Militer umumkan identitas dua perempuan janda milisi yang lakukan serangan bunuh diri di Filipina, yang menewaskan 15 orang

Sumber gambar, Reuters
Militer Filipina mengumumkan nama dua perempuan yang melakukan dua serangan bom bunuh diri di kota Jolo, Sulu, yang menewaskan setidaknya 15 orang, sementara 70 lainnya luka-luka.
Serangan di kawasan di Filipina selatan tersebut terjadi pada Senin (24/08).
Kepala Staf Angkatan Darat Filipina, Letnan Jenderal Cirilito Sobejana, dalam keterangan tertulis kepada para wartawan hari Rabu (26/08), mengatakan bahwa dua perempuan pelaku serangan bom bunuh diri di Jolo dikenal dengan nama "Nanah" dan "Inda Nay".
Dijelaskan bahwa Nanah tinggal di Basilan, sedangkan Inda Nay, tinggal di Sulu yang kemudian pindah ke Tawi-Tawi.
Sobejana mengatakan Nanah adalah istri Norman Lasuca, yang disebut sebagai warga pertama Filipina yang melakukan serangan bom bunuh diri.
Lasuca bersama seorang pelaku lain, meledakkan diri dengan sasaran tentara pemerintah di Sulu pada 28 Juni 2019.
Setidaknya tujuh tentara tewas dan 12 orang lainnya luka-luka dalam insiden ini.
Inda Nay, menurut Sobejana, adalah janda milisi kelompok yang menyebut diri mereka Negara Islam (ISIS), yang dikenal dengan nama Abu Talha. Nama lain Abu Talha adalah Talha Jumsah.

Sumber gambar, Reuters
Abu Talha tewas dalam pertempuran dengan tentara pemerintah pada November 2019.
Pihak berwenang di Filipina masih melakukan penelusuran untuk mengetahui apakah Nanah berasal dari Indonesia.
Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia, Teuku Faizasyah, mengatakan "belum ada konfirmasi resmi" terkait perempuan Indonesia yang disebutkan sebagai pelaku ini.
Pada hari Selasa (25/08), Sobejana seperti dikutip media, mengatakan ada kemungkinan salah seorang pelaku serangan bom bunuh diri di Jolo adalah perempuan Indonesia.
Kecurigaan mengarah ke Abu Sayyaf
Panglima angkatan bersenjata Filipina, Jenderal Gilbert Gapay, mengatakan bahwa serangan di Jolo pada Senin dilakukan oleh kelompok militan Abu Sayyaf.
"Kelompok Abu Sayyaf tidak akan menggoyahkan komitmen kita untuk mengakhiri kekerasan yang mereka lakukan," kata Gapay.
Hingga Rabu malam (26/08) waktu setempat, belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab.
Sebelumnya, perwira tinggi militer Filipina untuk kawasan Sulu, Brigadir Jenderal William Gonzales, juga menaruh kecurigaan ke kelompok Abu Sayyaf.
Dalam wawancara kepada media mengatakan bahwa "hanya kelompok Abu Sayyaf yang bisa melakukan serangan seperti ini".

Sumber gambar, EPA
Ledakan hebat hari Senin
Juru bicara satuan tugas antiterorisme Filipina, Rex Payot, kepada para wartawan mengatakan bahwa ledakan terjadi di dekat pusat kota.
Laporan militer dan polisi menyebutkan tentara dan warga sipil menjadi korban dalam ledakan pertama, yang terjadi ketika personel militer membantu otoritas sipil melakukan bantuan penanganan pandemi Covid-19.

Sumber gambar, EPA
Tak lama kemudian terjadi ledakan kedua di dekat Katedral Our Lady of Mount Carmel.
Tahun lalu, terjadi serangan bom bunuh diri di katedral ini ketika jemaat tengah melakukan misa. Setidaknya 23 orang meninggal dunia.

Sumber gambar, Reuters
Dalam tiga tahun terakhir, terjadi sekurangnya enam serangan bom bunuh diri, jenis serangan yang sebelumnya sangat jarang terjadi di Filipina.
Hingga Selasa (25/08) malam waktu setempat belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab melakukan serangan bom bunuh diri di kota Jolo.
"Satu-satunya kelompok yang punya kapasitas melakukan serangan ini ... adalah kelompok teroris yang aktif di kawasan ini," kata Gonzales, mengacu ke kelompok Abu Sayyaf.

Sumber gambar, EPA
Sulu adalah basis kekuatan Abu Sayyaf, yang oleh pemerintah Filipina digolongkan sebagai kelompok teroris.
Pemerintah Filipina mengatakan kelompok Abu Sayyaf terlibat dalam pengeboman dan penculikan di kawasan Filipina selatan sejak 1989.
Kelompok ini ingin mendirikan negara sendiri di Mindanao di selatan, terlepas dari Manila.

Sumber gambar, Reuters
Mereka juga sudah menyatakan diri berafiliasi dengan kelompok yang menamakan diri Negara Islam (ISIS).
Pada 2016, pejabat di Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengatakan penggerebakan oleh aparat keamanan Indonesia terhadap para simpastisan ISIS mendorong para simpatisan ini pindah ke Filipina selatan.
BNPT mengatakan bahwa setidaknya puluhan simpatisan tersebut menjalani pelatihan di kawasan tersebut.









