Gempa Lombok: Layanan kesehatan terhambat, penanganan darurat dengan alat dan tenaga medis terbatas

Sumber gambar, Antara Foto/Zabur Karuru
- Penulis, Ayomi Amindoni
- Peranan, BBC News Indonesia
Hingga sekarang penanganan pasien masih dilakukan di lapangan terbuka, dengan membangun rumah-rumah sakit darurat dan rumah sakit lapangan.
Layanan kesehatan di wilayah Lombok Utara pun boleh dikata lumpuh sejak hantaman gempa berkekuatan 7 Skala Richter, pada Minggu (05/08), padahal warga yang terdampak gempa justru sangat membutuhkan obat-obatan dan tenaga medis.
Penanganan kesehatan untuk masalah darurat pun akhirnya dilakukan dengan alat dan tenaga medis seadanya, karena berbagai rumah sakit yang tersebar di wilayah Nusa Tenggara Barat mengalami kerusakan berat.
Humas SAR Mataram, Agus Hendra Sanjaya mengungkapkan sebagian besar bangunan puskemas luluh lantak rata dengan tanah, mengakibatkan pelayanan kesehatan korban gempa di Lombok Utara, wilayah yang terdampak paling parah, terpaksa dilakukan secara darurat.
"Pelayanan masih (dilakukan) di luar. Masih darurat. Masih tidak berani (dilakukan) di dalam (ruangan) karena mengingat tadi malam ada gempa susulan lagi. Jadi masih melaksanakan pelayanan darurat, seperti di dalam tenda atau area terbuka," ujar Agus kepada BBC Indonesia, Selasa (07/08) melalui sambungan telepon.
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho memapar, di Lombok Utara sebagaian besar rumah sakit hancur.
"Sehingga pelayanan kepada masyarakat yang luka-luka dansakit di sana, belum bisa selayaknya, karena keterbatasan tenaga medis, obat-obatan dan kerusakan," kata Sutopo.
Itu sebabnya, kata Sekretaris Umum Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Nusa Tenggara Barat, Saptadi Akbar, pihaknya dan berbagai lembaga terkait akan mempriotitaskan pengiriman tenaga medis dan obat-obatan ke pelosok wilayah Lombok Utara yang paling terdampak gempa.
"Kami minim obat-obatan, kemudian juga perawat tambahan," kata Saptadi.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi
Lebih jauh, Saptadi mengungkapkan, enam puskemas di setiap kecamatan di Lombok Utara rusak parah. Demikian halnya dengan satu-satunya rumah sakit umum daerah yang berlokasi di Tanjung.
"Seluruh puskesmas di kecamatan Lombok Utara luluh lantak, tidak bisa digunakan sama sekali, termasuk rumah sakitnya juga," ujarnya.
Bahkan rubuhnya Puskesmas Tanjung di Lombok Utara mengakibatkan setidaknya dua korban tewas.
Bukan berarti layanan kesehatan lumpuh sama sekali.
"Tetap bekerja tenaga medisnya. Cuma berpindah (penanganannya dilakukan) di lapangan terdekat dengan puskesmas. Jadi peralatan yang masih bisa kami selamatkan, masih bisa digunakan, dipindahkan sementara ke tenda-tenda darurat," imbuhnya.
Ia menekankan kebutuhan mendesak para petugas medis tambahan. "Perawat lokal (di wilayah Lombok Utara) kan terdampak juga, sehingga kita membutuhkan perawat-perawat dari luar Lombok Utara," ujar Saptadi.
Para petugas dari waktu ke waktu membangun rumah-rumah sakit darurat dan rumah sakit lapangan.
PMI pula mendatangkan logistik seperti matras, terpal, selimut untuk untuk masyarakat yang terdampak.
"Karena memang kebutuhan yang mendasar saat ini mereka butuh tempat berlindung dulu yang aman dan nyaman dan kami akan segera membangun dapur umum lapangan untuk memback-up pemerintah. Karena kebutuhan pangan juga sangat mendesak," tegas Saptadi.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengungkapkan, selain membangun rumah sakit lapangan, pelayanan kesehatan dilakukan dengan menjangkau pos pengungsian.
"Mereka keliling menjangkau pos pengungsian, menjangkau masyarakat yang mengungsi mandiri. Kalau sekarang kondisinya belum semuanya korban tertangani, karena terbatas," kata Sutopo.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi
Sejauh ini, akibat gempa yang mengguncang Minggu (05/08) malam itu, Lebih dari 100 orang meninggal dunia, sebagian besar akibat terjebak reruntuhan dan setidaknya 236 orang luka-luka. Ada pun lebih dari 80.000 warga kehilangan rumah, dan diungsikan.
Namun Sutopo memperingatkan, jumlah korban kemungkinan besar terus bertambah seiring dengan terus dilakukannya upaya pencarian dan penyelamatan. Misalnya, di Puskesmas Tanjung diperkirakan masih ada korban lain yang masih tertimbun reruntuhan.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi
Begitu pula di sebuah masjid di desa Lading-Lading, Tanjung, tempat ditemukannya satu korban meninggal dunia. "Sampai saat ini evakuasi masih berlangsung dan diperkirakan masih ada korban," ujar Sutopo, Selasa (07/08) siang.
Lebih jauh Sutopo menjelaskan, masih banyak pengungsi yang belum terjangkau bantuan, khususnya daerah-daerah yang masih terisolir di Lombok Utara.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Zabur Karuru
"Daerah terisolir di Lombok Utara, ada kecamatan Bayan, mereka membutuhkan makanan, terpal, selimut, serta tenaga medis," kata Sutopo.
Ia menyebut, desa Salut di Kayangan, Lombok Utara kini terisolir, dan sejauh ini hanya memiliki satu tenaga medis, madahal di sana terdapan puluhan korban luka. Akibatnya sebagian masih belum tertangani.
Kendati Lombok Utara adalah kawasan yang paling berat menderita terjangan gempa, beberapa wilayah di Lombok Barat dan Sembalun di Lombok Timur juga memerlukan bantuan pangan, obat-obatan, dan tenaga medis.












