Pelontar granat itu 'milik Polri, diimpor sah, dan untuk di Poso dan Papua'

Sumber gambar, Audrey/detikcom
Berbagai jenis senjata impor yang sudah tiba di Jakarta memang merupakan milik Polri yang masih dikarantina, menunggu rekomendasi BAIS TNI, kata Juru bicara Polri Irjen Setyo Wasisto.
Beberapa jam sebelum jumpa pers mendadak di Mabes Polri itu, memang beredar desas-desus di media sosial tentang kedatangan berbagai jenis senjata itu, yang semakin mengisruhkan kabar tentang pengadaan senjata secara tidak sah, yang diletuskan Panglima TNI Gatot Nurmantyo beberapa waktu lalu.
"Barang yang ada di Bandara Soekarno Hatta itu memang milik Polri, dan merupakan barang yang sah," kata Irjen Setyo Wasisto.
"Semuanya sesuai prosedur, mulai perencanaan, lelang, hingga pengkajian pihak Polri dan BPKP," tambahnya.
"Barang tersebut masuk pabean di Bandara Soekarno Hatta. Komandan Korps Brimob sudah diberi tahu, dan sudah meminta rekomendasi BAIS TNI. Karena prosedurnya memang begitu: barangnya harus masuk terlebih dahulu, dikarantina, diinspeksi oleh BAIS TNI, apakah sesuai dengan dokumen."
Yang terutama jadi sorotan adalah sebagian dari senjata yang datang itu tampak bukan merupakan senjata kelengkapan standar polisi lapangan. Misalnya peluncur granat.
Namun Danko Brimob Irjen Murad Ismail menunjukkan sejumlah foto dan menyebutkan bahwa semuanya merupakan kelengkapan standar satuan anti huru-hara.

Sumber gambar, DOKUMENTASI
Ia menyebut pelontar granat itu menembakkan peluru tidak langsung, melainkan dilontarkan dalam sudut 45 derajat.
"Pelurunya banyak macamnya: ada peluru karet, peluru hampa, gas air mata, peluru asap, 'peluru kabur'," kata Murad Ismail.
"Ini modelnya serem, namun senjata-senjata ini bukan untuk membunuh, melainkan untuk memberi efek kejut," kata Murad Ismail.
"Senjata-senjata ini nanti akan kita bawa ke Poso dan Papua.

Sumber gambar, DOKUMENTASI
Menurutnya ini bukan barang-barang baru, melainkan sudah dimiliki sebelumnya,karena bukan impor yang pertama kali.
"Ini yang ketiga kali. Tahun 2015 dan 2016 sudah pernah masuk," katanya.
Ia menyebutkan, pelontar-pelontar granat yang masih berada di karantina bandara Soekarno Hatta itu itu juga dilengkapi 5932 peluru.
Isu tentang pengadaan senjata ini jadi perbincangan dan memanaskan politik tatkala Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo berbicara kepada sejumlah mantan petinggi militer di Markas TNI, Cilangkap, Jakarta, Jumat pekan lalu.
Gatot mengaku mendapatkan informasi intelijen tentang satu lembaga negara yang mencatut nama presiden untuk membeli senjata.
"Kami intip terus. Kalau itu serius, kami akan serbu. Kalau kami menyerbu, itu karena tidak boleh ada lembaga di NKRI yang memiliki senjata selain TNI dan Polri."
"Polisi pun tidak boleh memiliki senjata yang bisa menembak tank, pesawat, atau kapal. Kalau ada, saya serbu. Ini ketentuan. Karena kalau cara hukum tidak bisa, Bhayangkari nanti yang akan muncul," kata Gatot.
Tiga hari berselang, saat dikonfirmasi, Gatot enggan menanggapi pernyataannya yang memicu pro dan kontra itu. Menurutnya pernyataan tersebut dikeluarkannya dalam forum tertutup, namun ternyata bocor ke publik.
"Benar itu omongan saya, itu kata-kata saya, itu benar seribu persen kata-kata saya. Saya tidak mau menanggapi itu. Kalau saya press release, Anda bertanya kepada saya, saya jawab," kata Gatot, Minggu, 24 September.









