Kesaksian perwira senior tentara Rusia: 'Pasukan kami menyiksa tahanan Ukraina' dari penembakan hingga ancaman pemerkosaan
- Penulis, Steve Rosenberg
- Peranan, Editor BBC Rusia
Proses interogasi yang brutal, di mana pria Ukraina ditembak dan diancam akan diperkosa, diungkapkan oleh seorang mantan perwira militer Rusia yang pernah berperang di Ukraina.
Konstantin Yefremov, perwira senior yang berbicara secara terbuka, mengatakan kepada BBC dalam sebuah wawancara eksklusif bahwa Rusia sekarang melihatnya sebagai pengkhianat dan pembelot.
Di satu lokasi di Ukraina selatan, Yefremov mengatakan "interogasi, penyiksaan, terjadi selama sekitar satu minggu".
"Setiap hari, di malam hari, terkadang dua kali sehari."
Yefremov telah berkali-kali mencoba mengundurkan diri dari dinas ketentaraan - tetapi dia akhirnya dipecat karena menolak kembali ke medan perang Ukraina.
Dia sekarang telah melarikan diri dari Rusia.
Menggunakan foto-foto dan dokumen militer yang diberikan oleh Yefremov, BBC telah memverifikasi bahwa Yefremov berada di Ukraina pada awal perang - di wilayah Zaporizhzhia, termasuk Kota Melitopol.
Artikel ini berisi deskripsi penyiksaan yang mungkin bisa menganggu kenyamanan Anda.

Wajah Konstantin Yefremov muncul di layar komputer saya dan kami mulai wawancara. Dia adalah seorang perwira tentara Rusia yang memiliki pengalaman untuk diceritakan saat berperang di Ukraina.
Ditugaskan ke Ukraina tahun lalu, mantan letnan senior itu setuju untuk memberi tahu saya tentang kejahatan-kejahatan yang menurutnya dia saksikan di sana - termasuk penyiksaan dan penganiayaan terhadap tahanan Ukraina.
Dia menceritakan tentang rekan-rekannya tentara Rusia yang menjarah daerah-daerah diduduki di Ukraina, dan menggambarkan proses interogasi yang brutal, dipimpin oleh seorang kolonel Rusia, di mana pria-pria ditembak dan diancam akan diperkosa.
Pada 10 Februari 2022, Yefremov mengaku tiba di Krimea, semenanjung Ukraina yang dianeksasi oleh Rusia sembilan tahun lalu.
Dia adalah kepala unit ranjau Divisi Senjata Bermotor ke-42 yang biasanya berbasis di Chechnya, di Kaukasus Utara Rusia.
Dia dan anak buahnya dikirim ke Ukraina untuk ikut serta dalam "latihan militer", katanya.
"Saat itu tidak ada yang percaya akan ada perang. Semua orang mengira ini hanya latihan. Saya yakin bahkan perwira senior pun tidak tahu."
'Saya takut berhenti'
Yefremov ingat bahwa dia pernah melihat pasukan Rusia menempelkan tanda pengenal di seragam mereka dan menuliskan huruf "Z" di peralatan dan kendaraan militer.
Dalam beberapa hari, "Z" telah menjadi simbol dari apa yang disebut Kremlin sebagai "operasi militer khusus".
Yefremov mengeklaim dia tidak ingin terlibat dalam operasi itu.
"Saya memutuskan untuk berhenti. Saya menemui komandan saya dan menjelaskan posisi saya. Dia membawa saya ke seorang perwira senior yang menyebut saya pengkhianat dan pengecut."
"Saya meninggalkan senjata saya, naik taksi, dan pergi. Saya ingin kembali ke markas saya di Chechnya dan mengundurkan diri secara resmi. Kemudian rekan-rekan saya menelepon saya dan memberikan peringatan."
"Seorang kolonel bersumpah akan memenjarakan saya hingga 10 tahun karena desersi dan dia telah memberi tahu polisi."

Sumber gambar, Konstantin Yefremov
Yefremov mengatakan kemudian menelepon seorang pengacara militer, yang menyarankan dia untuk mengubah pendiriannya.
"Saya menyadari sekarang seharusnya mengabaikan itu dan melanjutkan," katanya. "Tapi saya takut dipenjara."
Dia pun kembali bergabung dengan anak buahnya.
Yefremov menegaskan dia adalah orang yang "anti-perang".
