Kontrol wilayah berkurang, ISIS kian lemah di Irak dan Suriah?

Sumber gambar, BBC IHS Conflict Monitor
Gerak maju milisi kelompok yang menamakan diri Negara Islam atau ISIS di Suriah dan Irak sepertinya melambat karena hilangnya sejumlah wilayah penting di kedua negara itu, sementara hanya mencatat kemajuan kecil di sekitar kota Palmyra, Suriah.
Sebuah laporan IHS Conflict Monitor pada bulan Juli 2016 menyatakan kelompok jihadis tersebut sudah kehilangan seperempat wilayah yang sebelumnya dikuasai di bulan Januari 2015.
- <link type="page"><caption> Menlu AS serukan larangan terbang di wilayah pemberontak Suriah</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/09/160921_dunia_suriah_terbang" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> 'Mengapa saya tinggalkan Inggris untuk melawan ISIS'</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/09/160921_majalah_pejuang_lawan_isis" platform="highweb"/></link>
ISIS mulai menjadi perhatian dunia pada bulan Juni 2014, setelah kelompok tersebut menyerbu kota Mosul, Irak utara dan bergerak ke utara menuju ibu kota Baghdad, milisinya mengancam membunuh sejumlah kelompok minoritas suku dan agama.
Pada puncak kekuasaannya, sekitar 10 juta orang hidup di wilayah kekuasaan ISIS. Tetapi pengamat IHS Conflict Monitor mengisyaratkan angkanya sekarang menjadi hanya sekitar enam juta orang.
Bagaimana ISIS menyebar di Irak dan Suriah?
Kelompok jihadis ini menggunakan kekacauan dan perpecahan yang terjadi di Suriah dan Irak.
ISIS tumbuh dari apa yang sebelumnya adalah al-Qaida di Irak, yang dibentuk milisi Sunni setelah invasi pimpinan Amerika Serikat di tahun 2003 dan menjadi kekuatan utama pemberontak sektarian negara itu.
Pada tahun 2011, kelompok ini bergabung dalam pemberontakan melawan Presiden Bashar al-Assad di Suriah, di mana mereka menemukan tempat berlindung dan akses terhadap persenjataan.
Di saat yang sama, ISIS mengambil keuntungan penarikan pasukan AS dari Irak, selain penyebaran kemarahan Sunni terkait dengan sejumlah kebijakan sektarian di pemerintahan negara itu yang dipimpin kelompok Syiah.
Pada tahun 2013, kelompok itu mulai menguasai wilayah di Suriah dan mengubah namanya menjadi Negara Islam di Irak dan Levant (ISIS atau ISIL).

Sumber gambar, BBC IHS Conflict Monitor
Tahun berikutnya, ISIS menyerbu wilayah luas Irak utara dan barat, memproklamirkan pendirian "kekhalifahan" dan menjadi "Negara Islam".
Gerak maju ke wilayah yang dikuasai kelompok minoritas Kurdi Irak, pembunuhan dan memperbudak ribuan anggota kelompok keagamaan Yazidi kemudian memicu koalisi banyak negara pimpinan AS untuk meluncurkan serangan udara terhadap posisi ISIS di Irak pada bulan Agustus 2014.
Tetapi jumlah pasti korban konflik dengan ISIS tidak tersedia.
PBB menyatakan lebih 23.600 warga sipil tewas karena terorisme, kekerasan dan konflik bersenjata di Irak sejak bulan Januari 2014.
Organisasi ini tidak lagi mencatat jumlah korban di Suriah karena tidak bisa memasuki banyak daerah dan munculnya sejumlah laporan yang bertentangan dari berbagai kelompok yang berperang di sana.
Kelompok pengamat yang bermarkas di Inggris, Syrian Observatory for Human Rights, melaporkan pada bulan September 2016 bahwa lebih 300.000 orang, termasuk 86.000 warga sipil tewas sejak bulan Maret 2011.
Mereka memperingatkan korban tewas yang sebenarnya dapat lebih tinggi 70.000 orang karena banyak kelompok bersenjata tidak mengumumkan jumlah korban.
Siapa yang memerangi ISIS?

Koalisi pimpinan AS melakukan lebih 9.600 serangan udara terhadap sasaran ISIS di Irak sejak bulan Agustus 2014.
Inggris melakukan serangan udara pertama terhadap kelompok ini di Irak pada bulan berikutnya. Negara lain yang terlibat di antaranya adalah Australia, Belgia, Denmark, Prancis, Yordania dan Belanda.
Di Suriah, operasi pimpinan AS dimulai pada bulan September 2014. Sejak saat itu, lebih dari 5.000 serangan dilakukan pasukan koalisi, termasuk Australia, Bahrain, Prancis, Yordania, Belanda, Arab Saudi, Turki, Uni Emirat Arab dan Inggris.
Rusia bukan bagian dari koalisi, tetapi pesawat jetnya memulai serangan udara terhadap apa yang dinamakan "teroris" di Suriah pada bulan September 2015.
Hanya terdapat sedikit informasi dari sumber resmi terkait serangan udara Rusia.
Meskipun demikian bukti dari Institute for the Study of War mengisyaratkan pesawat Rusia menargetkan wilayah yang dikuasai kelompok oposisi dan membantu pasukan pemerintah Suriah mengepung pemberontak di kota Aleppo.
Negara lain sasaran ISIS
Lewat pendirian kekhalifahan pada akhir bulan Juni 2014, ISIS mengisyaratkan keinginannya untuk menyebar melewati batas Irak dan Suriah.
Pimpinan ISIS, Abu Bakr al-Baghdadi, segera menerima janji setia dari milisi jihadis di Libia dan dalam waktu setahun cabangnya menguasai wilayah di lima negara dan hadir di sejumlah tempat lainnya.
ISIS sekarang diyakini beroperasi di 18 negara di dunia, termasuk Afghanistan dan Pakistan, menurut data yang dilihat US National Counterterrorism Center, dengan ditemukannya isyarat "cabang pendukung" di Mali, Mesir, Somalia, Bangladesh, Indonesia dan Filipina.
Pada tahun 2016, ISIS menyatakan bertanggung jawab terhadap sejumlah serangan di beberapa negara termasuk, Turki, Indonesia, Prancis, Belgia, AS dan Bangladesh.
Pendirian kekhalifahan juga memicu lonjakan jumlah pejuang asing yang mengunjungi Suriah dan Irak untuk bergabung dengan ISIS.
Sebuah laporan yang diterbitkan pada bulan Desember 2015 oleh perusahan konsultan yang bermarkas di New York, Soufan Group, memperkirakan 27.000 jihadis asing melakukan perjalanan dari 86 negara, lebih setengahnya dari Timur Tengah dan Afrika Utara.
Apa yang sudah dikuasai kembali?

