Covid: Gotong royong warga bantu pasien isoman 'atasi masalah yang harusnya diantisipasi pemerintah'

Warga menyiapkan plastik berisi paket sembako untuk dibagikan kepada warga yang terdampak pandemi COVID-19 di lingkungan RW 03, Kelurahan Lempongsari, Gajahmungkur, Semarang, Jawa Tengah, Jumat (2/7/2021).

Sumber gambar, AJI STYAWAN/Antarafoto

Keterangan gambar, Berbagai gerakan sosial bermunculan untuk meringankan beban warga yang ekonominya terdampak pandemi Covid-19 serta bagi warga yang tengah menjalani isolasi mandiri.
    • Penulis, Pijar Anugerah
    • Peranan, BBC News Indonesia
  • Waktu membaca: 4 menit

Saat pemerintah Indonesia kewalahan menangani pandemi Covid-19, gerakan masyarakat bermunculan untuk membantu warga yang sedang menjalani isolasi mandiri (isoman). Pengamat mengatakan gerakan warga itu mengatasi masalah yang seharusnya sudah diantisipasi oleh pemerintah.

Ketika keluarga salah satu teman dekatnya terkena Covid-19 dan harus menjalani isolasi mandiri, dokter Riyo Pungki Irawan menyadari bahwa ada banyak pasien isoman yang tidak terpantau.

Dokter kesehatan anak yang berbasis di Yogyakarta itu memutuskan untuk membuka layanan konsultasi kesehatan gratis, dan mencantumkan nomor WhatsApp pribadinya di Twitter.

Baca juga:

Sejak membuka layanan telemedicine pada tanggal tujuh Juli, sudah sekitar 800 orang yang meminta konsultasi, kata dokter Riyo. Ia dihubungi begitu banyak orang, sehingga akhirnya mengajak rekan-rekannya sesama dokter untuk membantu.

Hentikan X pesan
Izinkan konten X?

Artikel ini memuat konten yang disediakan X. Kami meminta izin Anda sebelum ada yang dimunculkan mengingat situs itu mungkin menggunakan cookies dan teknologi lain. Anda dapat membaca X kebijakan cookie dan kebijakan privasi sebelum menerima. Untuk melihat konten ini, pilihlah 'terima dan lanjutkan'.

Peringatan: Konten pihak ketiga mungkin berisi iklan

Lompati X pesan

Kepada BBC News Indonesia, dokter berusia 24 tahun itu menjelaskan bahwa ia hanya melayani konsultasi medis, dan tidak melayani permintaan ambulans dan suplai obat.

Dokter Riyo juga tidak memberikan resep, tetapi sekadar merekomendasikan obat yang boleh dan tidak boleh diminum. Menurutnya, banyak pasien isoman minum obat tanpa pengawasan dokter.

"Rata-rata pasien sudah minum obat duluan, tanpa pengawasan, tanpa tahu bahwa sebenarnya ini tidak butuh, karena banyak broadcast dari grup WhatsApp dan sebagainya tentang obat ini-itu. Jadi kita membenarkan terapinya," kata dokter Riyo.

Sang dokter mengatakan bahwa dengan inisiatif ini, ia bermaksud memperkuat sistem pelayanan kesehatan yang sudah ada. Pemerintah telah menggandeng 11 platform telemedicine untuk membantu para pasien isoman namun, saat pandemi di Indonesia sedang parah-parahnya, permintaan untuk konsultasi pun membludak.

"Jadi kita membantu menambah dokternya saja supaya obat-obat yang sudah didistribusikan memang tepat penggunaannya," ungkapnya.

Dokter Riyo Irawan

Sumber gambar, Riyo Irawan

Keterangan gambar, Dokter Riyo mengatakan banyak pasien isoman minum obat tanpa pengawasan dokter.

Dokter Riyo adalah satu dari sekian banyak anggota masyarakat yang tergerak untuk saling membantu pada saat pandemi di Indonesia memasuki fase terburuk.

Di Purwakarta, Jawa Barat, seorang petani bernama Djoky Haryadi membagikan beras hasil panennya sendiri kepada anggota komunitasnya yang tengah menjalani isolasi mandiri. Ia juga membantu menyuplai vitamin dan mencarikan tabung oksigen.

"Kebetulan pas panen harga gabah kering hanya diterima Rp3000 rupiah, saya bagikan saja ke teman-teman sebagai amal saleh," katanya kepada BBC News Indonesia. "Supaya mereka tidak lagi menunggu bansos dari pemerintah."

Djoky mengaku tidak hanya membantu orang di kampung halamannya, tapi juga di Jakarta dan Bandung. Ia mengatakan, banyak orang membutuhkan bantuannya karena mereka tidak ditolong oleh orang-orang di sekitar mereka.

