Pemilih Krimea 'dukung penyatuan' dengan Rusia

Warga Krimea rayakan hasil referendum

Sumber gambar, Getty

Keterangan gambar, Sebagian warga Krimea merayakan hasil referendum yang digelar Minggu (16/03).

Sekitar 95,5% pemilih Krimea memilih untuk bergabung dengan Rusia dan berpisah dengan Ukraina dalam referendum yang keabsahannya disengketakan.

Sejauh ini lebih dari 50% kertas suara telah dihitung. Para pemilih diminta menentukan dua pilihan untuk bergabung dengan Rusia atau tetap bersama Ukraina dengan otonomi lebih besar.

Sesudah penghitungan suara (16/03), pemimpin wilayah otonom Krimea yang menjadi bagian Ukraina ini mengatakan ia akan mengajukan permohonan agar Krimea masuk menjadi bagian Rusia.

Presiden Rusia Vladimir Putin sebelumnya telah menyatakan akan menghormati keinginan rakyat Krimea.

Banyak warga Krimea yang setia terhadap pemerintah Ukraina memboikot referendum, terutama dari kelompok etnik Tatar dan Ukraina.

Penduduk Krimea terdiri dari 58% etnik Rusia. Sisanya adalah etnik Ukraina dan Tatar.

Pasukan pro-Rusia mengambil kendali Krimea pada Februari lalu, setelah presiden Ukraina yang pro-Moskow Viktor Yanukovych digulingkan oleh demonstrasi massal.

Pemerintah Rusia mengatakan Presiden Putin dan Presiden Amerika Serikat Barack Obama telah berbicara melalui sambungan telepon dan sepakat mencari jalan menstabilkan Ukraina.

Namun tidak lama setelah tempat pemungutan suara ditutup, Amerika kembali menyampaikan ancamannya untuk menjatuhkan sanksi kepada Rusia.

Sementara itu Uni Eropa mengatakan pemungutan suara "tidak sah" dan "hasilnya tidak akan diakui".

Amerika dan Uni Eropa sebelumnya menyatakan <link type="page"><caption> referendum di Krimea ilegal</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2014/03/140307_obama_rusia.shtml" platform="highweb"/></link>.