Vaksinasi Covid-19 di Israel telah jangkau 15% penduduk, Palestina belum tahu kapan dapat vaksin

Vaksinasi di Israel

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Vaksinasi di Israel telah mencapai sekitar 1,5 juta orang.

Penasihat kesehatan pemerintah Israel tentang penanganan virus corona mengatakan tingkat vaksinasi tahap awal di negara itu "menakjubkan" tetapi memperingatkan langkah itu tidak akan cukup untuk mengatasi penyakit tersebut dalam bulan-bulan mendatang.

Profesor Ran Balicer, yang mengepalai tim ilmuwan penasihat pemerintah, mengatakan karena lonjakan penularan maka vaksin belum bisa membantu mengendalikan virus selama bulan-bulan mendatang.

"Kita mengalami gelombang dahsyat pada musim dingin. Ini melanda Israel, melanda banyak negara di Eropa. Vaksin tidak akan membantu kita mengendalikan ini dalam bulan-bulan mendatang," kata Balicer kepada BBC.

"Kita belum terlepas dari bahaya. Bahkan kita masih jauh dari tahap tersebut," tambahnya.

Sejauh ini sekitar 1,5 juta orang atau lebih dari 15% total penduduk Israel telah tercakup dalam program vaksinasi Covid-19 selama dua pekan terakhir. Jumlah populasi Israel adalah 9,3 juta jiwa.

Gambaran ini berbeda sekali dengan apa yang terjadi di wilayah Palestina, seperti dilaporkan oleh wartawan BBC untuk Timur Tengah, Tom Bateman.

Keterangan yang dirilis Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan pembelian vaksin dalam rangka program COVAX untuk negara-negara miskin dan rencana Otorita Palestina membeli vaksin seharusnya dapat menjangkau 60% penduduk Palestina tetapi WHO belum tahu kapan vaksinasi di Palestina akan dilakukan

Warga Palestina

Sumber gambar, EPA

Keterangan gambar, Hingga kini belum diketahui kapan warga Palestina akan mendapat vaksin Covid-19.

Kelompok-kelompok hak asasi manusia menyerukan kepada Israel untuk menyediakan vaksin bagi Palestina, tetapi Israel berpendapat Otorita Palestina bertanggungjawab atas penyediaan vaksin itu sesuai dengan perjanjian perdamaian Oslo tahun 1990-an.

Kantor berita Reuters melaporkan faktor utama yang menunjang kecepatan vaksinasi di Israel adalah keberanian pemerintah untuk membeli vaksin sejak awal dengan harga mahal.

Pihak berwenang belum membeberkan berapa harga yang dibayar untuk membeli vaksin yang dikembangkan perusahaan Amerika Serikat, Pfizer dan mitranya dari Jerman, BioNTech.

Namun seorang pejabat yang bersedia dikutip asalkan namanya tidak diungkap mengatakan pemerintahan pimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu "membayar sekitar US$30 (sekitar Rp417.000) per satu dosis vaksin, atau dua kali dari harga di luar negeri," seperti dilaporkan Reuters.

Pfizer menolak membeberkan rincian harga dan hanya mengatakan bahwa pihakknya menerapkan "formula harga berjenjang berdasarkan volume dan tanggal pengiriman".

Sebelumnya, Israel telah tercatat sebagai negara yang paling cepat dibandingkan negara-negara lain dalam upaya vakasinasi Covid-19, menurut laporan yang dihimpun Our World in Data.

Program vaksinasi Covid-19 di Israel diluncurkan pada tanggal 19 Desember. Untuk minggu-minggu pertama sekitar 150.000 orang per hari mendapat suntikan vaksin dengan prioritas warga di atas usia 60 tahun, tenaga kesehatan dan kelompok warga yang rentan lainnya.