Vaksin Nusantara: BPOM sebut relawan mengalami nyeri otot hingga gatal-gatal, sejumlah ahli mengatakan 'tak layak disebut vaksin'

Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/wsj

Keterangan gambar, Mantan Menteri Keseahtan Terawan Agus Putranto saat ini menjadi Ketua Tim Pengembang Vaksin Nusantara.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mencatat 71,4% relawan uji klinis tahap I vaksin Nusantara mengalami apa yang disebut 'Kejadian Tak Diinginkan' (KTD), berupa nyeri otot hingga gatal-gatal.

Laporan ini dikeluarkan di tengah langkah sejumlah politikus menjalani pengambilan darah untuk uji vaksin Nusantara, yang mereka anggap sebagai langkah nasionalisme.

Di sisi lain, sejumlah ahli menyatakan metode vaksin Nusantara lebih cocok digunakan untuk pengobatan kanker dibandingkan digunakan secara massal melawan virus Covid-19, bahkan tak layak disebut sebagai vaksin.

Baca juga:

BPOM melaporkan 71,4% relawan uji vaksin 'Covid-19' Nusantara mengalami apa yang disebut Kejadian yang Tak Diinginkan (KTD).

"Sebanyak 20 dari 28 subjek (71.4%) mengalami Kejadian yang Tidak Diinginkan, meskipun dalam grade 1 dan 2," tulis laporan yang diterima BBC News Indonesia dari BPOM, Rabu (14/04).

KTD yang dimaksud adalah nyeri lokal, nyeri otot, nyeri sendi, nyeri kepala, penebalan, kemerahan, gatal, ptechiae, lemas, mual, demam, batuk, pilek dan gatal.

Bukan hanya itu, pada grade 3, terdapat enam relawan yang mengalami KTD. Satu relawan mengalami hiperneatremi atau konsentrasi natrium yang tinggi dalam darah dengan gejala seperti orang kekurangan air minum.

"Tiga subjek mengalami peningkatan kolesterol," tulis laporan tersebut.

Keterangan video, Vaksin Covid-19 buatan Indonesia

Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah politikus seperti Aburizal Bakrie dan Gatot Nurmantyo memamerkan telah menjalani pengambilan darah untuk vaksin Nusantara.

Sejumlah anggota DPR yang membidangi kesehatan juga ikut andil dalam pengambilan darah tersebut.

Ketua Komisi IX DPR, Felly Estelita Runtuwene yang ikut mendukung langkah vaksin Nusantara ini menilai saat ini terjadi krisis vaksin dunia, sehingga dibutuhkan vaksin buatan dalam negeri.

"Kemudian kemarin bicara soal nasionalisme vaksin, juga lagi dalam pembicaraan hangat juga kan. Baik pemerintah Indonesia, maupun yang belum memproduksi vaksin," katanya kepada BBC News Indonesia, Rabu (14/04).

Bulan lalu saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi IX DPR yang membidangi kesehatan, Ketua Tim Pengembang Vaksin Nusantara, Terawan Agus Putranto berharap pemerintah melanjutkan vaksin ini.

