Sidang pertama terkait 'kekerasan seksual' di Cologne

Sumber gambar, Reuters
Tiga pria akan disidang di Cologne, Jerman, yang merupakan dakwaan pertama terkait perayaan malam Tahun Baru ketika ratusan perempuan mengalami 'kekerasan seksual'.
Namun ketiganya, dua dari Maroko dan seorang dari Tunisia, dituduh melakukan pencurian.
Kepolisian Cologne mengakui ada <link type="page"><caption> kemungkinan mereka yang melakukan pelecehan seksual</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/01/160105_dunia_jerman_kekerasan" platform="highweb"/></link> tidak akan pernah ditangkap.
Rekaman video dari kamera pengawas di tempat kejadian tidak cukup jelas untuk mengidenfikasi telah terjadi kekerasan seksual pada 31 Desember 2015 malam.

Sumber gambar, EPA
"Rekaman CCTV tidak cukup bagus untuk mengidentifikasi dengan jelas kekerasan seksual. Kami bisa melihat beberapa pencurian, itu saja. Kami mendasarkan pada keterangan saksi dalam mengidentifikasi para penyerang," jelas Kepala Kepolisian Cologne, Juergen Mathies kepada BBC.
Satu dakwaan kekerasan seksual
Pendahulu Mathies, <link type="page"><caption> Wolfgang Albers, dicopot karena dianggap terlalu lamban dalam menangani kasus ini.</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/01/160109_dunia_cologne_polisi_copot" platform="highweb"/></link>
Sejauh ini polisi sudah mengidentifikasi 80 tersangka, yang sebagian besar <link type="page"><caption> berasal dari Afrika bagian utara dan tiba di Jerman secara gelap maupun mencari suaka.</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/01/160108_dunia_cologne_seks" platform="highweb"/></link>

Sumber gambar, Getty
Sebanyak 13 orang ditangkap dengan tuduhan pencurian dan hanya satu -seorang pencari suaka asal Aljazair yang berusia 26 tahun- yang dituduh melakukan kekerasan seksual.
Sekitar 1.000 pria yang berasal dai Afrika bagian utara dan etnik Arab berkumpul di dekat stasiun kereta api Cologne pada perayaan malam Tahun Baru 2016.
Beberapa kelompok kecil kemudian mengepung para perempuan, mengancam dan menyerang meraka.
Kasus ini memicu kecaman atas kebijakan Kanselir Angela Merkel, yang membuka pintu untuk para sekitar satu juta pendatang dan pengungsi yang tiba di Jerman sepanjang 2015,