Dia menegaskan ke saya bahwa dirinya tidak berpartisipasi dalam aneksasi Krimea oleh Rusia, atau berperang di Ukraina timur ketika serangan pertama kali meletus di Donbas sembilan tahun lalu.
Pada tahun 2014, Rusia tidak hanya dituduh mendalangi pemberontakan separatis di sana, tetapi juga mengirim pasukannya sendiri.
Konstantin juga memberi tahu saya bahwa dia tidak ikut serta dalam operasi militer Rusia di Suriah.
"Selama tiga tahun terakhir saya terlibat dalam pembersihan ranjau di Chechnya, tempat yang mengalami dua kali perang. Saya pikir pekerjaan yang saya lakukan di sana bermanfaat bagi orang-orang."
Penjarahan sepeda dan mesin pemotong rumput
Yefremov ditempatkan sebagai penanggung jawab sementara peleton senapan.
Pada 27 Februari, tiga hari setelah invasi Rusia, Yefremov mengatakan dia dan pasukannya diperintahkan untuk bergerak ke utara dari Krimea yang diduduki.
Mereka menuju Kota Melitopol.
Sepuluh hari berikutnya dihabiskannya di lapangan terbang yang telah direbut oleh pasukan Rusia.
Dia menggambarkan terjadi penjarahan yang disaksikan langsung olehnya di sana.
"Tentara-tentara dan para perwira mengambil semua yang mereka bisa. Mereka naik ke seluruh pesawat dan melewati semua bangunan. Seorang tentara mengambil mesin pemotong rumput. Dia berkata dengan bangga, 'Saya akan membawa pulang ini dan memotong rumput di samping barak kami.'
"Ember, kapak, sepeda, semuanya diangkut ke truk mereka. Begitu banyak barang sehingga mereka harus duduk jongkok agar muat di dalam kendaraan."
Yefremov mengirimkan kepada kami foto-foto yang katanya dia ambil di pangkalan udara Melitopol itu.
Gambar itu menunjukkan pesawat angkut dan bangunan yang terbakar.
Foto-foto itu adalah bagian dari sejumlah gambar dan dokumen yang dia bagikan - dan yang telah kami verifikasi - untuk mengonfirmasi identitas, pangkat, dan pergerakan Yefremov di Ukraina pada musim semi 2022.
Alat pemetaan daring mengonfirmasi gambar pangkalan udara Melitopol.

Selama satu setengah bulan, Yefremov dan delapan tentara di bawah komandonya menjaga satu unit artileri Rusia di sana.
"Sepanjang waktu kami tidur di luar," kenangnya.
"Kami sangat lapar, kami mulai berburu kelinci dan burung pegar. Suatu kali, kami menemukan sebuah rumah besar dan di dalamnya ada seorang pejuang Rusia. Tentara itu mengatakan 'kami dari Brigade ke-100 dan kami tinggal di sini sekarang'.
"Ada begitu banyak makanan. Lemari es penuh. Ada cukup makanan untuk bertahan hidup dari sebuah perang nuklir. Tapi tentara yang tinggal di sana menangkap ikan mas [koi] Jepang di kolam di luar dan memakannya."
'Saya melihat interogasi dan penyiksaan'
Kelompok Konstantin Yefremov bergerak untuk menjaga apa yang dia gambarkan sebagai "markas logistik" pada bulan April - di Kota Bilmak, di timur laut Melitopol.
Di sana, Yefremov mengatakan dia menyaksikan proses interogasi dan penganiayaan terhadap tahanan Ukraina.
Dia ingat suatu hari ketika tiga tahanan dibawa masuk.
"Salah satu dari mereka mengaku sebagai penembak jitu. Mendengar ini, kolonel Rusia kehilangan akal sehatnya. Dia memukulnya, menarik celana orang Ukraina itu ke bawah dan bertanya apakah dia sudah menikah.
"'Ya,' jawab tahanan. 'Kalau begitu seseorang bawakan saya kain pel,' kata sang kolonel. 'Kami akan mengubah Anda menjadi seorang gadis dan mengirimkan videonya kepada istrimu.'"
Di lain waktu, kata Yefremov, kolonel itu meminta para tahanan untuk menyebutkan semua 'nasionalis Ukraina' di unitnya.
"Orang Ukraina itu tidak mengerti pertanyaannya. Dia menjawab bahwa tentara itu adalah infanteri angkatan laut dari angkatan bersenjata Ukraina. Atas jawaban itu, mereka merontokkan beberapa giginya."
