Warga Hungaria pertanyakan 'motif' imigran

Sumber gambar, Getty
- Penulis, Rohmatin Bonasir
- Peranan, Wartawan BBC Indonesia
Meskipun pada umumnya masyarakat Hungaria merasa iba kepada ratusan ribu imigran yang hendak menggunaan negara itu menuju negara-negara Eropa Barat, ada sejumlah hal yang membuat mereka bertanya-tanya mengenai motif pendatang.
Satu hal yang diketahui penduduk Hungaria adalah fakta terjadi perang sengit di sejumlah negara, terutama Suriah dan Irak. Oleh karena itu banyak penduduk dari negara-negara tersebut melarikan diri.
"Jelas itu banyak yang kami tidak tahu tentang mereka, misalnya bagaimana mereka sampai di sini dalam perjalanan yang panjang itu dan dari mana mereka uangnya," kata <link type="page"><caption> Laszlo Balogh</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/multimedia/2015/09/150923_hungaria_imigran" platform="highweb"/></link>, seorang guru di kota Szeged.
Kota itu hanya berjarak sekitar 20 kilometer dari Roszke, kota perbatasan Hungaria dengan Serbia yang digunakan para imigran masuk ke Hungaria. Dari Hungaria mereka selanjutnya menuju negara-negara Eropa Barat seperti Austria, Jerman dan Belanda.

Sumber gambar, AP
"Ketidaktahuan ini yang menimbulkan banyak tanda tanya, apakah benar mereka imigran, apakah mereka benar-benar pengungsi, mengungsi dari perang atau hanya ingin cari pekerjaan yang mungkin lebih baik daripada yang didapatkan di kawasan itu," tambah Balogh, guru seni rupa untuk anak-anak setingkat SD dan SMP, dalam wawancara dengan wartawan BBC Indonesia, Rohmatin Bonasir pada Rabu (23/09).
Pagar kawat berduri
Pemerintah Hungaria selama ini bersikap tegas terhadap arus pendatang yang masuk ke negara anggota Uni Eropa itu.
Pihak berwenang sudah memasang pagar kawat berduri sepanjang 175 kilometer di perbatasan dengan Serbia sehingga memotong jalur utama lewat darat yang selama ini digunakan imigran, sebagian dari negara-negara yang dilanda perang seperti Suriah, Irak dan Afghanistan.
"Terus-terang banyak kalangan tidak setuju. Itu jelas. Banyak sekali yayasan yang mendirikan tenda-tenda di mana mereka membagikan baju, makanan, air," ungkap Laszlo Balogh yang fasih berbahasa Indonesia.
Ditambahkannya, penduduk Hungaria di dekat perbatasan juga tidak keberatan jika para pendatang mengambil air atau memetik buah dari pohon mereka.
"Karena mereka juga melihat ibu-ibu jalan dengan anaknya yang masih kecil atau ada yang sudah tua dan harus dibawa."

Sumber gambar, EPA
Di sisi lain, menurutnya, sebagian warga Hungaria khawatir ada penyusup-penyusup yang terlibat dalam terorisme, yang mempunyai motif berbeda dengan kebanyakan pendatang.
"Memang ada ketakutan apakah dari warga imigran yang begitu banyak, apakah di antara mereka ada atau tidak orang-orang yang mungkin punya tujuan yang lain daripada imigran yang lainnya."
Kekhawatiran di masyarakat Hungaria terkait kehadiran ratusan ribu imigran tahun ini juga muncul di sejumlah negara lain di Eropa bagian timur, termasuk di <link type="page"><caption> Republik Ceko dan Rumania</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/09/150923_dunia_imigran_eropatimur" platform="highweb"/></link> yang sudah menolak penetapan kuota wajib relokasi imigran.









