Konflik Afghanistan: Mantan penerjemah hadapi ancaman pembunuhan dari Taliban begitu pasukan Inggris hengkang

Sumber gambar, Getty Images
- Penulis, Jack Hunter
- Peranan, BBC News
AJ sangat takut untuk keluar dari rumahnya di Kabul selama berbulan-bulan - dia khawatir Taliban ingin dirinya dan keluarganya mati.
Di usianya kini yang sudah melewati 30 tahun, AJ termasuk ratusan warga Afghanistan yang pernah bekerja untuk pasukan Inggris sebagai penerjemah dan staf pendukung. Kini dia khawatir jadi incaran milisi Taliban karena pekerjaannya tersebut. Kerisauan mereka kini bertambah saat pasukan asing akan keluar dari Afghanistan tahun ini.
Masalahnya bagi AJ (yang tidak mau diungkapkan nama sebenarnya karena khawatir jadi incaran), permohonannya agar bisa pindah ke Inggris ditolak. Pengajuan AJ disampaikan melalui program penempatan bagi penerjemah dan keluarganya.
Alasan pejabat Inggris, AJ sudah dipecat lantaran melanggar larangan merokok di penginapan. Penerjemah yang dipecat seperti AJ tidak berhak untuk ikut program pindah ke Inggris.
AJ sendiri mengaku tidak pernah diberitahu dirinya sudah dipecat saat dia tidak lagi bekerja dengan militer Inggris. Dia pun tidak terima atas alasan yang membuat dia ditolak dalam program pemerintah Inggris itu.
"Masak sesepele itu sehingga bisa mengancam nyawa saya," ujarnya. "Saya sadar kini berada dalam bahaya. Saya bahkan tidak bisa kerja dan tidak bisa pergi ke tempat-tempat umum.
Dipecat karena alasan sepele
Sebanyak 1.010 penerjemah - atau satu dari tiga - di Afghanistan dipecat oleh Inggris antara 2001 hingga 2014 karena "masalah disiplin" tanpa ada hak untuk mengajukan banding, ungkap data pemerintah.

Sumber gambar, Getty Images
Namun, menurut Kolonel purnawirawan Simon Diggins, mantan atase militer Inggris di Kabul dan kini aktivis pembela penerjemah asal Afghanistan, banyak dari mereka dipecat hanya karena alasan yang sepele.
"Walau ada juga yang dipecat karena melakukan perbuatan yang tidak pantas, sangat banyak dari mereka yang diberhentikan hanya karena masalah yang sangat kecil atau pelanggaran administratif saja," katanya kepada BBC.
"Ada kecurigaan bahwa alasan pemecatan itu dibuat-buat. Bukti-bukti terkait pemecatan sangat sedikit. Maka kami kini menuntut semua kasus pemecatan mereka agar ditinjau lagi."
Kementerian Pertahanan Inggris menolak klaim itu.
'Mereka tahu siapa saya'
Ketakutan AJ bertambah setelah muncul pengumuman pekan lalu bahwa pasukan Amerika Serikat dan Inggris akan ditarik dari Afghanistan pada 11 September, pada saat Taliban kembali berpengaruh besar di penjuru negeri.
AJ direkrut jadi penerjemah oleh Inggris saat masih remaja. Dia bekerja untuk pasukan resimen terjun payung dan Marinir Kerajaan Inggris, ditugasi menerjemahkan pesan dari pihak musuh.
Dia pun terlibat dalam misi-misi militer Inggris di penjuru Provinsi Helmand, Afghanistan bagian selatan, yang menjadi salah satu basis Taliban. Seorang komandan Inggris pernah memuji AJ atas "kerja keras dan dedikasinya" dalam bentuk sertifikat.

Saat pasukan tempat dia bertugas menghadapi serangan Taliban di Kota Sangin, AJ mengaku terpaksa menyelamatkan diri tanpa sempat membawa barang-barang pribadi - termasuk kartu identitasnya. Maka dia yakin Taliban sudah tahu identitasnya itu dan bahwa dia bekerja untuk pasukan Inggris.
Sejak berhenti kerja untuk pasukan Inggris, AJ mengaku bahwa keluarganya - yang terdiri dari istri dan tiga anak - telah menerima tiga surat berisi ancaman pembunuhan dari Taliban. "Saya yakin mereka sudah tahu siapa saya," katanya. "Ini yang membuat saya muak."
Selama enam tahun terakhir AJ berkali-kali mendaftar program penempatan di Inggris, namun selalu ditolak.
Setelah mengirim pendaftaran Desember lalu, dia menerima surel (email) dari pejabat penyelenggara - seperti yang dilihat oleh BBC - yang isinya bahwa dia "tidak lulus untuk dapat relokasi" karena telah diberhentikan dari pekerjaan atas "kepemilikan barang terlarang" dan lantaran "merokok di akomodasi Anda."
Saat mendaftar lagi bulan ini, dia kembali ditolak dengan alasan yang sama.
Seorang penerjemah lainnya, bernama "Ahmad," juga ditolak pendaftarannya bulan ini.

