Kisah jurnalis perang dan bukunya yang 'dilarang terbit selama 200 tahun' karena 'terlalu berbahaya'

Tentara dan bolfoin

Sumber gambar, Emmanuel Lafont

    • Penulis, Nicholas Barrett
    • Peranan, BBC Culture

Buku 'Life and Fate' karya Vasily Grossman menghadirkan sebuah potret Soviet di Perang Dunia II yang mengungkap "sapuan besar sejarah serta detail butiran-butiran di dalamnya."

Dalam bulan-bulan terakhir, pengunjuk rasa di Rusia diciduk karena membentangkan poster spanduk kosong dan membagi-bagikan salinan Nineteen Eighty Four, novel karya George Orwell.

Pendemo dalam aksinya menyatakan konflik di Ukraina yang menewaskan puluhan ribu tentara Rusia sebagai "perang".

Di Rusia, kebebasan berekspresi memiliki sejarah yang elastis. Kebebasan datang dan pergi sementara fajar semu acap menggoda cakrawala.

Salah satu contohnya terjadi pada 1956 ketika Nikita Khrushchev memimpin Kongres Partai Komunis pertamanya sebagai pemimpin Uni Soviet.

Saat acara itu hampir berakhir, desas-desus mulai beredar di aula konvensi. Akan ada "sesi tertutup" nanti malam. Tak seorang pun dari pers atau dari luar Uni Soviet akan diizinkan untuk hadir.

Ketika Khrushchev kembali ke panggung tak lama setelah tengah malam, dia melakukan sesuatu yang tidak dapat dibayangkan oleh siapapun di Rusia selama tiga dekade sebelumnya. Dia mengecam Stalin.

Baca juga:

Joseph Stalin dan Nikita Khrushchev, 1937.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Joseph Stalin dan Nikita Khrushchev, 1937.

Pendahulunya itu, ujar Khrushchev dalam pidatonya, membangun kultus individu yang nyaris tak tergoyahkan.

Dan Stalin menggunakannya guna menghancurkan para pesaingnya dan mengirim orang-orang komunis yang tak bersalah ke lembah kematian.

Di puncak teror, Khrushchev diminta menandatangani perintah eskekusi terhadap puluhan ribu orang. Jika Khrushchev menolak, dia barangkali akan dicap sebagai musuh rakyat dan bakal dilempar ke neraka.

Namun demikian, pidatonya selama empat jam yang isinya sangat merendahkan pendahulunya itu, diwarnai banyak interupsi, saat aparat menyingkirkan orang-orang yang naik pitam mendengar pidatonya.

Saat itu, Stalin masih merupakan sosok dewa sekuler, personifikasi abadi Rusia dan revolusi.

Mempertanyakan titahnya secara pribadi, apalagi di depan umum, seperti menyodorkan nyawa di tanganmu.

Stalin, Khrushchev, Lenin

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Seorang perempuan mengambil foto selfie di depan patung Pemimpin Soviet Nikita Khrushchev, Joseph Stalin dan Vladimir Lenin di Moskow, 22 September 2017.

Bagi Khrushchev, tujuan langsungnya barangkali untuk melemahkan para pesaingnya yaitu orang-orang Stalin di Politbiro, tetapi dalam jangka panjang dia juga mencoba memutus ideologi totaliter.

Dan meskipun teks pidato dianggap sebagai rahasia negara, konsekuensinya segera terlihat.

Patung eks diktator itu diturunkan, tahanan politik dibebaskan, Stalingrad diubah menjadi Volgograd dan Stalino - sekali lagi -menjadi Donetsk.

Ketika dia menyadari apa yang sedang terjadi, penulis Vasily Grossman pasti merasakan adanya sebuah kesempatan.

Dia dilahirkan dari keluarga Yahudi di Berdychiv, kota kecil di sebelah barat Kyiv.

Ayahnya adalah seorang Menshevik, faksi komunis moderat yang mengambil bagian dalam revolusi sebelum ditindas di bawah Stalin.

Beranjak dewasa, Grossman menulis cerita pendek ketika bekerja di tambang batu bara di Donbas, yang akan menarik perhatian Maxim Gorky .

Vasily Grossman

Sumber gambar, Alamy

Keterangan gambar, Sebagai wartawan perang bagi surat kabar 'Tentara Merah' (Red Army), Grossman menulis laporan langsung tentang pertempuran Stalingrad, Moskow, dan Kursk.

Laporan dari garis depan

Pada Juni 1941, Jerman melancarkan invasi yang meluluhlantakkan Uni Soviet dalam skala sangat besar.

Grossman dikirim ke garis depan sebagai jurnalis perang untuk Krasnaya Zvezda (Bintang Merah), surat kabar tentara yang populer di kalangan tentara dan warga sipil.

Ada desas-desus Stalin akan membaca sendiri setiap halaman sebelum diterbitkan.

Lima bulan pertama perang, Stalin menyaksikan petaka demi petaka yang dialami para pejuang saat Jerman merangsek jauh ke wilayah negara itu, dan menangkap ratusan ribu tentara Soviet.

