Korsel kritik siaran radio berkode Korut

Sumber gambar, AP
Korea Selatan mengkritik Korea Utara karena menjalankan kembali siaran rahasia berkode, yang dulu digunakan untuk menyampaikan pesan kepada mata-matanya.
Siaran sepanjang 12 menit yang disampaikan pembawa acara perempuan itu membacakan rangkaian angka-angka.
Pemerintah Pyongyang menghentikan sistem siaran berkode ini pada tahun 2000 setelah memanasnya hubungan kedua negara.
- <link type="page"><caption> 'Perang Speaker' Korea Selatan dan Korea Utara</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/01/160112_dunia_korut_korsel" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Protes warga Korea Selatan terhadap bom Korea Utara</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/01/160107_dunia_korsel_korut" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Mata-mata senior Korea Utara membelot ke Korea Selatan</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/04/160411_dunia_korut_perwira_belot_korsel" platform="highweb"/></link>
Aparat berwenang Korea Selatan menduga pesan-pesan di balik angka-angka tersebut ditujukan untuk mata-mata Korea Utara yang berada di Korea Seatan tapi juga bisa jadi hanya sekedar alat propaganda semata.
Kementrian Penyatuan Kembali Korea di Seoul mengungkapkan 'penyesalan mendalam' atas yang disebut sebagai upaya provokasi terbaru itu.
"Kami mendesak Korea Utara menghentikan praktek yang ketinggalan jaman itu dan mencari jalan dalam mempromosikan hubungan antar-Koera."
Bagaimanapun muncul sejumlah pertanyaan kenapa cara itu masih digunakan di jaman digital ketika saluran komunikasi modern sudah tersedia.
Salah satu pesan yang disampaikan siaran adalah, "Pada halaman 459, nomor 35, pada halama 913, nomor 55, pada halaman 134 nomor 86...," dan seterusnya, diikuti angka-angka lain.
Di jaman Perang Dingin, pengirim pesan dan penerima pesan memiliki buku pegangan yang sama sehingga peneria pesan bisa memaham instruksi yang disampaikan dengan merujuk buku tersebut.









