Jerman kembalikan Perunggu Kerajaan Benin: 'Ini hanya goresan di permukaan'

Sumber gambar, AFP
Jerman resmi mengembalikan 22 artefak yang dijarah oleh tentara Inggris pada abad ke-19 ke Nigeria, dalam upacara yang diadakan di ibu kota Abuja.
Pengembalian Perunggu-Perunggu Benin ini menyusul perjanjian yang ditandatangani pada awal tahun ini, untuk memindahkan kepemilikan lebih dari 1.000 benda berharga tersebut.
Namun bagi sebagian ahli, pengembalian benda-benda ini saja masih kurang, dan hanya mewakili jumlah yang sedikit bila dibandingkan dengan apa yang masih disimpan di Jerman.
Pada bulan Juli, Nigeria berkata ini adalah pertama kalinya ada negara Eropa yang melakukan perjanjian semacam ini.
Menteri Luar Negeri Jerman Annalena Baerbock berkata, ini adalah bagian dari usaha negaranya untuk menghadapi "sejarah gelap kolonial".
Berbicara di Abuja pada Selasa (20/12), dia menambahkan bahwa "ini adalah kesempatan untuk memperbaiki beberapa kesalahan di masa lalu".
Baca juga:
Di era kolonial, Jerman menguasai sebagian wilayah Barat, Timur, dan Afrika Selatan hingga akhir Perang Dunia Pertama.
Tahun lalu, Jerman secara resmi mengakui mereka melakukan genosida selama pendudukannya di Namibia.
Para serdadu kolonial Jerman membunuh puluhan ribu orang-orang Ovaherero dan Nama di sana, antara 1904-1908.
Beberapa tahun terakhir, Jerman telah mengembalikan sisa-sisa jasad manusia ke Namibia, beberapa di antaranya pernah digunakan dalam riset tentang klasifikasi rasial yang kini telah didiskreditkan.
"Pemerintah dari negara saya dulu membawa perunggu-perunggu ini, mengetahui bahwa mereka hasil rampokan dan curian.
"Setelah itu, kami tak mengacuhkan permintaan Nigeria untuk mengembalikan mereka untuk waktu yang sangat lama. Adalah hal yang salah untuk mengambil perunggu-perunggu ini dan hal yang salah untuk menyimpannya," kata Baerbock, dikutip dari media Jerman DW.
Apa sejarah di baliknya?

Sumber gambar, AFP
Di antara benda-benda yang dikembalikan adalah sejumlah kepala untuk upacara adat yang terkenal, sebuah ukiran gading, dan plakat dekorasi.
Istilah Perunggu Benin merujuk pada ribuan patung besi, plakat, dan ukiran yang dibuat pada abad ke-15 hingga abad ke-19 yang dijarah oleh tentara Inggris pada 1897 dari Kerajaan Benin di Afrika Barat, yang di era modern ini adalah Negara Bagian Edo di Nigeria.
Patung-patung ini, yang dihargai karena kecantikan dan kerumitan seni secara teknis, sangat penting secara spiritual dan sejarah untuk orang-orang di bagian Nigeria tersebut.
Pencurian Perunggu Benin masih menorehkan luka dalam bagi mereka yang menjadi keturunan orang-orang Kerajaan Benin kuno.
Setelah dikirim dengan kapal ke Inggris pada akhir abad ke-19, banyak yang kemudian dilelang di London, dan beberapa di antaranya dibeli oleh sejumlah kolektor seni dari Jerman, kata Kementerian Luar Negeri Jerman.
Negara tersebut telah menyimpan sekitar 1.100 dari perkiraan 5.000 Perunggu Benin yang dijarah itu, menurut pernyataan kementerian.
Beberapa berada di arsip sejumlah museum di Inggris, termasuk British Museum, yang memiliki koleksi terbesar yakni sekitar 900 obyek. Ketetapan perlemen mencegah British Museum mengembalikan benda-benda ini ke negara asalnya.
Namun bulan lalu, Museum Horniman di London, yang dikelola oleh badan amal swasta, mengembalikan belasan benda, termasuk Perunggu Benin ke kepemilikan Nigeria - menjadikannya museum pertama di Inggris yang melakukan pengembalian secara resmi dengan skala besar.
Gerakan mengembalikan artefak-artefak curian dari era kolonial telah mendapatkan momentum beberapa tahun terakhir, seiring dengan negara-negara Eropa dan museum-museumnya bergulat dengan cara mendapatkan benda-benda yang mereka pamerkan.
'Ini goresan di permukaan'

