Star Trek dan ciuman yang mengubah televisi selamanya

Menandai separuh abad franchise Star Trek, amatlah penting bagi kita untuk mengingat ide-ide luar biasa dan pernyataan-pernyataan politik yang disampaikan film dan serial ini. Hal-hal yang membuat Star Trek terus beresonansi dengan kehidupan sehari-hari penonton.

Pada tahun 1968, televisi Amerika menayangkan sebuah adegan ciuman antaretnis pertama. Ciuman ini antara Kapten Kirk dan Letnan Uhura, di film Star Trek.

Menurut Nichelle Nichols, yang memerankan Uhura, "Kami menerima tumpukan email sangat banyak dari penggemar. Semuanya sangat positif. Yang ditujukan ke saya itu kebanyakan surat dari perempuan-perempuan yang bertanya bagaimana rasanya mencium Kirk, dan banyak surat ke dia yang menanyakan bagaimana rasanya mencium saya."

Namun, motivasi ciuman yang mendobrak tabu itu sebenarnya lebih kontroversial daripada fakta bahwa pasangan tersebut berbeda warna kulit. Kirk dan Uhura berciuman bukan karena mereka sadar dan mau melakukannya.

Mereka berciuman atas kendali musuh alien psikokinetik, Parmen. Ciuman serupa terjadi antara Spock dan Nurse Chapel. Spock berasal dari bangsa Vulkan.

Tapi sebetapa ciuman itu tidak diinginkan, pesan kepada penonton, amatlah jelas. Ketika Kirk menceritakan peristiwa yang menimpanya kepada karakter bernama Alexander, Kirk mengungkapkan, "Darimana saya berasal, dia berasal, ukuran, bentuk, warna kulit, tidak penting bagi saya." Dengan kata lain, pada abad ke-23, toleransi telah menjadi norma. Dan pembuat Star Trek, Gene Roddenberry, berharap para penoton menyadari motivasi itu.

Alien berbeda kombinasi yang menyentil konflik antar ras di Amerika.
Keterangan gambar, Alien berbeda kombinasi yang menyentil konflik antar ras di Amerika.

Biasanya Roddenberry dan penulis-penulis naskah Star Trek, menggunakan kiasan alegori jika mereka ingin menyampaikan pesan politis. "Salah satu yang membuat saya senang membuat Star Trek adalah karena kru kami terus bereksplorasi dan selalu penasaran. Sehingga, selalu ada planet, spesies, cerita yang bisa dieksplorasi untuk menyampaikan pesan-pesan itu.

Mewujudkan hal tabu

Jika ditilik lebih lanjut ternyata Star Trek juga mengangkat tema seperti kehancuran yang diakibatkan oleh perang sipil (seperti yang terjadi di Amerika).

Di episode itu Enterprise menjadi tuan rumah atas kedatangan dua alien. Masing-masing alien merupakan pencerminan dari yang lain: yang satu berwajah hitam, sementara yang lain putih.

Bagi kru Enterprise, kedua alien ini terlihat sama, separuh hitam dan separuh putih. Namun, bagi si alien, mereka merasa berbeda.

Ketika kru tiba di planet rumah kedua-alien itu, mereka tidak terkejut karena ras alien itu, saling bermusuhan, menghancurkan peradaban. Kebencian sangat terasa.

Kedua alien tersebut ternyata adalah yang selamat dari masing-masing kombinasi warna. Dan penonton yang mengharapkan happy-ending, kecewa. Karena seperti kata Kirk, "hanya kebencianlah yang tersisa."

Sebuah episode menggambarkan konflik yang terjadi di Perang Vietnam.
Keterangan gambar, Sebuah episode menggambarkan konflik yang terjadi di Perang Vietnam.

Semua kisah fiksi ilmiah, selalu mengisahkan dua cerita: tentang dunia di mana kisah itu terjadi, dan dunia nyata saat itu. Dan banyak sekali peristiwa-peristiwa pahit Amerika di abad 20, yang disampaikan oleh Star Trek. Star Trek adalah salah satu yang pertama kali mendramatisasi Perang Vietnam. Kiasan dan perumpamaan membuat penulis dapat mengisahkan kompleksitas perang tanpa terkesan tidak patriotik. Di sebuah episode, Kirk dan McCoy, dokter Enterprise, mengunjungi Neural, sebuah planet di mana Kirk pernah tinggal. Kirk menyebut penghuni planet di pasifik tersebut adalah orang-orang tidak berdosa.