Di Uni Soviet, "kekalahan" adalah kejahatan yang sering kali sanksinya adalah hukuman mati. Grossman pasti melihat lebih dari apa yang bisa dia laporkan.

Baca juga:

Perang Stalingrad

Sumber gambar, Georgi Zelma/Getty

Keterangan gambar, Pasukan 'Tentara Merah' menyerbu di tengah reruntuhan Kota Stalingrad yang dikuasai pendudukan Jerman.

Meski demikian, dia menjadi salah satu jurnalis paling dihormati di Uni Soviet.

Pada masa represi dan paranoia, Grossman mendapat kepercayaan dari orang-orang yang dia wawancarai dengan mengobrol dengan mereka tanpa buku catatan.

Nanti dia akan menjelaskan bahwa dia mengandalkan "pembicaraan dengan seorang tentara yang tengah istirahat sejenak. Tentara itu memberi tahu semua apa yang kamu semua pikirkan. Bahkan tanpa perlu mengajukan pertanyaan."

Dia tidak memaksa orang-orang yang diwawancarai untuk mengulang tindakan kepahlawanan yang berlebihan atau mengulangi klise ala komunis demi propaganda, dan dia sendiri juga tidak melakukannya.

"Dia luar biasa karena menjadi seorang intelektual Yahudi yang dihormati oleh tentara," kata Sir Anthony Beevor, yang mendalami jurnalisme Grossman dalam bukunya tentang pertempuran Stalingrad dan Berlin.

"Begitu mereka membaca artikelnya, mereka melihat bahwa dialah satu-satunya yang menulis kebenaran. Grossman akan mengunjungi mereka di parit dan mengingat semua yang mereka katakan."

Tapi dia masih terkekang. Kita dapat melihatnya pada hari ini dalam novel pertamanya, Stalingrad, yang diterbitkan pada 1952 dan disensor ketika membahas seputar kekejaman Tentara Merah. Usai perang, tulisannya kemudian dibuat beberapa seri.

'Life and Fate' karya Grossman.

Sumber gambar, Alamy

Keterangan gambar, 'Life and Fate' adalah bagian kedua dalam dua novel. Yang pertama, 'Stalingrad', diterbitkan pada 1952.

Saat menulis 'Stalingrad', dan selama berada di garis depan, Grossman mengatakan bahwa dia hanya bisa membaca satu buku, yaitu 'War and Peace' karya Leo Tolstoy.

Ketika perang selesai, dia mulai menulis lagi. Jelas dari ukuran dan judul 'Life and Fate', Grossman ingin berempati atas penderitaan yang ada di sekelilingnya. Karyanya ini kemudian dibanding-bandingkan dengan karya klasik Tolstoy tersebut.

Perbedaannya, Tolstoy tidak mengalami invasi Napoleon ke Rusia, dan novelnya berfokus pada para elit di St Petersburg dan Moskow.

Bukunya sebagian besar adalah kisah para pangeran, puteri, bangsawan, diplomat, dan jenderal.

Adapun 'Life and Fate' adalah kisah ibu-ibu, para ayah, anak-anak perempuan serta bocah laki-laki.

Hitler, Eichmann, dan Stalin juga ada di sana, tetapi sebagian besar dari mereka kebanyakan sebagai latar belakang yang tampil buruk.

Artinya, para pemimpin itu selalu hadir, tetapi sebagian besar jauh dan selalu terlepas dari konsekuensi perintah atau kebijakan mereka.

Perang Stalingrad

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Warga Stalingrad setelah wilayah itu berhasil direbut oleh Tentara Merah pada 1943.

Di antara pembaca dan kehadiran para tiran yang menjulang, kami menemukan potret orang-orang yang terjebak dalam baku tembak.

Bab-bab pendek di buku itu memuat apa yang terjadi di meja makan keluarga, tawanan kamp perang, dan lubang-lubang perlindungan.

Dari pertempuran di front timur itulah, Grossman, dalam episode demi episode, menyatukan hal-hal banal dan absurd.

"Seorang tentara sedang bernyanyi; yang lain matanya setengah tertutup, penuh dengan bayangan mengerikan; orang ketiga memikirkan tentang rumah; yang keempat sedang mengunyah roti dan sosis dan memikirkan tentang sosis; dan yang kelima, mulutnya terbuka lebar, tenggah mencoba untuk mengidentifikasi seekor burung di atas pohon."

Hasilnya adalah lanskap ala Bruegelian yang membuka sapuan besar sejarah di samping detail-detail butiran di dalamnya.

Tentara Soviet

Sumber gambar, Dean Conger/Getty

Keterangan gambar, Seorang tentara berjaga di tugu peringatan perang di Volgograd untuk mengenang para Tentara Merah yang meninggal dalam Perang Stalingrad, 1975.

Dalam 'Life and Fate', kita tidak hanya melihat sapu tapi juga semua debu manusia yang terlempar bersamanya.

Barangkali Grossman mengincar sesuatu seperti 'War and Peace', tetapi karena dia lebih sering ada di garis depan, dia mendarat di tengah jalan antara kisah epik penentu sebuah era ala Tolstoy dan cerita pendek mikrokosmik ala Chekhov yang tak lekang oleh waktu.