"Tetangga-tetangganya sudah tidak ada yang care... karena kan mereka kan selalu takut oleh pandemi Wuhan ini. Gue bilang lu enggak usah takut selama disiplin, pake masker dan sebagainya," kata Djoky.

Djoky Haryadi

Sumber gambar, Djoky Haryadi

Keterangan gambar, Djoky mengatakan banyak orang membutuhkan bantuannya karena mereka tidak ditolong oleh orang-orang di sekitar mereka.

'Seharusnya diantisipasi pemerintah'

Relawan Kawal Covid-19, Elina Ciptadi, menilai gerakan swadaya masyarakat untuk membantu pasien isoman adalah pertanda semangat gotong-royong masih hidup di antara warga Indonesia.

Namun, ia juga menyoroti bahwa banyak warga urun daya untuk mengatasi masalah yang seharusnya sudah diantisipasi oleh pemerintah. Misalnya, masalah kelangkaan oksigen.

"Semua pihak kan sebenarnya tahu bahwa setelah Lebaran itu adalah masa-masa berbahaya untuk lonjakan kasus jadi stoknya harusnya diamankan, kemudian distribusinya juga secara logistik bagaimana supaya orang-orang tidak kekurangan. Itu sebenarnya hal-hal yang bisa diprediksi," kata Elina.

oksigen
oksigen

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Warga di Jakarta kelimpungan karena kelangkaan oksigen - masalah yang seharusnya sudah diantisipasi pemerintah, kata relawan Kawal Covid-19 Elina Ciptadi.

Indonesia masih kesulitan untuk lepas dari pandemi Covid-19. Malah, situasinya tampak semakin memburuk karena lambannya respons pemerintah yang diperparah dengan kemunculan varian delta.

Pada Senin (12/07) pertambahan kasus mencapai 40.427 - rekor baru, sementara jumlah orang yang dites turun ke 123.317 dari 128.055 pada hari sebelumnya. Angka kematian pun tetap tinggi, berkisar di angka 800-1000 orang per hari dalam seminggu terakhir.

Kematian saat isoman 'puncak gunung es'

Sementara itu, organisasi pemantau Lapor Covid-19 menemukan setidaknya 400 orang meninggal dunia saat menjalani isolasi mandiri sejak Juni lalu. Jumlah tersebut didapatkan dari laporan masyarakat dan pencarian data melalui media sosial dan media massa.

Anggota tim developer Lapor Covid-19, Said Fariz Hibban, mengatakan data tersebut masih merupakan puncak gunung es karena masih banyak yang belum terlaporkan.

covid, indonesia

"Data kita masih terbilang underreport... yang tidak terlacak juga banyak," ungkapnya kepada BBC News Indonesia.

Menurut Lapor Covid-19, sebagian pasien isoman meninggal karena tak terpantau atau terlambat ditangani karena rumah sakit sudah penuh. Banyak dari mereka keluarganya juga dinyatakan positif Covid-19.

Dari 451 kematian saat isoman yang terdata oleh Lapor Covid-19, jumlah terbanyak ditemukan di Jawa Barat, yakni sebanyak 160 kematian, disusul Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dengan 84 kematian.

Menanggapi laporan tersebut, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil meminta agar wali kota dan bupati melakukan pengecekan kondisi warga yang isoman melalui RT/RW. "Jangan sampai baru paham ada warga yang meninggal di rumah," ujarnya dalam konferensi pers virtual, Senin (12/07).

Gubernur Jabar Ridwan Kamil

Sumber gambar, NOVRIAN ARBI/Antarafoto

Keterangan gambar, Gubernur Jabar mengatakan akan menyediakan akses obat gratis untuk menekan jumlah pasien yang meninggal dunia saat isoman.

Hadir sebagai pembicara di acara yang diselenggarakan oleh Center for Indonesia's Strategic Initiatives (CISDI), pria yang akrab disapa dengan panggilan Emil itu mengakui masih ada kekurangan dalam sistem pelayanan kesehatan masyarakat.

Maka dari itu, ia mengatakan Pemprov mengalihkan dana dari proyek infrastruktur senilai Rp140 miliar untuk menyediakan dan untuk membuka layanan telekonsultasi dan obat gratis bagi pasien isoman yang dapat diakses melalui aplikasi online.

"Mulai minggu ini kita siapkan akses gratis atau subsidi untuk yang isoman, supaya yang meninggal, kekurangan oksigen saat isoman juga kita tekan," ujarnya.

Dalam kesempatan terpisah, Sekretariat Daerah DIY Baskara Aji mengatakan bahwa pemantauan terhadap pasien isoman dilakukan secara berjenjang dari tingkat RT hingga Puskesmas setempat.

"Puskesmas akan memberikan konsultasi jika pasien isoman perlu dirujuk ke rumah sakit atau shelter. Adapun yang bisa di rumah akan terus dipantau sampai yang bersangkutan sembuh," ujarnya kepada BBC News Indonesia.