Virus corona: Kasus positif Covid-19 ditemukan di pasar tradisional berbagai kota, tapi Kemendag harap pasar tetap dibuka

Sumber gambar, Reuters
Sejumlah pedagang pasar tradisional di beberapa kota di Indonesia dinyatakan positif virus corona bahkan meninggal akibat mengidap Covid-19. Pemerintah daerah menutup pasar-pasar itu dengan target mencegah meluasnya penyebaran virus corona.
Namun kebijakan otoritas lokal itu dianggap memperburuk perekonomian masyarakat kelas bawah. Kementerian Perdagangan meminta seluruh pasar tradisional tetap buka selama pandemi.
Pasar Senen yang merupakan salah satu pasar tradisional terbesar di Jakarta beroperasi normal, Selasa (05/05). Walau berada di daerah dengan pembatasan sosial berskala besar, sangat sedikit pedagang yang terlihat mengenakan masker wajah.
Imbauan jaga jarak pun tampak diabaikan karena para pedagang dan pembeli saling berhimpitan di gang-gang pasar yang sempit. Sejumlah orang bersin tanpa menutup wajah mereka dengan siku.
Hingga berita ini diturunkan memang tidak ada satupun pedagang Pasar Senen yang diawasi atau positif mengidap Covid-19. Meski begitu, Hamzah, pedagang di pasar itu, mengaku waswas bakal tertular penyakit tersebut selama beraktivitas di pasar.
"Jelas saya khawatir, jadi saya pakai masker dan tidak berdekatan dengan orang lain," tuturnya.
Namun saat berbicara kepada BBC News Indonesia, Hamzah tak mengenakan masker. Ia pun duduk berdekatan dengan pedagang di kios sebelahnya.
Hendra, penjual telur di Pasar Senen, mengaku harus terus berdagang karena itulah satu-satunya sumber penghasilannya.
Berdasarkan pantauan, Hendra tak mengenakan masker selama bertransaksi dengan sejumlah pembeli, meski ia mengklaim rajin menjaga kebersihan diri.
"Saya tidak takut tertular, tapi waspada. Saya ikuti anjuran pemerintah, pakai masker dan cuci tangan. Aktivitas tetap jalan seperti biasa karena saya kan harus kerja," tuturnya.
"Walau pasar ditutup, pasti akan ada pedagang yang memaksa buka. Kalau pemasukan tidak ada, bingung juga, jadi harus berjualan," kata Hendra.

Sumber gambar, ANTARA/Aloysius Jarot Nugroho
Di Padang, Sumatera Barat, pertengahan April lalu Pasar Raya sempat ditutup lima hari oleh pemerintah setempat.
Pasar tradisional itu disebut klaster kasus Covid-19 karena, puluhan orang, baik pedagang dan pembeli, dinyatakan positif tertular virus corona.
Awal Mei ini, Pasar Jojoran di Surabaya, Jawa Timur ditutup pemerintah kota karena seorang pedagang meninggal setelah positif terpapar Covid-19.
Penutupan pasar 'memukul' pedagang kecil
Pada saat yang sama di Buleleng, Bali, sebuah desa berpenduduk sekitar 11 ribu orang ditutup akibat pasar tradisional menjadi kluster kasus Covid-19.
Gede Suyasa, Sekretaris Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Buleleng, menyebut 46 warga Desa Bondalem positif Covid-19, beberapa di antaranya pedagang pasar.
"Yang pertama kali positif Covid di desa itu sebenarnya berdagang di gang, bukan di pasar. Dia membeli bahan ke pasar. Karena itu akhirnya kami telusuri pedagang pasar," kata Gede via telepon.
"Awalnya kami tes 20 orang yang sempat kontak dengan pedagang itu. Empat di antaranya positif. Lalu semua pedagang dites, hasilnya total 16 orang positif," ucapnya.

Sumber gambar, ANTARA/Moch Asim
Namun penutupan pasar dianggap tidak tepat oleh Kementerian Perdagangan (Kemendag). Alasannya, keputusan itu akan memukul para pedagang pasar tradisional yang tak mampu menjangkau wadah jual-beli daring.
Kepala Humas Kemendag, Olvy Adrianita, menyebut pemerintah daerah semestinya memindahkan lokasi pasar tradisional yang bermasalah. Operasional seluruh pasar pun, kata dia, harus mengikuti protokol Covid-19 yang disusun pemerintah pusat.
"Pasar yang gelap atau kumuh bisa dipindah ke jalan, parkiran, atau tempat luas yang lebih bersih. Itu syaratnya," ujar Olvy saat dihubungi.
"Setiap pedagang harus menggunakan sarung tangan dan masker. Pelaksanaannya harus dimonitor pemerintah daerah."
"Ada penurunan omzet pedagang, itu harus disiasati. Orang bisa mati kelaparan di berbagai daerah karena mereka tidak bisa berjualan atau membeli barang," tuturnya.

