Dampak virus corona: Ekonomi China menyusut untuk pertama kali dalam beberapa dekade terakhir

Sumber gambar, EPA
Ekonomi China untuk pertama kalinya menyusut dalam beberapa dekade terakhir. Virus corona memaksa pabrik dan bisnis tutup.
Ekonomi terbesar kedua di dunia ini mengalami kontraksi hingga 6,8% menurut data resmi yang dirilis pada Jumat (17/4).
Pukulan virus corona terhadap ekonomi China ini akan menjadi perhatian besar bagi negara-negara lain.
China merupakan kekuatan ekonomi dunia karena perannya sebagai konsumen utama serta penghasil barang dan jasa.
Ekspor Indonesia ke China pada tahun 2019 misalnya, mencapai US$29,7 milliar atau senilai Rp464,5 triliun dengan mengacu pada nilai tukar mata uang Jumat (17/4).
Menurut Bank Indonesia, dengan nilai itu, China merupakan negara utama tujuan ekspor Indonesia.
Demikian pula dengan impor Indonesia dari China. Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia IGP Wira Kusuma mengatakan, "Kita bergantung pada China sebesar US$29,4 miliar. China juga jadi negara impor pertama ke Indonesia."
Penyusutan ekonomi China pada kuartal pertama 2020 ini merupakan penyusutan pertama sejak tahun 1992.
"Kontraksi PDB pada Januari-Maret ini akan diterjemahkan menjadi kerugian pendapatan permanen, tercermin dalam kebangkrutan perusahaan kecil dan warga yang kehilangan pekerjaan," kata Yue Su di Economist Intelligence Unit.
Tahun lalu, ketika China terkunci dalam perang dagang dengan AS, China memiliki pertumbuhan ekonomi yang sehat sebesar 6,4% pada kuartal pertama.
Dalam dua dekade terakhir, China telah membukukan pertumbuhan ekonomi rata-rata sekitar 9% per tahun, meskipun para ahli secara teratur mempertanyakan keakuratan data ekonominya.
Perekonomiannya terhenti selama tiga bulan pertama tahun ini karena lockdown alias penutupan besar-besaran dan karantina untuk mencegah penyebaran virus corona pada akhir Januari.
Akibatnya, para ekonom memperkirakan angka yang suram. Sementara data resmi sedikit lebih buruk dari yang diharapkan.
Berikut sejumlah data kunci lainnya yang dirilis dalam laporan Jumat:
- Output pabrik turun 1,1% untuk bulan Maret karena China perlahan mulai memproduksi lagi
- Penjualan ritel anjlok 15,8% bulan lalu karena banyak pembeli yang tinggal di rumah
- Pengangguran mencapai 5,9% pada bulan Maret, sedikit lebih baik dari data tertinggi sepanjang Februari yang mencapai 6,2%

Analisis: Musnahnya ekspansi ekonomi 6%
Robin Brant, BBC News, Shanghai
Penurunan besar dalam ekonomi China menunjukkan dampak serius dari wabah virus corona serta reaksi keras pemerintah. Penurunan ekonomi ini menghapus ekspansi 6% yang dicatatkan China dalam data ekonomi pada akhir tahun lalu.
Beijing telah mengisyaratkan stimulus ekonomi yang signifikan untuk menstabilkan ekonomi kedua terbesar di dunia ini.
Pada awal pekan, media resmi Partai Komunis yang berkuasa, People's Daily, melaporkan akan "memperluas permintaan domestik".
Tetapi perlambatan dari ekonomi global menghadirkan masalah signifikan, karena ekspor masih memainkan peran utama dalam ekonomi China. Jika ini terjadi, berarti pemulihan tidak akan cepat.
Pada Kamis, Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan ekonomi China bakal terhindar dari resesi, tetapi hanya tumbuh 1,2% tahun ini.
Angka-angka terkait ketenagakerjaan yang dirilis baru-baru ini menunjukkan angka pengangguran meningkat tajam, dengan jumlah terbesar pada pekerja perusahaan-perusahaan terkait ekspor.

China meluncurkan berbagai kebijakan stimulus keuangan untuk meredam dampak perlambatan, tetapi tidak sebanding dengan negara-negara besar lainnya.
"Kami tidak mengharapkan stimulus besar, mengingat hal itu tetap tidak populer di Beijing. Menurut kami, para pembuat kebijakan dapat menerima pertumbuhan yang rendah tahun ini, mengingat prospek untuk tahun 2021 yang lebih baik," kata Louis Kuijs, seorang analis di Oxford Economics.
Sejak Maret, China perlahan-lahan mulai mengizinkan pabrik melanjutkan produksi dan membiarkan bisnis dibuka kembali, tetapi ini merupakan proses bertahap untuk kembali ke situasi sebelum lockdown.
China sangat bergantung pada pabrik dan manufakturnya untuk pertumbuhan ekonomi, dan telah dijuluki "pabrik dunia".
Pasar saham di wilayah tersebut menunjukkan reaksi beragam terhadap data ekonomi China, dengan indeks Shanghai Composite Cina naik 0,9%.
Nikkei 225 Jepang melonjak 2,5% pada hari Jumat, meskipun ini sebagian besar karena kenaikan di Wall Street setelah Presiden Donald Trump mengemukakan rencana melonggarkan lockdown.