Salah satu episode tersebut mengikuti seorang perempuan muda yang belum menikah bernama Sofya.

Dia bersua bocah laki-laki tanpa pendamping bernama David di dalam truk ternak yang sempit dalam perjalanan ke Auschwitz.

Pada 1941, ibu Grossman yang berlatar Yahudi dibunuh Nazi dalam eksekusi massal di Ukraina. Laporan Grossman dari kamp konsentrasi di Treblinka dikutip sebagai bukti di Pengadilan Kejahatan Perang Nuremberg.

'Life and Fate' adalah novel tentang genosida dan juga tentang perang.

Ketika mereka tiba, David dihukum mati. Sofya adalah dokter dan Nazi bersedia menyelamatkannya. Dia menolak.

Sebaliknya, Sofya akhirnya meninggal agar dia bisa menyelamatkan David dari kamar gas.

Tindakan kebaikan

Novel ini penuh dengan "tindakan kebaikan sehari-hari yang tidak dimotivasi oleh moralitas, tetapi dimotivasi oleh peristiwa atau momen", kata Linda Grant.

Linda Grant adalah novelis yang membahas 'Life and Fate' setelah melihat nama Grossman di catatan kaki buku 'A Writer At War: Vasily Grossman with the Red Army 1941' karya Antony Beevor.

Racun yang membuat orang saling bermusuhan di hampir setiap alur ceritanya adalah ideologi, ujar Grant.

Pasukan tentara, kaum revolusioner, dan warga sipil sama-sama dikecam oleh kaum Stalinis yang merasa paling benar sendiri.

Agar tetap bertahan hidup, mereka juga mengkhianati orang-orang yang tak bersalah. Grossman mengetahui hal itu karena dia juga mengalaminya.

Tentara Soviet

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Tentara Soviet berkumpul di kamp transit di Stalingrad, sekarang Volgograd, September 1942.

Dia berkompromi dan melakukan kompromi dengan orang lain, bukan demi keberhasilan tetapi hanya untuk bertahan hidup.

"Pelajaran yang bisa dipetik adalah Anda tidak boleh percaya pada ideologi secara menyeluruh," kata Grant kepada BBC Culture, "itu bertentangan dengan kepastian moral."

Grossman pasti tahu bahwa novel semacam itu tidak akan pernah bisa diterbitkan di bawah Stalin, tetapi pada 1961, lima tahun setelah pidato Khrushchev yang tidak terlalu rahasia, rasanya ini waktu yang tepat untuk mencobanya.

Sekarang atau tidak sama sekali. Namun, ketika Grossman menyerahkan manuskripnya, dia dikunjungi oleh agen KGB, yang menggeledah apartemennya, menyita tiga salinan manuskrip tersebut.

Satu manuskripnya mendarat di meja kepala ideolog dan sensor partai, Mikhail Suslov.

Dikatakan, Suslov memanggil Grossman ke kantornya untuk menjelaskan bahwa 'Life and Fate' sangat berbahaya sehingga tidak dapat diterbitkan "untuk dua hingga tiga ratus tahun lagi" - meskipun kutipan ini telah dipertanyakan oleh penulis biografi Grossman, Yuri Bit-Yunan.

Sering dikatakan bahwa perang melibatkan segala kebosanan yang berkepanjangan dan diselingi momen-momen teror belaka.

Tentara Jerman

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Tentara Jerman sedang istirahat dan makan ransum di antara reruntuhan tembok di kawasan industri Stalingrad, Oktober 1942.

'Life and Fate' bergaya jurnalistik dan tidak pernah sempat diedit. Bab demi bab memberi kita pengalaman hidup sehari-hari di garis depan totaliterisme.

Saat pembaca perlahan mengenali karakternya, itu nyaris selalu menjadi menenangkan. Tapi setiap 50 halaman atau lebih akan ada bagian yang benar-benar memilukan.

Khrushchev tidak mengantarkan sebuah keterbukaan baru, tetapi pidatonya secara tidak sengaja telah menyalakan lilin dalam kegelapan yang menyala cukup lama untuk 'Live and Fate'.

Grossman menghabiskan beberapa tahun terakhir hidupnya dalam keadaan depresi berat, memberi tahu teman-temannya bahwa bukunya telah "ditahan".

Pada 1964 dia meninggal dunia dan bukunya masih berada di balik jeruji besi.

Tapi satu dekade kemudian, sebuah salinan mikrofilm diselundupkan keluar dari Uni Soviet, dan pada 1988, di bawah kebijakan Glasnost Mikhail Gorbachev, Rusia dan Ukraina akhirnya diizinkan untuk memegang mahakarya Grossman.

Bagaimanapun kebenaran tampaknya sering menemukan cara untuk melepaskan diri dari cengkeraman rezim totaliter.

Hal yang sama jarang dikatakan oleh para pencerita kebenaran.

---

Versi Bahasa Inggris dari artikel ini, Life and Fate: The Soviet novel 'too dangerous to read', bisa Anda baca di laman BBC Culture.