald Trump) terus mencuit kepada Kim Jong-un soal tombol nuklirnya, saya perlu opsi untuk pergi," sambungnya.

Hilary Cassoday, guru matematika berusia 25 tahun dari Indiana, telah mengantongi paspor selama setahun.

Ditanya mengapa dia tidak membuatnya lebih awal, ketakutan adalah jawabannya.

"Orang-orang berpikir semua di sini (AS) aman dan segala sesuatunya di luar perbatasan tidak aman," ujarnya.

Namun, pada Maret 2017, saat berjalan-jalan ke Irlandia Utara, dia menyadari sesuatu.

"Saya benar-benar berpikir bahwa itu adalah momen terbaik dalam tahun tersebut," sebutnya.

belfast

Sumber gambar, PA

Keterangan gambar, Suasana pasar Natal di Belfast, Irlandia Utara.

Saat masih remaja, Hillary membaca buku berjudul P.S. I Love You karya Cecelia Ahern yang mengisahkan pasangan Irlandia. Hillary kemudian juga menyaksikan filmnya.

"Ketika saya melihat filmnya, ya ampun saya harus ke Irlandia," serunya.

"Begitu kesempatan itu akhirnya muncul, saya berpikir 'Inilah saatnya saya pergi melihat pemandangan indah'. Dan rasanya luar biasa."

Mulai sejak saat itu, Hillary dan kekasihnya membuat rencana.

"Kami ingin bertualang, melihat hal-hal baru," cetusnya.

"Beberapa waktu lalu kami berbincang mengenai jalan-jalan ke Jepang. Kini semuanya mungkin karena saya punya paspor."