Sumber gambar, ANTARA/Akbar Nugroho Gumay
Dokumen protokol Covid-19 untuk pasar atau pedagang kaki lima versi pemerintah, memuat delapan poin. Operator dan pengelola pasar diminta memeriksa suhu tubuh orang-orang di pasar setidaknya dua kali sehari.
Poin lainnya antara lain mengatur tentang penggunaan masker bagi yang mengalami batuk dan pilek; penerapan etika batuk atau bersin, hingga pembersihan toilet secara teratur.
Olvy menyebut pengaturan ulang pasar tradisional di Salatiga, Jawa Tengah, sebagai contoh terbaik. Pemkot Salatiga membuat lapak pedagang saling berjarak dan mewajibkan semua orang di pasar itu mengenakan masker.
"Jadi tergantung pemerintah daerah, mereka kan bisa relokasi. Pasar yang gelap atau kumuh bisa dipindah ke jalan, parkiran, atau tempat luas yang lebih bersih."
"Jangan paksa pasar tetap buka di tempatnya padahal tidak layak," kata Olvy.

Sumber gambar, ANTARA/BAYU PRATAMA S
Bagaimanapun, anjuran agar pemerintah lokal memindahkan aktivitas pasar bermasalah ke lokasi yang lebih higienis tak dapat dijalankan, setidaknya oleh otoritas di Kabupaten Buleleng.
Setelah pasar di Desa Bondalem menjadi klaster kasus Covid-19, kata Gede Suyasa dari Gugus Tugas Buleleng, semua penduduk, termasuk pedagang pasar, wajib tinggal di rumah.
"Desa itu sudah kami tutup, jadi pedagang di sana tidak mungkin berjualan ke daerah lain. Warga harus tinggal di rumah, maka kami bagikan sembako ke 11.972 jiwa selama 14 hari," kata Gede.
Jaga jarak di pasar sulit diterapkan
Namun di Surabaya, pemerintah setempat bersiasat agar para pedagang di Pasar Gresik PPI yang ditutup, sementara waktu tetap bisa berjualan. Di klaster pasar tradisional itu, 21 orang positif Covid-19 dan dua orang meninggal.
"Kalau semua pedagang berjualan, pasar itu akan penuh dan PSBB sulit diterapkan. Kami akan manfaatkan jalan di kawasan itu agar jarak antarpedagang mencapai dua meter," kata Eddy Kristianto, Wakil Sekretaris Gugus Tugas Covid-19 Surabaya.
"Jam operasionalnya kami batasi sampai jam 8 pagi. Kalau kami paksakan mereka berjualan di pasar, sulit terapkan social distancing karena jarak mereka mepet," ujarnya kepada wartawan di Surabaya yang melaporkan untuk BBC Indonesia, Roni Fauzan.

Sumber gambar, ANTARA/Moch Asim
Menurut Eddy, pemerintah perlu terus mengedukasi dan mengatur pedagang pasar yang disebutnya keras kepala dan menganggap Covid-19 sebagai cerita fiktif.
Merujuk Pasar Gresik PPI di Surabaya yang menjadi salah satu klaster kasus Covid-19, Eddy menyebut para pedagang tak menjalankan protokol kesehatan meski telah dianjurkan berulang kali.
"Hambatannya, mereka itu cuek, orientasinya menghasilkan uang. Padahal protokol yang kami edukasi itu untuk kepentingan dia, keluarganya, dan juga orang lain. Bukan semata kepentingan pemerintah," kata Eddy.
Merujuk data Badan Pusat Statistik tahun 2019, di Indonesia terdapat 15.657 pasar tradisional atau yang juga disebut dengan istilah pasar rakyat. Adapun jumlah pedagang di seluruh pasar tradisional itu mencapai sekitar 2,8 juta orang.
Selama pandemi Covid-19, menurut data Kemendag, omset pedagang pasar turun sekitar 39%.

Sumber gambar, ANTARA/Akbar Nugroho Gumay