Program vaksinasi dunia

Gulir daftar
Dunia
61
12.120.524.547
China
87
3.403.643.000
India
66
1.978.918.170
Amerika Serikat
67
596.233.489
Brasil
79
456.903.089
Indonesia
61
417.522.347
Jepang
81
285.756.540
Bangladesh
72
278.785.812
Pakistan
57
273.365.003
Vietnam
83
233.534.502
Meksiko
61
209.179.257
Jerman
76
182.926.984
Rusia
51
168.992.435
Filipina
64
153.852.751
Iran
68
149.957.751
Inggris
73
149.397.250
Turki
62
147.839.557
Prancis
78
146.197.822
Thailand
76
139.099.244
Italia
79
138.319.018
Korea Selatan
87
126.015.059
Argentina
82
106.075.760
Spanyol
87
95.153.556
Mesir
36
91.447.330
Kanada
83
86.256.122
Kolombia
71
85.767.160
Peru
83
77.892.776
Malaysia
83
71.272.417
Arab Saudi
71
66.700.629
Myanmar
49
62.259.560
Chili
92
59.605.701
Taiwan
82
58.215.158
Australia
84
57.927.802
Uzbekistan
46
55.782.994
Maroko
63
54.846.507
Polandia
60
54.605.119
Nigeria
10
50.619.238
Ethiopia
32
49.687.694
Nepal
69
46.888.075
Kamboja
85
40.956.960
Sri Lanka
68
39.586.599
Kuba
88
38.725.766
Venezuela
50
37.860.994
Afrika Selatan
32
36.861.626
Ekuador
78
35.827.364
Belanda
70
33.326.378
Ukraina
35
31.668.577
Mozambik
44
31.616.078
Belgia
79
25.672.563
Uni Emirat Arab
98
24.922.054
Portugal
87
24.616.852
Rwanda
65
22.715.578
Swedia
75
22.674.504
Uganda
24
21.756.456
Yunani
74
21.111.318
Kazakstan
49
20.918.681
Angola
21
20.397.115
Ghana
23
18.643.437
Irak
18
18.636.865
Kenya
17
18.535.975
Austria
73
18.418.001
Israel
66
18.190.799
Guatemala
35
17.957.760
Hong Kong
86
17.731.631
Ceko
64
17.676.269
Rumania
42
16.827.486
Hungaria
64
16.530.488
Republik Dominika
55
15.784.815
Swiss
69
15.759.752
Aljazair
15
15.205.854
Honduras
53
14.444.316
Singapura
92
14.225.122
Bolivia
51
13.892.966
Tajikistan
52
13.782.905
Azerbaijan
47
13.772.531
Denmark
82
13.227.724
Belarus
67
13.206.203
Tunisia
53
13.192.714
Pantai Gading
20
12.753.769
Finlandia
78
12.168.388
Zimbabwe
31
12.006.503
Nikaragua
82
11.441.278
Norwegia
74
11.413.904
Selandia Baru
80
11.165.408
Kosta Rika
81
11.017.624
Irlandia
81
10.984.032
El Salvador
66
10.958.940
Laos
69
10.894.482
Yordania
44
10.007.983
Paraguai
48
8.952.310
Tanzania
7
8.837.371
Uruguai
83
8.682.129
Serbia
48
8.534.688
Panama
71
8.366.229
Sudan
10
8.179.010
Kuwait
77
8.120.613
Zambia
24
7.199.179
Turkmenistan
48
7.140.000
Slovakia
51
7.076.057
Oman
58
7.068.002
Qatar
90
6.981.756
Afghanistan
13
6.445.359
Gini
20
6.329.141
Libanon
35
5.673.326
Mongolia
65
5.492.919
Kroasia
55
5.258.768
Lithuania
70
4.489.177
Bulgaria
30
4.413.874
Suriah
10
4.232.490
Wilayah Palestina
34
3.734.270
Benin
22
3.681.560
Libia
17
3.579.762
Niger
10
3.530.154
Kongo
2
3.514.480
Siera Lione
23
3.493.386
Bahrain
70
3.455.214
Togo
18
3.290.821
Kirgyztan
20
3.154.348
Somalia
10
3.143.630
Slovenia
59
2.996.484
Burkina Faso
7
2.947.625
Albania
43
2.906.126
Georgia
32
2.902.085
Latvia
70
2.893.861
Mauritania
28
2.872.677
Botswana
63
2.730.607
Liberia
41
2.716.330
Mauritius
74
2.559.789
Senegal
6
2.523.856
Mali
6
2.406.986
Madagaskar
4
2.369.775
Chad
12
2.356.138
Malawi
8
2.166.402
Moldova
26
2.165.600
Armenia
33
2.150.112
Estonia
64
1.993.944
Bosnia dan Hersegovina
26
1.924.950
Bhutan
86
1.910.077
Republik Macedonia Utara
40
1.850.145
Kamerun
4
1.838.907
Kosovo
46
1.830.809
Siprus
72
1.788.761
Timor Leste
52
1.638.158
Fiji
70
1.609.748
Trinidad dan Tobago
51
1.574.574
Jamaika
24
1.459.394
Makau
89
1.441.062
Malta
91
1.317.628
Luksemburg
73
1.304.777
Sudan Selatan
10
1.226.772
Republik Afrika Tengah
22
1.217.399
Brunei Darussalam
97
1.173.118
Guyana
58
1.011.150
Maldives
71
945.036
Lesotho
34
933.825
Yaman
1
864.544
Kongo
12
831.318
Namibia
16
825.518
Gambia
14
812.811
Islandia
79
805.469
Cape Verde
55
773.810
Montenegro
45
675.285
Komoros
34
642.320
Papua Nugini
3
615.156
Guinea-Bissau
17
572.954
Gabon
11
567.575
eSwatini
29
535.393
Suriname
40
505.699
Samoa
99
494.684
Belize
53
489.508
Equatorial Guinea
14
484.554
Kepulauan Salomon
25
463.637
Haiti
1
342.724
Bahama
40
340.866
Barbados
53
316.212
Vanuatu
40
309.433
Tonga
91
242.634
Jersey
80
236.026
Djibouti
16
222.387
Seychelles
82
221.597
Sao Tome dan Principe
44
218.850
Isle of Man
79
189.994
Guernsey
81
157.161
Andora
69
153.383
Kiribati
50
147.497
Kepulauan Cayman
90
145.906
Bermuda
77
131.612
Antigua dan Barbuda
63
126.122
Saint Lucia
29
121.513
Gibraltar
123
119.855
Kepulauan Faroe
83
103.894
Grenada
34
89.147
Greenland
68
79.745
St Vincent dan Grenadines
28
71.501
Liechtenstein
69
70.780
Kepulauan Turks dan Caicos
76
69.803
San Marino
69
69.338
Dominika
42
66.992
Monako
65
65.140
Federasi Saint Kitts dan Nevis
49
60.467
British Virgin Islands
59
41.198
Kepulauan Cook
84
39.780
Anguila
67
23.926
Nauru
79
22.976
Burundi
0,12
17.139
Tuvalu
52
12.528
Saint Helena
58
7.892
Montserrat
38
4.422
Kepulauan Falkland
50
4.407
Niue
88
4.161
Tokelau
71
1.936
Pitcarn Islands
100
94
British Indian Ocean Territory
0
0
Eritrea
0
0
Korea Utara
0
0
South Georgia and the South Sandwich Islands
0
0
Vatikan
0
0

