Virus corona: Amankah belanja ke supermarket dan pesan online makanan?

Sumber gambar, Getty Images
Jika virus corona dapat ditularkan melalui permukaan benda, keamanan berbelanja dan membeli makanan jadi dipertanyakan.
Untuk menghindari penularan virus corona, warga di berbagai negara disarankan, bahkan dipaksa, berdiam diri di rumah. Masyarakat diperbolehkan keluar rumah hanya ketika perlu membeli bahan makanan atau terkait urusan yang mendesak seperti masalah kesehatan.
Namun seaman apa kita dari risiko penularan Covid-19 ketika kita berbelanja ataupun memesan makanan secara online?
Victoria Gill, koresponden sains BBC News mewawancarai sejumlah pakar.
Apa saja risiko penularan virus corona di toko?
Virus corona dapat menular melalui droplet-percikan air liur- orang yang terinfeksi.
Penularan terjadi jika virus ini terhirup atau bila Anda menyentuh permukaan benda yang terkena droplet orang yang sudah terinfeksi virus corona.
Jadi berbelanja dan bertemu dengan orang lain memang membawa risiko.
Itulah mengapa jarak sosial - menjaga setidaknya jarak 2 meter dari orang lain - sangat penting, termasuk di pasar, toko, supermarket dan pusat belanja lainnya.
Supermarket dapat memberikan "pengaturan ideal" untuk menghindari transfer virus, kata Prof Sally Bloomfield, dari London School of Hygiene dan Tropical Medicine.
"Banyak orang yang menyentuh barang-barang, ikat pinggang, kartu debit, tombol mesin tiket parkir mobil, tombol pembayaran ATM, kuitansi kertas dll ... Belum lagi berada di dekat sejumlah orang."
Ada beberapa cara untuk mencegah risiko ini:
• Cuci tangan selama 20 detik dengan sabun dan air, atau dengan pembersih tangan berbasis alkohol sebelum dan sesudah berbelanja
• Perlakukan permukaan seolah-olah mungkin terkontaminasi, artinya Anda menghindari menyentuh wajah Anda setelah memegang troli, keranjang, serta benda-benda lainnya
• Gunakan metode pembayaran nontunai
Bagaimana risiko penularan melalui membeli makanan?
Tidak ada bukti bahwa Covid-19 dapat menular melalui makanan dan memasak makanan dengan matang sempurna dapat membunuh virus corona.

Sumber gambar, Getty Images
Namun, tidak ada yang namanya "zero risk", kata Prof Bloomfield. Kemasan makanan atau barang lainnya- yang dipegang oleh orang lain - jadi perhatian utama.
Nasihat online untuk bisnis makanan mengatakan: "Kemasan makanan tidak diketahui memiliki risiko tertentu." Namun, beberapa ahli independen memiliki saran tambahan.
"Untuk barang-barang yang terkandung atau dikemas," kata Prof Bloomfield, "simpanlah selama 72 jam sebelum menggunakannya atau semprotkan dan lap wadah plastik atau gelas dengan cairan pemutih [yang dicampur dengan air dan digunakan sesuai kadar dan aturannya)
"Untuk bahan makanan segar yang tidak dibungkus, yang bisa saja telah dipegang oleh siapa pun - cuci bersih dengan air mengalir dan biarkan kering," tambahnya.

GEJALA dan PENANGANAN: Covid-19: Demam dan batuk kering terus menerus
TIPS TERLINDUNG DARI COVID-19: Dari cuci tangan sampai jaga jarak
PETA dan INFOGRAFIS: Gambaran pasien yang terinfeksi, meninggal dan sembuh di Indonesia dan dunia

Sejauh mana keamanan pesan online makanan?
Pengiriman makanan melalui pesan antar atau pesan online memiliki risiko yang lebih kecil dibandingkan bila Anda belanja ke pasar, toko dan supermarket, karena Anda akan menghindari pembeli lainnya.
Risiko pesan online makanan adalah kontaminasi permukaan makanan atau paket, atau dari pengemudi pengantar.
Pakar keamanan pangan dan blogger, Liza Ackerley menyarankan untuk meninggalkan pesan di pintu depan rumah Anda, mintalah pengemudi untuk membunyikan bel dan mundur.
Ini akan memungkinkan Anda untuk mengambil makanan dengan aman, sendirian.
Bagaimana dengan jaringan relawan yang muncul untuk membantu kelompok rentan serta lansia? Untuk menghilangkan rasa takut akan virus yang ada di permukaan, James Gill dari Warwick Medical School menyarankan, "Menyeka permukaan benda dengan cairan pemutih yang diencerkan akan menonaktifkan virus dalam satu menit."
Prof Alison Sinclair, ahli virologi dari University of Sussex, menambahkan,"Seharusnya risiko menggunakan layanan pengiriman online tidak lebih besar daripada meminta teman atau sukarelawan mengumpulkan bahan makanan untuk Anda."
Beberapa ahli juga menyarankan sebuah kantong plastik digunakan sekali saja selama pandemi Covid-19.
Bagaimana dengan membeli makanan untuk dibawa pulang (takeaways)?

Sumber gambar, Getty Images
Banyak restoran lokal mengembangkan kembali bisnis mereka sebagai jasa takeaways.
Restoran yang bereputasi baik dan dapur restoran yang baik kemungkinan besar akan diarahkan untuk persiapan makanan yang profesional dan higienis, sehingga berisiko minimal untuk makanan takeaway yang berupa menu panas yang baru dimasak.
Risiko kontaminasi kemasan dapat diminimalkan, Prof Bloomfield menyarankan, yakni dengan cara "mengosongkan isi [ke dalam piring bersih], membuang kemasan ke dalam kantong sampah dan mencuci tangan dengan seksama sebelum Anda makan".
"Keluarkan makanan dari wadah dengan sendok dan makanlah dengan pisau, sendok, dan garpu - bukan jarimu."
Mungkin lebih baik dalam situasi saat ini untuk memesan makanan panas, yang baru dimasak, daripada makanan dingin atau mentah.
Badan Standar Makanan memang menekankan bahwa risiko penularan dari makanan tidaklah tinggi dan bahwa "tidak ada alasan untuk menghindari pengiriman makanan siap saji jika sudah disiapkan dan ditangani dengan benar".
Namun yang paling perlu diwaspadai adalah mempersiapkan dan memasak makanan dengan sehati-hati dan semeyakinkan mungkin. "Misalnya pizza, jika Anda ingin benar-benar aman, Anda bisa memasukkannya ke dalam microwave selama beberapa menit," tambah Prof Bloomfield.








