Pemerintah Sudan dituduh pakai senjata kimia di Darfur

Sumber gambar, GETTY IMAGES
Puluhan anak-anak di Darfur meninggal dalam penderitaan, diduga dibunuh dengan senjata kimia yang dijatuhkan oleh pemerintah mereka sendiri, demikian sebuah klaim menyebutkan.
Kelompok hak asasi manusia, Amnesty International mengatakan anak-anak tersebut berada di antara lebih dari 200 orang yang diperkirakan tewas akibat senjata yang dilarang sejak Januari.
Mereka yang terkena dampak "asap beracun" itu mengalami muntah darah, kesulitan untuk bernapas dan kulitnya mengelupas.
Pemerintah Sudan dan para pemberontak telah terlibat peperangan di Darfur selama 13 tahun.
Namun konflik dan jumlah korban warga Darfur turun sejak tahun 2004, ketika peringatan akan munculnya potensi genosida yang memaksa dunia luar untuk bertindak.
- <link type="page"><caption> ISIS 'tembakkan senjata kimia' ke markas tentara AS di Irak</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/09/160922_dunia_roket_kimia_irak" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Senjata kimia Suriah mulai dihancurkan</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2013/10/131006_suriah_senjata_kimia_hancur" platform="highweb"/></link>
Tetapi sebuah laporan terbaru menyebutkan serangan berulang-ulang yang dilancarkan oleh pemerintah Sudan terhadap warga mereka sendiri mengungkapkan "tidak ada yang berubah", menurut Tirana Hassan, direktur penelitian krisis dari Amnesty International.
Penyelidikan yang dilakukan oleh kelompok hak asasi manusia selama delapan bulan mengungkapkan adanya "pembumi hangusan, pemerkosaan massal, pembunuhan dan bom" di Jebel Marra, sebuah kawasan terpencil di Darfur.
Para peneliti juga menemukan 56 saksi atas dugaan penggunaan senjata kimia yang dilakukan setidaknya 30 kali oleh pasukan Sudan, yang melancarkan serangan terhadap Tentara Pembebasan Sudan yang dipimpin oleh Abdul Wahid (SLA/AW) di pertengahan Januari.
"Skala dan kebrutalan serangan ini sulit dijabarkan dengan kata-kata," kata Hassan. "Gambar-gambar serta video yang telah kita lihat dalam perjalanan penelitian kami benar-benar mengejutkan, dalam satu video terlihat seorang anak muda menjerit kesakitan sebelum meninggal. Banyak juga foto-foto yang menunjukkan anak-anak yang kulitnya melepuh dan lecet. Beberapa dari mereka tidak dapat bernapas dan muntah darah. "
Para korban selamat mengatakan kepada Amnesty International bahwa mereka mencium bau busuk dan "tidak wajar" dari asap yang memenuhi udara setelah bom-bom itu dijatuhkan.

Sumber gambar, AMNESTY INTERNATIONAL
Banyak di antara mereka yang mulai muntah setelah beberapa menit menghirup udara. Seringkali, mereka muntah dan diare disertai darah.
Sejumlah korban selamat juga dilaporkan mengalami "pembengkakan" pada bagian mata dan warnanya berubah, seperti halnya urin dan kulit mereka, yang kemudian akhirnya akan mengeras dan mengelupas.
Seorang pria bernama Ismail, yang mencoba untuk membantu orang-orang tersebut pada akhir Januari, mengatakan kepada Amnesty: "Kulit mereka mengelupas dan tubuh mereka menjadi busuk dan nafas mereka sangat buruk".
Beberapa anak-anak yang ia rawat meninggal, dan yang lainnya masih dalam keadaan kesakitan.

Sumber gambar, bbc
Dua ahli senjata kimia independen sepakat jika luka-luka yang terlihat cocok dengan ciri-ciri yang diakibatkan oleh serangan kimia, dengan gejala yang merujuk pembengkakan dan kulit lecet.
Kini, pihak Amnesty International menyerukan penyelidikan, dan meminta negara-negara lain untuk menerapkan tekanan pada Khartoum, khususnya untuk mengizinkan lembaga kemanusiaan memasuki populasi terpencil di Darfur.
Hassan mengatakan, "Fakta bahwa pemerintah Sudan kini berulang kali menggunakan senjata ini terhadap rakyat mereka sendiri tidak bisa diabaikan dan kami menuntut adanya tindakan.
"Kecurigaan adanya penggunaan senjata kimia ini bukan hanya menunjukkan kejahatan yang dilakukan oleh militer Sudan terhadap warga sipil di Darfur, tetapi juga ini merupakan tingkat baru keangkuhan pemerintah terhadap masyarakat internasional."
Kelompok hak asasi manusia ini juga telah mengirimkan salinan laporan kepada pemerintah Sudan namun mereka belum menerima balasan.