Lebih dua tahun setelah ISIS menguasai Mosul, pemerintah Irak dan pasukan Peshmerga Kurdi mempersiapkan serangan untuk menguasai kembali kota tersebut dengan bantuan serangan udara koalisi pimpinan AS dan penasehat militer.
Mosul adalah daerah kekuasaan penting terbesar ISIS di Irak dan pembebasannya kemungkinan akan merupakan akhir ambisi ISIS di negara itu.
Meskipun demikian, kemungkinan akan terjadi pertempuran yang panjang. Pembelot ISIS mengatakan kepada BBC bahwa kelompok ekstremis itu telah membuat lubang perlindungan bawah tanah dan menimbun pasokan makanan untuk bertahun-tahun.
Di bagian lain Irak dan Suriah, konflik dengan ISIS membuat sejumlah kota menjadi puing. Daerah lain dikepung milisi ISIS sehingga penduduknya tergantung pada pengiriman bantuan dan pasokan dari pasar gelap.
Salah satu kemenangan penting perang melawan ISIS adalah dikuasai kembali kota Kobane di Suriah utara oleh pejuang Kurdi pada permulaan tahun 2015.
Perang itu menewaskan 1.600 orang dan menghancurkan Kobane. Tetapi sejak saat itu, pasukan pimpinan Kurdi mengusir milisi ISIS dari wilayah Suriah utara seluas ribuan km2.
Ramadi di Irak barat juga mengalami kerusakan meluas saat terjadi perang berbulan-bulan pasukan Irak dan milisi pendukung pemerintah yang menyebabkan diusirnya milisi ISIS dari kota itu pada bulan Januari 2016, delapan bulan setelah mereka melakukan penyerbuan.
Palmyra di Suriah adalah salah satu situs kuno yang dirusak ISIS.
Tempat tersebut dikuasai kembali pasukan pemerintah Suriah dengan bantuan serangan udara Rusia pada bulan Maret 2016 dan dinyatakan Presiden Assad sebagai sebuah "keberhasilan penting perang terhadap terorisme".
Bagaimana ISIS mendapatkan pendanaan?

Minyak adalah sumber pemasukan tunggal terbesar ISIS. Kelompok ini menguasai banyak lapangan minyak di Suriah dan Irak, serta menjual minyak di pasar gelap.
Tetapi produksi menurun sejak serangan udara pasukan pimpinan AS dan Rusia mulai menargetkan prasarana minyak.
Menurut Center for the Analysis of Terrorism (CAT), ISIS juga langka teknologi untuk memelihara peralatan yang menua dan sumur yang semakin berkurang membuat minyak sulit diambil.
CAT menemukan pemerasan adalah sumber utama pendanaan ISIS pada tahun 2015. Dana dari pajak, bea, denda dan sitaan merupakan 33% pemasukan kelompok, naik 12% dari tahun sebelumnya.
Selain meminta pembayaran bagi layanan seperti air dan listrik, ISIS memajaki produk seperti gandum dan kapas, selain menyita barang dan properti yang kemudian dijual kembali.
Analisa IHS Conflict Monitor menyebutkan ISIS sekarang begitu kekurangan dana sehingga menerapkan denda bagi pelanggaran seperti mengemudi kendaraan di jalur jalan yang salah.
Hilangnya wilayah dan warga yang tinggal di wilayah ISIS berarti sumber pemasukan akan terus menurun.
Laporan Huffington Post pada bulan Juli 2016 menyatakan kemungkinan ISIS tidak lagi mendapatkan cukup pemasukan untuk mendanai operasinya.
Pengungsi ada di mana?
Lebih 4,8 juta warga Suriah melarikan diri ke luar negeri menghindar dari perang di Suriah, menurut PBB.

Sumber gambar, BBC UNHCR
Sebagian besar berada di negara tetangga seperti Turki, Lebanon dan Yordania, tetapi pada tahun 2015 terjadi peningkatan orang yang berusaha mencapai Eropa.
Sejak saat itu kesepakatan Uni Eropa dan Turki membatasi aliran migran di Laut Tengah, meskipun Suriah tetap menjadi kelompok pencari suaka terbesar di Eropa.
PBB memperkirakan lebih tiga juta warga Irak terpaksa meninggalkan rumah mereka untuk melarikan diri dari konflik dengan ISIS dan menjadi pengungsi di dalam negerinya.
Organiasasi ini memperingatkan perang menguasai Mosul dapat memicu pengungsian jutaan orang lagi.









