Rusia 'menolak' berunding dengan Ukraina

Krimea

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Krimea -yang kini dikuasai pasukan Rusia- akan menggelar referendum.

Para pemimpin Rusia menolak semua upaya perundingan dengan mitra mereka dari Ukraina, seperti dijelaskan penjabat presiden Ukraina, Oleksandr Turchynov.

Dia juga mengatakan Ukraina tidak akan melakukan campur tangan militer di Krimea dan menyebut referendum di wilayah itu untuk memisahkan diri dari Ukraina merupakan 'penipuan'.

"Sayangnya, untuk saat ini Rusia menolak penyelesaian diplomatik dalam konflik ini," tutur Turchyinov seperti dikutip kantor berita AFP.

Sementara itu Perdana Menteri Arseniy Yatsenyuk sedang dalam perjalanan ke <link type="page"><caption> Amerika Serikat</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/topik/amerika_serikat/" platform="highweb"/></link> untuk bertemu dengan Presiden Barack Obama.

Hari Kamis (13/03), Yatsenyuk akan menyampaikan pidato di Dewan Keamanan <link type="page"><caption> PBB</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/topik/pbb/" platform="highweb"/></link> di New York.

Krimea -yang saat ini sudah dikuasai oleh militer <link type="page"><caption> Rusia-</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/topik/rusia/" platform="highweb"/></link> akan menggelar referendum Minggu 16 Maret.

"Pasukan Rusia tidak ingin menggelar referendum, mereka hanya ingin memalsukan hasilnya," tegas Turchynov.

Krimea

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Referendum Krimea akan memutuskan untuk bergabung dengan Rusia atau tidak.

<link type="page"><caption> Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, John Kerry, dilaporkan menolak</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2014/03/140311_amerika_ukraina_rusia_pertemuan.shtml" platform="highweb"/></link><link type="page"><caption> tawaran perundingan</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2014/03/140311_amerika_ukraina_rusia_pertemuan.shtml" platform="highweb"/></link> dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, sebelum Moskow menanggapi usulan untuk mengatasi krisis.

Krisis di Ukraina berawal dengan unjuk rasa yang akhirnya berhasil <link type="page"><caption> menggulingkan Presiden Viktor Yanukovych,</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2014/02/140222_ukraina_presiden_parlemen.shtml" platform="highweb"/></link> yang pro-Rusia, namun warga Krimea yang sebagian besar mendukung Rusia menentang kepemimpinan baru di ibukota Kiev.