Kremlin ingin warga Rusia percaya bahwa, di Ukraina, Rusia memerangi fasis, neo-Nazi, dan ultra-nasionalis.
Narasi palsu ini merendahkan orang Ukraina di mata publik dan militer Rusia.
Yefremov menceritakan, ada seorang tahanan Ukraina yang memakai penutup mata.
"Kolonel menodongkan pistol ke dahi tahanan dan berkata 'Saya akan menghitung sampai tiga dan kemudian menembak kepala Anda.'
"Dia menghitung dan kemudian menembak tepat ke samping kepalanya, di kedua sisi. Kolonel mulai meneriakinya. Saya berkata: 'Kamerad kolonel! Dia tidak bisa mendengarmu, Anda membuatnya tuli!'"

Sumber gambar, Konstantin Yefremov
Yefremov menjelaskan bagaimana kolonel itu memberi perintah ke pasukannya bahwa orang Ukraina tidak boleh diberi makanan yang layak - melainkan hanya air dan biskuit.
Tapi Yefremov berkata: "Kami mencoba memberi mereka teh panas dan rokok."
Agar para tahanan tidak tidur di tanah, Yefremov juga mengenang bagaimana pasukannya melemparkan jerami kepada mereka - "di malam hari, agar tidak ada yang melihat kami".
Selama interogasi lain, Yefremov mengatakan, kolonel itu menembak seorang tahanan di lengan - dan di kaki kanan di bawah lutut, yang mengenai tulang.
Konstantin mengatakan anak buahnya membalut tahanan itu dan pergi ke komandan Rusia lain - "bukan ke Kolonel, dia gila" - dan mengatakan tahanan itu perlu pergi ke rumah sakit, kalau tidak dia akan mati karena kehilangan banyak darah.
"Kami memakaikan dia seragam Rusia dan membawanya ke rumah sakit. Kami mengatakan kepadanya: 'Jangan katakan Anda adalah tawanan perang Ukraina, karena dokter akan menolak untuk merawat Anda, atau tentara Rusia yang terluka akan mendengar dan menembakmu dan kami tidak akan bisa menghentikan mereka'."
Kantor Hak Asasi Manusia PBB telah mendokumentasikan kasus penganiayaan tahanan dalam perang di Ukraina, dengan telah mewawancarai lebih dari 400 tawanan perang - baik dari pihak Ukraina maupun Rusia.
"Sayangnya, kami menemukan terjadi penyiksaan dan perlakuan buruk terhadap tawanan perang di kedua sisi [Rusia dan Ukraina]," kata Matilda Bogner, kepala tim pemantau PBB yang berbasis di Ukraina.
"Jika kami membandingkan pelanggaran itu, penyiksaan atau perlakuan buruk terhadap tawanan perang Ukraina cenderung terjadi di hampir setiap tahap penawanan. Dan, sebagian besar, kondisi tawanan lebih buruk di banyak wilayah Rusia atau Ukraina yang diduduki. "
Bentuk penyiksaan atau perlakuan yang paling buruk terhadap tawanan perang Ukraina biasanya terjadi selama interogasi, kata Bogner.
Mereka mengalami penyetruman dan berbagai macam metode penyiksaan - katanya - termasuk menggantung orang dan memukuli mereka.
"Ketika mereka tiba di tempat-tempat penawanan sering terjadi apa yang disebut pukulan penyambutan. Mereka juga sering diberi makanan dan air yang tidak layak," tambahnya.
Tawanan perang Rusia juga melaporkan terjadinya pemukulan dan sengatan listrik.
"Segala bentuk penyiksaan atau perlakuan buruk yang dilarang berdasarkan hukum internasional," kata Bogner. "Tidak dapat diterima bagi kedua belah pihak untuk melakukan ini."
BBC tidak dapat secara independen mengkonfirmasi tuduhan khusus penyiksaan yang diungkapkan Konstantin Yefremov, tetapi pernyataan itu konsisten dengan klaim lain tentang pelecehan terhadap tahanan Ukraina.
Kementerian Pertahanan Rusia tidak segera menanggapi permintaan konfirmasi dari BBC atas tuduhan itu.
Dikecam sebagai pengkhianat dan pembelot
Yefremov akhirnya kembali ke unit pembersih ranjau, tapi tidak lama.
"Tujuh dari kami telah mengambil keputusan [untuk meninggalkan angkatan bersenjata]," katanya kepada saya.