Upgrade browser Anda untuk melihat data interaktif

Kata Terawan, setidaknya, vaksin Nusantara bisa digunakan untuk mengatasi pasien Covid-19 yang mengalami autoimun, dan komorbid berat. "Ini sebuah solusi, alternatif yang bisa digunakan," katanya.

Namun, langkah vaksin Nusantara mengambil sampel darah dari para politikus ini bukan bagian dari uji klinis fase II, kata Juru bicara vaksinasi Covid-19 dari BPOM, Lucia Rizka Andalusia.

"Kita tidak ada sih, tidak ada permohonan uji klinis fase kedua RSPAD (Gatot Subroto), juga tidak ada. Dan kita tidak memberi persetujuan juga," kata Rizka kepada BBC News Indonesia, Rabu (14/04).

Sebelumnya, BPOM telah memberikan sejumlah catatan kepada tim peneliti vaksin Nusantara, bahkan lembaga ini belum memberikan izin uji klinis fase II.

BPOM temukan sejumlah masalah vaksin Nusantara

covid-19, vaksin, AS, Johnson & Johnsosn, vaksin dosis tunggal

Sumber gambar, Getty Images

Temuan BPOM di antaranya, produk vaksin dendritik tidak dibuat dalam kondisi yang steril, penggunaan antigen yang hanya layak untuk laboratorium bukan manusia, metode pengujian tidak dilakukan validasi dan standardisasi sebelum pelaksanaan penelitian.

"Beberapa alat ukur tidak terkaliberasi dan metode pengujian tidak tervalidasi dengan baik, sehingga akurasi hasil pengujian tidak dapat diterima," tulis laporan BPOM.

