Obama: Reformasi Myanmar alami kemunduran

Sumber gambar, EPA
Presiden Amerika Serikat Barack Obama akan berbicara dengan Presiden Myanmar Thein Sein, setelah menuduh pemerintahan Sein mengalami kemunduran reformasi.
Obama berada di Naypyitaw untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Asia Timur, yang diselenggarakan setelah <link type="page"><caption> pertemuan Asean</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2014/11/141112_asean_ktt.shtml" platform="highweb"/></link> pada Rabu (13/11).
Dalam wawancara dengan situs berita yang berbasis di Burma menjelang kedatangannya, ia mengatakan kemajuan telah dicapai.
Namun ia mengatakan momentum reformasi melambat di Myanmar dan bahkan ada langkah-langkah mundur.
"Burma masih berada di awal perjalanan yang panjang dan berat menuju pembaruan dan rekonsiliasi," tulis Obama dalam wawancara dengan majalah The Irrawaddy.
Dalam beberapa aspek, menurut Obama, memang sudah terjadi kemajuan, termasuk "<link type="page"><caption> pembebasan tahanan politik</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2014/10/141007_myanmar_narapidana.shtml" platform="highweb"/></link>, sebuah proses reformasi konstitusional dan perjanjian gencatan senjata" terkait konflik dengan kelompok minoritas Myanmar.
Namun, lanjutnya, kemajuan tidak terjadi secepat dan sebanyak yang ia harapkan ketika transisi dari kekuasaan militer ke sipil dimulai pada November 2010.
Pemerintah Myanmar, kata Obama, masih menerapkan larangan-larangan khusus untuk tahanan politik dan penangkapan wartawan.
Penderitaan kaum minoritas Muslim Rohingya di Negara Bagian Rakhine pun masih ada setelah kekerasan anti-Muslim berlangsung di sana.
"Bahkan ketika kemajuan di bidang politik dan ekonomi telah tercapai, masih banyak wilayah yang mengalami pelambatan dan kemunduran reformasi," kata Obama.