Pada akhir Mei, di Chechnya, dia menulis surat pengunduran dirinya. Beberapa perwira senior tidak senang.
"Mereka mulai mengancam saya. Perwira-perwira yang tidak menghabiskan satu hari pun di Ukraina memberi tahu saya bahwa saya adalah seorang pengecut dan pengkhianat. Mereka tidak mengizinkan saya untuk mengundurkan diri. Saya dipecat."

Sumber gambar, Konstantin Yefremov
Yefremov menunjukkan kepada kami surat-surat dari militer tersebut.
Di dokumen pertama, dia dituduh "melalaikan tugasnya" dan mengabaikan perintah untuk kembali ke Ukraina, yang digambarkan sebagai "pelanggaran disiplin yang serius".
Surat kedua mengacu pada "pemecatan dini dari dinas militer oleh Yefremov... karena melanggar kontraknya".
"Setelah 10 tahun mengabdi, saya dikecam sebagai pengkhianat, pembelot, hanya karena saya tidak ingin membunuh orang," katanya.
"Tapi saya bersyukur bahwa saya sekarang adalah orang bebas, bahwa saya tidak perlu membunuh atau dibunuh."

Yefremov akhirnya keluar dari tentara, tapi dia belum lolos dari bahaya dikirim kembali ke medan perang.
Pada September 2022, Presiden Putin mendeklarasikan apa yang disebutnya "mobilisasi parsial". Ratusan ribu warga Rusia akan direkrut menjadi anggota militer dan dikirim ke Ukraina.
Yefremov mengatakan, dia tahu - karena sudah bertugas dengan militer di Ukraina - tidak akan dilepaskan begitu saja. Dia pun menyusun rencana pelarian.
"Di rumah tempat saya tinggal, saya membuat lubang di langit-langit loteng... untuk berjaga-jaga jika polisi dan petugas pendaftaran [tentara] masuk untuk mengirimkan surat panggilan.
"Petugas pendaftaran sedang menuju ke rumah saya dan menunggu saya di mobil mereka. Jadi, saya menyewa sebuah flat dan bersembunyi di sana.
"Saya juga bersembunyi dari tetangga, karena saya pernah mendengar kasus ketika tetangga memberi tahu polisi tentang pemuda yang telah direkrut dan bersembunyi. Saya merasa situasi ini memalukan dan tidak dapat diterima."
Yefremov lalu menghubungi kelompok hak asasi manusia Rusia Gulagu.net, yang membantunya meninggalkan Rusia.
Lalu saya bertanya, apa pendapat Yefremov tentang orang-orang Rusia - dan jumlahnya ada banyak - yang menyatakan dukungan atas keputusan Vladimir Putin menginvasi Ukraina?
"Saya tidak tahu apa yang ada di kepala mereka," katanya.
"Bagaimana bisa mereka membiarkan diri mereka dibodohi? Ketika mereka pergi ke pasar, mereka tahu bahwa mereka bisa ditipu. Mereka tidak mempercayai istri mereka, suami mereka.
"Tetapi seorang yang telah menipu mereka selama 20 tahun, dia memberikan perintah dan orang-orang ini siap untuk pergi dan membunuh dan mati. Saya tidak dapat memahaminya."
Di akhir obrolan kami, Yefremov meminta maaf kepada orang-orang Ukraina.
Baca juga:
- Benarkah Putin menghadirkan aktor pada acara-acara resmi?
- Ukraina dalam keadaan perang, bagaimana Presiden Zelensky bisa terbang ke Amerika Serikat?
- Kisah jurnalis perang dan bukunya 'dilarang terbit selama 200 tahun' karena 'terlalu berbahaya'
- Rusia rilis UU anti-LGBT - ‘Kami akan pergi ke bawah tanah'
"Saya meminta maaf kepada seluruh bangsa Ukraina karena datang ke rumah mereka sebagai tamu tak diundang dengan senjata di tangan saya.
"Terima kasih Tuhan, saya tidak menyakiti siapa pun. Saya tidak membunuh siapa pun. Syukurlah saya tidak terbunuh.
"Saya bahkan tidak punya hak moral untuk meminta maaf kepada orang Ukraina. Saya tidak bisa memaafkan diri saya sendiri, jadi saya tidak bisa mengharapkan mereka memaafkan saya."
Produser: Will Vernon
Analisis sumber terbuka: Joshua Cheetham
Dengan bantuan dari Gulagu.net











