Keyakinan Putin bahwa rubel akan stabil kembali

Sumber gambar, Reuters
Presiden Rusia, Vladimir Putin, menegaskan mata uang rubel yang sedang berada dalam tekanan berat akan stabil kembali walau mengingatkan krisis ekonomi mungkin berlangsung sela dua tahun.
Nilai rubel terhadap dolar Amerika Serikat dan euro mengalami penurunan dan beberapa kali <link type="page"><caption> mencapai nilai terendah walau Bank Sentral Rusia mengambil tindakan</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2014/12/141216_bisnis_rubel" platform="highweb"/></link> untuk mengendalikannya.
Dalam pernyataan tahunannya di Moskow, Kamis 18 Desember, Putin mengatakan bahwa penyebab melemahnya rubel adalah faktor luar.
Nilai rubel sempat meningkat pada Kamis lagi namun karena sudah melemah selama beberapa waktu belakangan, Rusia tetap berada di ambang resesi.
Putin juga mengakui bahwa Rusia gagal dalam melakukan diversifikasi ekonomi dan harus memotong sejumlah anggaran.

Sumber gambar, Reuters
"Jika situasinya berkembang tidak seperti yang diinginkan, kami harus mengubah rencana kami. Namun tidak diragukan kami harus memotong sejumlah anggaran."
Sepanjang tahun 2014, rubel kehilangan sekitar 50% nilainya, antara lain akibat anjloknya harga minyak dunia dan saksi Barat atas negara itu -terkait konflik di Ukraina timur- yang mulai memukul perekonomian Rusia.
Awal pekan ini muncul laporan-laporan yang mengatakan warga Rusia berlomba-lomba berbelanja antara lain mobil dan peralatan rumah tangga sebelum harga kembali naik.
Pemerintah Rusia sudah memperingatkan <link type="page"><caption> perekonomian akan jatuh ke resesi</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2014/12/141202_rusia_resesi" platform="highweb"/></link> tahun 2015 dengan menyusut 0,8% pada tahun 2015, setelah sebelumnya diperkirakan tumbuh 1,2%.









