Suhu panas: Mengapa gelombang panas 'menakutkan' disebut PBB telah memasuki 'normal baru'?

Suhu panas di China.

Sumber gambar, Stefano Guidi/AFP

Keterangan gambar, Ilustrasi: Dua warga China melindungi diri dengan payung dari paparan sengatan sinar matahari.

Suhu ekstrem yang melanda dunia pada pekan ini merupakan situasi normal baru di dunia yang dihangatkan oleh perubahan iklim, kata badan cuaca PBB.

Suhu mencapai lebih dari 50C di beberapa bagian AS dan China pada hari Minggu.

Organisasi Meteorologi Dunia memperingatkan gelombang panas di Eropa dapat berlanjut hingga Agustus.

Jutaan orang di seluruh dunia sudah diperingatkan ancaman bahaya gelombang panas bagi kehidupan.

Waktu malam di Eropa dan AS diperkirakan tidak akan memberikan bantuan yang meluas karena suhu tetap di atas 30C di beberapa tempat, termasuk Arizona atau Spanyol selatan.

Tiga orang warga Sevilla, Spanyol, berteduh di bawah pohon saat gelombang panas menerpa kawasan itu, 17 Juli 2023.

Sumber gambar, CRISTINA QUICLER/AFP

Keterangan gambar, Tiga orang warga Sevilla, Spanyol, berteduh di bawah pohon saat gelombang panas menerpa kawasan itu, 17 Juli 2023.

Berikut kenaikan suhu panas ekstrem di beberapa wilayah dunia:

  • Di kawasan Death Valley di California mencapai 53,9C pada hari Minggu. Suhu terpanas yang pernah tercatat di Bumi adalah 56,7C.
  • China untuk sementara memecahkan rekor suhu tertinggi sepanjang masa pada hari Minggu ketika mencapai 52,2C di wilayah Xinjiang barat, menurut Kantor Meteorologi Inggris.
  • Suhu di Spanyol selatan pada hari Senin memuncak pada 46C. Suhu panas diperkirakan akan meningkat di Italia, dan suhu 46C diperkirakan terjadi di Sardinia. Wilayah Eropa Timur juga diprediksi akan semakin panas.

Para ilmuwan mengatakan perubahan iklim membuat gelombang panas lebih lama, lebih intens, dan lebih sering.

"Cuaca ekstrem - kejadian yang semakin kerap terjadi dalam iklim bumi yang makin hangat - berdampak besar pada kesehatan manusia, ekosistem, ekonomi, pertanian, energi, dan persediaan air," kata Sekretaris Jenderal Organisasi Meterologi Dunia, Prof. Petteri Taalas.

Baca juga:

Tim pemadam kebakaran berusaha memadamkan api yang melalap hutan di La Palma, Kepulauan Canary, Spanyol, 16 Juli 2023.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Tim pemadam kebakaran berusaha memadamkan api yang melalap hutan di La Palma, Kepulauan Canary, Spanyol, 16 Juli 2023.

"Kita harus meningkatkan upaya untuk membantu masyarakat beradaptasi dengan apa yang sayangnya menjadi 'normal baru'," tambahnya.

Hal ini menggarisbawahi mendesaknya upaya pemotongan emisi gas rumah kaca secepat dan sedalam mungkin, sarannya.

'Kita tidak berada dalam iklim yang stabil'

Ilmuwan Inggris, Dr. Frederieke Otto, dari Imperial College London, mengatakan kepada BBC bahwa "apa yang kita lihat saat ini persis seperti yang kita harapkan di dunia di mana kita masih menggunakan bahan bakar fosil".

Manusia "100% di belakang" tren kenaikan suhu global, jelasnya.

Dunia telah menghangat 1,1C sejak Revolusi Industri ketika manusia mulai membakar bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak dan gas yang melepaskan karbon dioksida ke atmosfer.

Dr. Otto mengatakan kita tidak tahu seperti apa normal baru itu karena "kita tidak berada dalam iklim yang stabil".

Baca juga:

Dua pria berdiri di samping layar digital yang mencatat suhu 54C di Furnace Creek selama gelombang panas di Taman Nasional Death Valley di Death Valley, California, 16 Juli 2023.

Sumber gambar, RONDA CHURCHILL/AFP

Keterangan gambar, Dua pria berdiri di samping layar digital yang mencatat suhu 54C di Furnace Creek selama gelombang panas di Taman Nasional Death Valley di Death Valley, California, 16 Juli 2023.

"Kami hanya akan mengetahui seperti apa iklim baru setelah dunia berhenti membakar bahan bakar fosil dan beralih ke energi hijau," tandasnya.

Badan Energi Internasional telah mengatakan bahwa tidak akan ada proyek minyak, gas, atau batu bara baru jika pemerintah serius menangani perubahan iklim.

Para ilmuwan mengatakan bahwa Eropa khususnya memanas lebih cepat daripada prediksi banyak model iklim.

Menggunakan analisa komputer, pemodelan iklim itu dapat membandingkan dunia yang terkena dampak perubahan iklim dengan dunia tanpa dampak pemanasan global.

"Ada perasaan bahwa ini di luar kendali. Kami memiliki banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk mengetahui dengan tepat apa yang terjadi," jelas Prof. Cloke.

Tiga orang turis menyejukkan diri dengan air untuk melindungi diri dari paparan panas di Piazza Navona, Roma, selama terjadinya gelombang panas, 17 Juli 2023.

Sumber gambar, Stefano Montesi/Getty

Keterangan gambar, Tiga orang turis menyejukkan diri dengan air untuk melindungi diri dari paparan panas di Piazza Navona, Roma, selama terjadinya gelombang panas, 17 Juli 2023.

Sejumlah negara tetap tidak siap menghadapi kenyataan panas yang berlebihan, jelas Julie Arrighi, Direktur Pusat Iklim Red Cross Red Crescent.

"Jika kita tidak siap menghadapi panasnya hari ini, kita pasti tidak siap menghadapi panas esok hari. Risikonya semakin meningkat," katanya.

Di Yunani, 1.200 anak dievakuasi dari kamp liburan saat kebakaran hutan terjadi. Api melalap rumah-rumah di pulau La Palma di Spanyol selama akhir pekan.

Perempuan dan suhu panas

Sumber gambar, Antonio Masiello/AFP

Keterangan gambar, Seorang turis membawa payung untuk menahan sengatan sinar matahari di Roma, Italia, 17 Juli 2023.

Di Phoenix, suhu Arizona di atas 43C bertahan selama 18 hari. Kota ini telah membagikan air dan handuk pendingin, serta membuka pusat istirahat untuk membantu warga dalam mengatasi paparan suhu panas.

"Gelombang panas ini menakutkan... Kami tahu ini akan sangat mematikan," kata Prof. Hannah Cloke dari University of Reading, Inggris, kepada BBC.

Dia mengatakan lebih dari 61.000 orang diperkirakan meninggal akibat panas di Eropa tahun lalu, dan tahun ini jumlahnya akan sama.