Bahkan sebelum peristiwa 11 September, Star Trek telah menggambarkan bagaimana terorisme akan mempengaruhi politik dunia.

Sumber gambar, PARAMOUNT

Keterangan gambar, Bahkan sebelum peristiwa 11 September, Star Trek telah menggambarkan bagaimana terorisme akan mempengaruhi politik dunia.

Ketika Kirk kembali ke Neural, dia menemukan bahwa Klingon telah mempersenjatai sekelompok warga desa dengan pistol - untuk melawan Prime Directive, yang melarang kedatangan alien dengan teknologi perjalanan antariksa - Kirk pun berakhir mempersenjatai teman lamanya, Tyree, untuk mempertahankan keseimbangan.

Di satu titik, Kirk bahkan secara eksplisit menggambarkan apa yang tengah dialaminya mirip dengan "perang di abad 20, di sebuah negara di benua Asia". Episode ini mempertanyakan apa yang akan terjadi pada penduduk Neural jika dua kekuatan besar di planet itu tetap berkeras mempertahankan egonya?

Episode ini menjadi kritik keras bagi kebijakan luar negeri Amerika saat itu.

Merambah politik

Dan bahkan horor dari Perang Dingin, juga digambarkan oleh Star Trek. Misalnya pada sebuah episode Next Generation pada 1991, The Drumhead, yang mana penonton dihadapkan pada pertanyaan bagaimana rasanya menjadi orang tak bersalah, saat pemerintah meyakini Anda bersalah.

Dan yang lebih mengganggu lagi, seberapa cepat perasaan bersalah menginfeksi orang-orang yang semula membela si orang yang tidak berdosa itu.

Sementara itu, kisah terorisme diangkat secara hati-hati oleh Star Trek Deep Space Nine. Di episode Homefront, kru Enterprise menginterogasi organisasi pelatih teroris.

Mengejutkan bahwa episode ini bahkan dibuat sebelum tragedi 11 September, yang mana belum banyak orang tahu apa itu teroris.

Gambaran dunia masa depan di Star Trek.
Keterangan gambar, Gambaran dunia masa depan di Star Trek.

Salah satu episode paling diingat dari Deep Space Nine, menceritakan apa yang terjadi setelah sebuah kejahatan perang. Kru mengikuti persidangan seorang ras Cardassian yang menderita kondisi medis unik yang hanya bisa diperoleh jika ia berada di lokasi kejahatan perang.

Apakah dia tidak bersalah? Ataukah dia adalah salah satu arsitek dari pembunuhan massal itu? Episode ini ditayangkan pada 1993, setahun sebelum Perang Bosnia.

Jadi, jika penulis-penulis Star Trek menggunakan kiasan untuk menceritakan apa yang terjadi pada abad ke-20, di cerita pada abad ke-23, apakah mereka ingin kita, penonton, tahu bahwa mereka sengaja melakukan itu?

Melalui episode berjudul Darmok dari Star Trek The Next Generation, penulis tampaknya ingin kita tahu bahwa mereka menggunakan kiasan dan metafora. Mereka membuat keseluruhan plot dari episode tersebut bergantung pada metafora dan kiasan.

Picard diceritakan terisolasi di sebuah planet bersama Dathon, seorang alien Tamarian yang bahasanya tidak dimengerti. Bukan karena bahasanya berbeda, tetapi kata-kata yang dilontarkan tidak bisa dipahami maknanya, karena disampaikan acak atau tidak jelas.

Star Trek memprediksi terorisme, kemiskinan, menjadi masalah terbesar di abad 21.
Keterangan gambar, Star Trek memprediksi terorisme, kemiskinan, menjadi masalah terbesar di abad 21.

Pada akhirnya, Picard dan krunya menyadari bahwa Tamarian berkomunikasi hanya dengan metafora. Hanya dengan memahami bahasa kiasan, maka pada akhirnya Picard bisa memahami alien Tamarian. Dan hanya dengan menghargai kekuatan bahasa kias, kita baru bisa memaknai kompleksnya Star Trek.

---------

<italic>Anda bisa menyimak versi bahasa Inggris dari artikel ini dengan judul </italic><link type="page"><caption> Star Trek and the Kiss that Changed TV</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/culture/story/20160707-star-trek-turns-50-why-it-was-subversive-and-groundbreaking" platform="highweb"/></link> <italic>di</italic> <link type="page"><caption> BBC Culture</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/culture" platform="highweb"/></link>.