Sumber gambar, AFP
Pada 2020, anggota parlemen di Prancis mengambil suara untuk mengembalikan artefak-artefak Senegal dan Benin yang dijarah pada era kolonial ke negara-negara asalnya.
Aksi ini terjadi setelah ahli ekonomi Felwine Sarr dan sejarawan seni Bénédicte Savoy mengeluarkan laporan mereka, yang diperintahkan oleh Presiden Emmanuel Macron. Laporan itu menemukan sekitar 90.000 karya seni Afrika berada di museum-museum Prancis.
Laporan Sarr-Savoy juga menemukan bahwa sekitar 90% warisan budara Afrika berada di luar benua itu, dan mencatat bahwa ratusan ribu benda-benda bersejarah lain berada di Belgia, Austria, Jerman, dan Inggris.
Baca juga:
Tahun lalu, Prancis mengembalikan 26 karya seni dengan harapan negara-negara Eropa dan institusi-institusi lain mengikuti langkah itu.
Beberapa pakar, seperti Dr Oluwatoyin Sogbesan, meyakini seharusnya usaha lebih keras dapat dilakukan.
"Jumlah artefak-artefak yang dikembalikan ini tidak bisa dibandingkan dengan apa yang masih berada di Jerman, tapi ini adalah awal yang bagus. Jika Anda membandingkan 22 dari 1.130 benda yang teridentifikasi untuk repatriasi, maka bisa saja seseorang berkata aksi ini hanya menggores permukaan jika bicara soal repatriasi," kata arsitek dan sejarawan kebudayaan ini.
"Jerman berusaha untuk menepati janjinya dan bagi saya ini adalah awal," ia menambahkan.
"Ada masalah-masalah lebih besar yang harus didiskusikan secara layak terlebih dahulu, seperti reparasi finansial atau hak cipta dan kepemilikan digital. Ini semua belum didiskusikan, maka sampai sekarang restitusi masih dari satu sisi sampai semua benda telah dikembalikan. Kami akan mulai membahas reparasi finansial setelah semua artefak pulang ke rumah."
Apa selanjutnya?

Sumber gambar, Getty Images
Dr Sogbesan berkata, inventaris benda-benda yang dikembalikan dipublikasikan sehingga orang-orang bisa terlibat dalam diskusi dan menjadi bagian dari perjalanan, sekaligus berkontribusi untuk memastikan benda-benda ini tidak dicuri lagi.
"Sejujurnya, masih banyak yang harus dilakukan, baik di Nigeria maupun di luar negeri. Semua orang harus dilibatkan dalam diskusi tentang restitusi dan menyadari benda-benda apa saja yang dikembalikan," katanya kepada BBC.
"Terutama orang-orang Benin, mereka harus menjadi partisipan utama dalam kisah ini, karena beberapa benda sepertinya membutuhkan upacara adat untuk menyambut mereka."
Dr Sogbesan meyakini hanya sedikit benda yang dikembalikan, supaya Jerman bisa "mengetes air dan melihat bagaimana proses ini bisa berjalan selanjutnya".
Menteri Informasi Nigeria Lai Mohammed berkata dalam upacara penyerahan, bahwa perubahan sikap ini datang dengan cepat, menurut laporan DW.
"Dua puluh tahun yang lalu, bahkan 10 tahun lalu, tidak ada yang menduga perunggu-perunggu ini akan pulang ke Nigeria, karena rintangan-rintangan yang menghalangi repatriasi tampak begitu besar," imbuhnya.
Komisi Nasional untuk Museum dan Monumen Nigeria telah mengeluarkan surat permintaan repatriasi secara formal ke banyak museum di seluruh dunia.
Pada 2026, pemerintah Nigeria berencana membuka Museum Edo untuk Karya Seni Afrika Barat di Kota Benin, yang didesain oleh arsitek Inggris-Ghana Sir David Adjaye.
Museum ini akan menjadi rumah bagi koleksi terbesar Perunggu-Perunggu Benin yang pernah dikumpulkan.











