Dipamerkan, uang yang 'diberikan Australia' kepada penyelundup

Yohanis Humiang, dengan uang dolar Amerika yang disebutnya diterima dari petugas Australia.

Sumber gambar, Polda NTT

Keterangan gambar, Yohanis Humiang, dengan uang dolar Amerika yang disebutnya diterima dari petugas Australia.

Kepolisian Nusa Tenggara Timur menunjukkan bukti uang tunai US$31.000 (sekitar Rp400 juta) yang disebut telah diberikan oleh petugas Australia kepada para awak kapal penyelundup manusia agar kembali ke perairan Indonesia.

Dalam gelar perkara di Pulau Rote, Rabu (17/06), Kapolda NTT, Brigjen Endang Sunjaya, menghadirkan sejumlah awak kapal Indonesia yang mengaku mendapatkan uang itu.

Endang Sunjaya melakukan tanya jawab terbuka di hadapan para wartawan, sebagian di antaranya wartawan asing.

Kapten kapal Andika, Yohanis Humiang, mengatakan, mereka dicegat di perairan internasional dekat Timor Leste pada 19 Mei oleh Kapal Angkatan Laut dan kapal Bea Cukai Australia.

Saat itu ia mengangkut 65 migran asal Bangladesh, Myanmar dan Sri Lanka menuju Selandia Baru.

"Mereka bertolak dari Pelabuhan Ratu, Jawa Barat, dengan tujuan Selandia Baru," kata Kapolda NTT, Endang Sunjaya, kepada wartawan BBC Ging Ginanjar.

Menurut pengakuan Yohanis Humiang, seorang petugas Australia yang "wajahnya seperti campuran Indonesia-Australia" bernama Agus menginterogasinya di atas kapal bea cukai Australia.

"Kami ditanyai siapa yang merekrut kami, siapa agennya?" kata Yohanis seperti dikutip Sidney Morning Herald.

Agus, kata Yohanis, mengatakan bahwa mereka akan dikirim pulang dengan pesawat.

Yohanis menjelaskan kepada Agus bahwa dirinya cuma mencari nafkah.

"Kami butuh uang untuk menghidupi isteri dan anak-anak kami. Lalu Agus bilang, 'OK, kami akan bantu'. Dan saya dikasih uang sebesar US$6000 (sekitar Rp75 juta), sementara para awak mendapat US$5000 (sekitar Rp63 juta)."

Indonesia bisa gugat Australia

Sesudah itu, menurut Yohanis, mereka membawa kapal Andika ke Pulau Greenhill. Dan selanjutnya Agus mengatakan, bahwa "kami harus kembali dengan perahu ke Indonesia."

Kemudian, kata Yohanis, kapal Andika dibawa ke Pulau Pasir atau Ashmore Reef.

Dan sesudah menginap semalam dalam pengawalan ketat di atas kapal Australia, mereka diberi dua kapal kayu, Jasmine dan Kanak.

Dengan dua kapal itu para awak kapal, bersama 65 pencari suaka, bertolak ke Indonesia.

Saat Jasmine kehabisan bahan bakar, mereka seluruhnya pindah ke kapal Kanak. Sampai kemudian mereka terdampar di pulau Landu, Rote Barat, NTT pada 31 Mei.

Yohanis mengaku, petugas Australia yang memberinya uang berwajah campuran Indonesia dan bernama Agus.

Sumber gambar, Polda NTT

Keterangan gambar, Yohanis mengaku, petugas Australia yang memberinya uang berwajah campuran Indonesia dan bernama Agus.

"Dua awak sempat melarikan diri," kata Kapolda Endang Sunjaya. "Namun petugas kami terus memburunya dan berhasil menangkap mereka."

Saat gelar perkara, Endang Sunjaya memamerkan beberapa gepok mata uang dolar di atas meja, dalam enam jajar yang disebutnya berjumlah US$31.000, yang disita dari para awak kapal.

Laporan bahwa <link type="page"><caption> aparat Australia membayar awak perahu pengangkut pengungsi</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/06/150612_dunia_abbott_pengungsi" platform="highweb"/></link> pertama kali diungkap awal Juni, setelah polisi Rote menangkap Yohanis, para awak kapal dan para pengungsi di kapal itu.

Perdana Menteri Australia <link type="page"><caption> Tony Abbot tidak membantah</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/06/150616_dunia_indonesia_australia" platform="highweb"/></link> laporan tentang pemberian uang oleh petugas AUstralia terhadap awak kapal yang membawa pencari suaka, untuk berlayar kembali keluar dari wilayah perairan Australia.

Bahkan ia mengatakan, Australia mengembangkan strategi kreatif untuk mencegah mendaratnya perahu-perahu migran.

Di sisi lain, seorang akademisi Australia berpendapat,<link type="page"><caption> Indonesia bisa menuntut Australia secara hukum</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/06/150616_dunia_indonesia_australia" platform="highweb"/></link>, jika hal itu memang terjadi.