Ketika orang-orang Inggris 'pulang kampung' ke Solo: 'Sangat emosional'

Anggota pemain gamelan Southbank, Inggris di Solo.
Keterangan gambar, Anggota pemain gamelan Southbank, Inggris di Solo.

Mengenakan kemeja batik, lelaki asal Inggris, John Pawson bersama dengan pesinden lainnya menyanyikan tembang berjudul caping gunung. Tabuhan gamelan mengiringi John dan rekan-rekan penabuh lain.

John bersama dengan grup Southbank Gamelan Player, merupakan salah satu grup yang tampil upacara pembukaan International Gamelan Festival (IGF) 2018 yang digelar di panggung utama di Benteng Vastenburg Solo pada Kamis malam (09/08) lalu.

Acara yang diberi judul 'homecoming' atau pulang kampung ini diikuti oleh 19 kelompok gamelan dari luar negeri dan berlangsung selama seminggu sampai Kamis (16/08), lapor wartawan di Solo, Fajar Sodiq untuk BBC News Indonesia.

Bagi sebagian pemain gamelan dari Inggris, 'pulang kampung' ke Solo memang terasa seperti mudik karena mereka sempat menimba ilmu gamelan di Solo.

"Saya tidak bisa menjelaskannya. Rasanya sangat-sangat emosional. Seperti ini memang rasanya pulang kampung," kata John.

Kehadiran John dan teman-teman di Solo juga bertepatan dengan ulang tahun ke-30 Southbank Gamelan Players, salah satu dari 150 grup gamelan yang tersebar di seluruh Inggris.

"Ini pertama kali saya membawa teman-teman dan pentas di Solo. Rasanya, wah istimewa sekali. Kalau saya ke Solo terakhir tiga tahun yang lalu tetapi ini yang paling mengesankan," akunya.

Momen yang sangat spesial

pemain gamelan Southbank, London.
Keterangan gambar, Pentas di Solo, sesuatu seperti pulang kampung yang sebenarnya.

Penampilan mereka - dengan tembang Jawa dan juga perpaduan gamelan kontemporer, disambut riah penonton yang hadir, termasuk Menteri Pendidkan dan Kebudayaan, Muhajir Effendi.

Keterangan video, 'Makanan di Solo lebih enak dibanding Malang,' kata guru gamelan Inggris, Peter Smith

Direktur National Concert Hall Gamelan Orchestra, Southbank Centre, Peter Moran, menyebut penampilan mereka sebagai "momen yang sangat spesial."

Dalam pentas gamelan yang digelar di banteng peninggalan masa penjajahan Belanda itu, ia mengaku sangat senang dengan banyaknya warga yang hadir untuk menyaksikan festival gamelan.

"Saya sangat tertarik dengan antusiasme yang tinggi dalam festival gamelan. Ini sungguh fantastis," ujarnya.

Peter mulai mempelajari gamelan di Yogyakarta sejak tahun 2013 silam. Dalam perjalanan berikutnya ke Yogyakarta ia tampil untuk pentas.

Saat ini ia mengaku tengah mempelajari "gamelan gaya Solo, tidak di Solo tetapi di Inggris."

Kelompok lain yang tampil dalam festival ini termasuk grup dari Jepang.

Ketua Grup Gameang Lambangsari Jepang, Kayo Kimura, mengaku sangat senang sekali bertemu dengan pemain gamelan dari berbagai negara.

"Kesempatan ini bagi kami sangat luar biasa," kata Kayo.

Kelompok dari Jepang ini juga tampil mengiringi lima penari yang juga berasal dari negeri Sakura itu dengan tarian Jawa.

Terus mendalami gamelan

Pemain gamelan Southbank ada yang berusia sekitar 70 tahun.
Keterangan gambar, Pemain gamelan Southbank ada yang berusia sekitar 70 tahun.

"Kami datang ke Solo untuk mengikuti International Gamelan Festival dengan jumlah peserta sebanyak 19 orang, termasuk lima orang penari. Hampir semua anggota kelompok gamelan Lambangsari pernah datang ke Solo, bahkan ada yang pernah belajar di sini," sebutnya.

Meskipun sudah tampil dalam festival gamelan berskala internasional, namun Kayo Kimura mengaku bahwa dirinya dan anggota Lambangsari lainnya masih belajar terus mengenai gamelan karawitan.

"Rasanya gamelan Jawa itu tidak gampang dan sangat dalam sekali. Kami belum pandai sehingga kami belajar terus untuk mendalami gamelan," ujarnya.

Sementara itu Dirjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Hilmar Farid, mengatakan dipilihnya Solo menjadi tuan rumah penyelenggaraan IGF 2018 karena kota tersebut setiap tahunnya menggelar festival gamelan secara rutin.

"Kita diskusi dengan Pemkot Solo bagaimana kalau ada kerjasama karena gamelan sudah dipelajari orang di seluruh dinia selama puluhan tahun. Jadi kita undang kelompok gamelan dari luar negeri untuk pulang kampung ke Solo," katanya.

Dalam perhelatan IGF 2018, Hilmar menyebutkan kelompok gamelan asing yang hadir berasal dari 12 negara, di antaranya dari Inggris, Irlandia, Amerika, Jepang, Belanda, Australia, Malaysia.

Belajar gamelan di Inggris dan dilanjutkan di Solo. Begitulah yang dilakukan sejumlah pemain gamelan Inggris.
Keterangan gambar, Belajar gamelan di Inggris dan dilanjutkan di Solo. Begitulah yang dilakukan sejumlah pemain gamelan Inggris.

"Kita mengundang kelompok-kelompok gamelan dari berbagai negara untuk pulang kampung ke Solo. kelompok-kelompok gamelan itu dibentuk oleh mereka-mereka yang pernah belajar gamelan di Indonesia," kata dia.

Adanya festival gamelan tingkat internasional itu, ia pun berharap terjadi interaksi antara para pecinta gamelan dari berbagai negara yang pernah belajar di Indonesia untuk bisa saling berbagai pengetahuan.

"Karena mereka itu kan juga mengembangkan bentuk-bentuk atau kreasi baru dari gamelan dengan musik kontemporer," jelasnya.

Selain dari luar negeri, Hilmar menyebutkan sejumlah kelompok gamelam dari berbagai daerah di Indonesia juga ikut diundang untuk meramaikan even gamelan pulang kampung di Solo. Terdapat 54 kelompok gamelan yang diundang, di antaranya berasal Cirebon, Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Sumatera Barat dan daerah lainnya.

"Selain dari kelompok gamelan dari daerah-daerah di Indonesia, kami juga melibatkan sebanyak 73 kelompok gamelan yang ada di kota Solo dan sekitarnya termasuk dari sekolah dan institusi.