Dia mengaku dipecat karena datang terlambat ke tempat kerja tiga kali pada 2013. Sejak saat itu, Ahmad mengaku telah diancam Taliban - bahkan seorang tetangganya di Kabul bilang suatu hari nanti dia akan dibunuh sebagai "seorang kafir."
"Saya menumbuhkan jenggot dan berganti pakaian demi melindungi diri," kata Ahmad. "Datang terlambat seharusnya tidak sampai mengancam jiwa kan."
'Utang budi'
Sejak mengumumkan program relokasi pada 2013, Kementerian Pertahanan telah menambah jumlah pendaftar yang memenuhi syarat - namun tetap saja tidak termasuk penerjemah yang diberhentikan "kecuali dalam keadaan luar biasa."
"Kami berutang budi yang besar kepada para juru bahasa yang bertaruh nyawa dengan bekerja bersama pasukan Inggris di Afghanistan," ujar seorang juru bicara Kementerian Pertahanan kepada BBC.
"Tidak ada seorang pun yang harus menanggung risiko karena mendukung Pemerintah Inggris mewujudkan perdamaian dan stabilitas. Kami adalah satu-satunya negara yang mengirim tim pakar permanen di Kabul untuk menyelidiki klaim-klaim dari staf lokal yang pemberani yang terancam akibat pekerjaan mereka bersama Inggris."
Hingga kini, 1.358 penerjemah berhasil pindah ke Inggris dari total 2.580 yang dipekerjakan oleh militer Inggris.
Salah satunya Eddie Idress (bukan nama sebenarnya), mantan penerjemah untuk pasukan khusus SAS yang ikut ratusan misi, termasuk terjun payung dan penyerbuan penjara Taliban - yang dia dokumentasikan dalam sebuah buku.
Dari 18 orang bersahabat yang bekerja bersama pasukan AS dan Inggris, hanya dia dan seorang temannya, juga tinggal di Inggris, yang masih hidup.

Sumber gambar, Eddie Idrees
Sedangkan yang lainnya tewas dalam pertempuran maupun yang akhirnya dibunuh oleh Taliban.
Idress mengaku khawatir dengan nasib para penerjemah lain yang pernah pekerja dalam operasi militer dan tetap di Afghanistan setelah semua pasukan asing ditarik.
"Saat Inggris memulangkan pasukan dari Afghanistan malah membuat Taliban makin mudah mengincar mereka," ujarnya.
Bahkan termasuk mereka yang sebenarnya memenuhi syarat namun masih harus mengikuti proses pendaftaran yang bisa memakan waktu hingga 18 bulan yang, menurut Idress, bisa membuat nyawa mereka berisiko.
"Hari ketika pasukan Inggris pergi merupakan hari yang akan membuat kita menyaksikan munculnya kekerasan. Begitu mereka pergi, wilayah-wilayah yang tadinya aman bakal tidak aman lagi. Dan para juru bahasa ini tidak akan dilupakan oleh Taliban."
'Masih menunggu'
Kolonel Diggins telah menyerukan adanya 'rencana darurat' untuk memindahkan para juru bahasa itu secepat mungkin.
"Apa yang benar-benar bikin saya khawatir adalah skala waktu untuk membantu mereka yang layak bisa datang ke negeri ini mengingat situasinya kian buruk," ujarnya. "Butuh 12 hingga 18 bulan untuk proses administrasi. Padahal kita tidak punya waktu sebanyak itu."
Kementerian Pertahanan Inggris mengatakan pihaknya saat ini tengah meninjau kasus atas 84 juru bahasa.
Di antaranya adalah "Amir", yang berdinas selama dua tahun di garis depan bersama pasukan Inggris di Helmand, di mana mereka rutin diserang oleh Taliban.
Sejak mundur pada 2011, dia mengaku telah menerima intimidasi atas pekerjaannya dengan Inggris. Dia pun belum bisa bertemu dengan keluarganya yang tinggal di wilayah yang dikuasai Taliban di Provinsi Logar, luar Ibu Kota Kabul.
Setelah dua kali ditolak, Amir berharap pendaftarannya untuk kali ketiga akan sukses. "Saya menunggu datangnya kabar baik," ujarnya.
Namun dia merasa "ngeri" sejak kabar pasukan asing akan ditarik dari Afghanistan. "Ini akan menambah masalah bagi kami. Saya merasakan banyak risikonya hari-hari ini. Bila pernah kerja sebagai juru bahasa dengan Inggris, artinya kita harus tetap tinggal di rumah."
Inggris bukan satu-satunya negara yang memiliki program untuk membantu mantan penerjemah mereka di Afghanistan.
Amerika Serikat punya program visa khusus bagi warga Afghanistan yang pernah bekerja untuk militernya. Sedikitnya 89.000 warga telah dipindahkan lewat program itu dan 17.000 lainnya masih menunggu hasil, ungkap Proyek Bantuan Pengungsi Internasional.
Menteri Pertahanan Jerman mengatakan merupakan tugas negaranya untuk melindungi staf warga Afghanistan begitu pasukan Jerman pulang.
Namun, bagi mereka yang belum lolos atas skema-skema relokasi tersebut, masa depan tidak menentu.
"Saya akan berupaya agar mereka percaya kepada saya dan melihat bahwa hidup saya terancam," kata AJ setelah aplikasinya untuk kali keempat lagi-lagi ditolak.
"Mengerikan. Saya masih menunggu"
Laporan tambahan dari wartawan BBC Charles Haviland