Selain itu, BPOM juga menemukan persetujuan Lolos Kaji Etik penelitian tidak dilakukan oleh Komite Etik tempat penelitian dilakukan. Terdapat data-data yang diganti oleh peneliti dengan menghilangkan data lama.

Beberapa tahapan proses pembuatan dan pengujian vaksin sel dendtritik dilakukan oleh AIVITA Biomedical Inc (dilaksanakan tenaga kerja asing). "Terkait hal tersebut, belum ada kontrak antara AIVITA dengan RSUP Dr. Kariadi."

Ikut dikritisi para ahli

Keterangan video, WATCH: Pfizer v Oxford v Moderna – three Covid-19 vaccines compared

Metode vaksin Nusantara menggunakan basis sel dendritik (dendritic cell), yang bersifat personal. Caranya, seseorang diambil sampel darahnya untuk diberikan antigen berupa virus yang sudah dilemahkan. Setelah diolah, kemudian disuntikkan kembali ke orang tersebut.

Pakar biologi molekuler, Ahmad Utomo mengatakan vaksin Nusantara tidak cocok diterapkan di situasi pandemi. Kata dia, metode yang digunakan vaksin Nusantara terlalu individual yang lebih pas mengobati penyakit kanker.

Beda dengan vaksin lain yang bersifat massal, di mana seluruh orang bisa mendapatkan suntikan yang sama.

"Vaksin seperti dendritik ini lebih cocok pada penyakit-penyakit yang non-infeksi seperti kanker misalnya. Kalau kanker imunitas sel itu penting," kata Ahmad Utomo kepada BBC News Indonesia, Rabu (14/04).

covid-19, vaksin, AS, Johnson & Johnsosn, vaksin dosis tunggal

Sumber gambar, Getty Images

Selain itu, Ahmad Utomo mengatakan karena ini sangat individual, akan sulit untuk mendapatkan nilai efikasi. Ia juga berpendapat vaksin ini jauh lebih mahal dari vaksin yang sudah ada seperti Sinovac dan AstraZeneca karena penerapannya rumit.

Pengurus Perhimpunan Ahli Epidemiolog Indonesia, Masdalina Pane juga berpendapat serupa. Ia meyakini metode vaksin Nusantara akan menelan biaya mahal, karena penerapannya berlaku ekslusif untuk perorangan.

Dari keilmuan epidemiologi, kata Masdalina, vaksin Nusantara tak layak disebut sebagai vaksin.

"Karena kalau vaksin itu sifatnya massal... Sementara vaksin Nusantara itu sangat individual sekali, selnya itu berasal dari tubuh kita sendiri. Apakah ini terapi... tapi saya tidak setuju kalau namanya vaksin," kata Masdalina kepada BBC News Indonesia, Rabu (14/04).

Sementara itu, Ahli Kesehatan Masyarakat dari Universitas Indonesia, Rita Damayanti ikut menimpali. Menurutnya, vaksin Nusantara 'pasti lebih mahal' dibanding vaksin yang digunakan untuk program kesehatan masyarakat.

Joko Widodo

Sumber gambar, Antara

Keterangan gambar, Presiden Joko Widodo menjadi orang pertama di Indonesia yang menerima vaksin Sinovac.

"Itu kurang masuk akal bagi public health, tapi kalau model untuk orang kaya, yang bisa bayar mahal, itu sih terserah, tapi itu tak bisa dipaksakan untuk program public health," katanya.

Dalam laporan BPOM juga disebutkan, seluruh komponen utama pembuatan vaksin dendritik impor dari Amerika Serikat. Untuk transfer teknologi sekaligus kerjasama industrial, "belum memiliki sarana produksi untuk produk biologi, membutuhkan waktu dua hingga lima tahun untuk mengembangkan di Indonesia."

BPOM juga menyarankan agar penelitian ini dikembangkan dulu di pra-klinik sebelum masuk uji klinik untuk mendapatkan konsep dasar yang jelas, "Sehingga pada uji klinik di manusia bukan merupakan percobaan yang belum pasti."