India: Ribuan orang mengungsi akibat bentrokan antaretnis di Manipur

Sumber gambar, Getty Images
Sebanyak 60 orang tewas dalam bentrokan antaretnis di negara bagian Manipur, India timur laut. Massa menyerang rumah, kendaraan, gereja, dan kuil, kata para pejabat setempat.
N Biren Singh, Kepala Negara Bagian Manipur, mengatakan dalam konferensi pers hari Senin (08/05) bahwa lebih dari 200 orang terluka dan puluhan ribu orang mengungsi akibat bentrokan tersebut.
Kekerasan dimulai pekan lalu setelah komunitas penduduk asli memprotes keinginan kelompok etnis utama di negara bagian itu untuk mendapatkan status suku.
Anggota komunitas Meitei, yang mencakup 53% dari populasi Manipur, sudah bertahun-tahun menuntut agar dimasukkan ke dalam kategori Scheduled Tribes atau suku yang diakui oleh negara. Status itu akan memberi mereka akses ke lahan hutan dan menjamin jatah pegawai negeri sipil dan tempat di lembaga pendidikan.
Komunitas yang sudah diakui sebagai Scheduled Tribes, terutama Kuki yang tinggal di distrik perbukitan, khawatir mereka akan kehilangan kendali atas tanah hutan leluhur mereka jika permintaan Meitei diterima.
Pada hari Senin (08/05), Menteri Dalam Negeri India, Amit Shah, mengatakan kepada saluran berita bahwa situasi di Manipur aman terkendali dan mengimbau masyarakat untuk menjaga perdamaian.
Pemerintah Negara Bagian Manipur akan berkonsultasi dengan semua pemangku kepentingan sebelum mengambil keputusan tentang masalah ini, ujarnya.
Ribuan tentara dikerahkan di negara bagian itu untuk menjaga ketertiban. Jam malam diberlakukan di beberapa distrik dan akses internet diputus sementara.
Pekan lalu, gubernur negara bagian mengeluarkan perintah "tembak di tempat" dalam "kasus-kasus ekstrem" untuk mengendalikan situasi.
Mahkamah Agung India menyatakan keprihatinan atas kekerasan tersebut dan meminta pemerintah negara bagian untuk menyerahkan laporan terbaru tentang langkah-langkah bantuan dan rehabilitasi setelah satu minggu.

Sumber gambar, Getty Images
Singh mengatakan pada hari Senin bahwa lebih dari 20.000 orang "yang terlantar di kamp-kamp bantuan" sudah dipindahkan ke tempat yang aman. Dia berkata sedang ada upaya untuk menyelamatkan 10.000 orang lainnya.

Sumber gambar, Getty Images
Sebagian besar pengungsi adalah perempuan dan anak-anak.
Penduduk setempat mengatakan mereka khawatir tentang masa depan mereka. "Kami tidak merasa aman sekarang," kata L Sanglun Simte, seorang warga di ibukota negara bagian Imphal, kepada kantor berita AFP. Warga etnis Kuki berusia 29 tahun itu berkemah di luar Bandara Imphal bersama 11 anggota keluarganya.
Pada hari Minggu (07/05) tentara mengatakan bahwa kekerasan sempat mereda setelah mereka bekerja "tanpa lelah selama 96 jam terakhir untuk menyelamatkan warga dari semua komunitas, meredam kekerasan, dan memulihkan keadaan normal".

Sumber gambar, Getty Images
Tetapi situasi masih tegang di sejumlah daerah.
Selagi penduduk setempat tinggal di tempat penampungan milik tentara, negara-negara bagian lain mengirim tim penyelamat untuk mengeluarkan orang-orang mereka dari Manipur.
Baca juga:
Beberapa negara bagian seperti Maharashtra dan Andhra Pradesh telah mengatur penerbangan khusus untuk para pengungsi.
Singh mengatakan lebih dari 1.000 senjata telah dicuri dari petugas keamanan, sekitar 200 di antaranya sudah ditemukan. Dia menambahkan bahwa semua senjata harus dikembalikan ke kantor polisi; jika tidak, pemerintah akan meluncurkan operasi untuk mendapatkannya kembali.

Sumber gambar, Getty Images
Kekerasan dimulai Rabu lalu (03/05). Massa merusak kendaraan dan membakar rumah dan toko di Imphal, serta beberapa distrik lainnya.
Video dan foto dari lokasi menunjukkan bangunan-bangunan yang terbakar, dengan asap hitam tebal menyelimuti jalan-jalan.

Sumber gambar, Getty Images
Militer mengatakan mereka sedang mengendalikan situasi.
Pada hari Senin, warga mulai keluar rumah untuk membeli makanan dan obat-obatan setelah jam malam dilonggarkan selama beberapa jam di daerah yang terdampak, lansir kantor berita PTI.
Hak atas foto: Getty Images










