Jepang frustrasi atas sikap Korut soal kasus penculikan

Salah satu dari delapan orang tersebut ialah Megumi Yokota yang diculik tahun 1977.

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Salah satu dari delapan orang tersebut ialah Megumi Yokota yang diculik tahun 1977.

Jepang menyatakan frustrasi pada keputusan Korea Utara yang telah menghentikan penyelidikan atas kasus penculikan warga Jepang oleh agen Korut beberapa tahun silam.

Menteri luar negeri Jepang, Fumio Kishida, mengatakan hal itu menanggapi keputusan Korea Utara membubarkan keberadaan tim penyelidik terkait <link type="page"><caption> kasus penculikan 13 warga Jepang pada 1970-an dan 1980-an.</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/03/150331_jepang_korut_sanksi" platform="highweb"/></link>

Pernyataan Pyongyang terkait penutupan kasus penculikan itu muncul setelah Jepang mengumumkan sanksi terhadap Korut pada awal pekan lalu menanggapi uji coba nuklir dan roket Korut baru-baru ini.

"Penyelidikan menyeluruh terhadap keberadaan orang-orang Jepang ... akan benar-benar dihentikan, "kata komite penyelidikan dalam pernyataan yang disiarkan kantor berita resmi Korut, KCNA, Jumat (12/02).

Komite penyelidikan, yang dibentuk di bawah perjanjian bilateral di Stockholm pada Mei 2014, juga akan dibubarkan, kata pernyataan itu.

Dalam kesepakatan Stockholm, Korea Utara akan melakukan penyelidikan ulang terkait kasus penculikan warga Jepang.

Saat itu, kesepakatan perundingan ini dianggap sebagai terobosan untuk menyelesaikan masalah yang selalu menjadi hambatan hubungan kedua negara.

Dikembalikan

Pada Maret 2015 lalu, Pemerintah Jepang menyatakan akan memperpanjang masa sanksi terhadap Korea Utara selama dua tahun ke depan.

Tindakan itu ditempuh karena tiada kemajuan dalam perundingan mengenai sejumlah warga Jepang yang diculik.

Pada 2002 silam, Korea Utara mengaku mereka <link type="page"><caption> telah menculik 13 orang guna melatih mata-mata Korut</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2014/03/140317_majalah_korut_culik_jepang" platform="highweb"/></link> belajar bahasa serta budaya Jepang.

Negara itu mengklaim telah mengembalikan lima orang ke Jepang pada 2002 dan belakangan membebaskan anak-anak mereka, namun delapan orang lainnya meninggal dunia.

Pyongyang mengatakan delapan lainnya tewas, tetapi tidak memberikan bukti apapun.