Kisah aktivis HAM 'dihilangkan paksa' di Pakistan: 'Saya tidak tahu kenapa ayah saya hilang'

Idris Khattak and his daughters before his disappearance

Sumber gambar, Supplied

Keterangan gambar, Talia (kanan) khawatir terkait kondisi tempat penahanan ayahnya.
    • Penulis, Saira Asher
    • Peranan, BBC News
  • Waktu membaca: 4 menit

Orang tua Talia berpisah ketika ia masih kecil, sehingga sang ayah merawatnya sendiri--mulai dari membuat sarapan sampai "gaya rambut keren" untuk di sekolah.

"Ia adalah ayah yang sangat baik," kata Talia, 20. "Seumur hidup saya, kekhawatiran terbesar saya adalah kehilangan papa."

Namun November lalu ketakutannya menjadi nyata. Idris Khattak, aktivis hak asasi manusia terkenal, diculik orang di siang hari dari mobilnya di utara Pakistan, dan selama tujuh bulan, Talia tidak tahu siapa yang menculiknya atau kenapa ia diculik.

Lalu, sebuah petunjuk. Militer Pakistan membenarkan bahwa Idris, 56, berada dalam tahanannya, sebuah pengakuan penghilangan paksa yang langka. Idris dikenai tuntutan terkait undang-undang rahasia negara.

Kini, pertanyaan soal di mana ia ditahan dan bagaimana kondisinya menghantui Talia. Selain itu, ia juga merasa bersalah naik kereta di hari ayahnya menghilang.

Idris Khattak

Sumber gambar, Handout

Keterangan gambar, Idris Khattak adalah aktivis HAM terkenal yang telah bekerja untuk Amnesty International dan Human Rights Watch

Talia dijadwalkan naik kereta dari ibukota Pakistan, Islamabad, tempat kuliahnya, ke Karachi untuk menghadiri sebuah konferensi.

Ayahnya enggan mengizinkan putrinya yang masih muda untuk pergi seorang diri, praktek yang dianggap tidak aman di Pakistan, namun ia meyakinkannya.

Idris mengatakan ia akan telpon Talia untuk mengecek setiap jam. Di tengah perjalanan, Idris mengatakan kepada Talia bahwa ia memiliki perasaan buruk dan menawarkan untuk menjemputnya jika ia turun di stasiun berikutnya.

"Saya merasa sangat bersalah sekarang, saya berpikir soal ini setiap hari. Jika saya mengiyakan dan pergi dengan Papa hari itu maka saya akan berada dengannya di mobil," kata Talia.

Terakhir kali Talia bicara dengan ayahnya, sang ayah terdengar terburu-buru dan kehabisan nafas. Idris mengatakan ia tidak akan memiliki ponselnya dalam beberapa hari ke depan. Ia pun berhenti merespon pesan singkat atau panggilan masuk. Hal itu di luar karakter Idris, sehingga Talia mulai cemas.

Beberapa hari kemudian, ia dalam perjalanan pulang ke Islamabad ketika ia menerima pesan dari seorang teman: "Saya turut sedih ayah kamu diculik."

Untuk melindunginya, keluarga Talia tidak memberitahukan berita itu. Namun judul berita dan foto ayahnya yang terpampang di situs-situs berita membuktikan kekhawatirannya.

Talia Khattak

Sumber gambar, Handout

Keterangan gambar, Talia telah bersuara dan meminta penyelidikan atas hilangnya sang ayah

Idris diculik oleh sejumlah oknum berpakaian sipil dari mobilnya di perempatan Swabi, Khyber Pakhtunkhwa, provinsi domisili keluarga Idris. Supirnya, yang juga diculik, dibebaskan dalam waktu dua hari. Menurut kesaksian supir kepada polisi, beberapa orang yang tidak dikenal menutup kepala mereka dengan tas dan membawa keduanya dalam mobil yang terpisah.

Dua hari kemudian, orang-orang yang tidak dikenal masuk ke rumah Idris dan membawa laptop dan hard drive miliknya.

Talia mengatakan sebagian besar foto-foto keluarga disimpan dalam perangkat tersebut. Mereka tidak mendengar satu kabarpun tentang Idris selama berbulan-bulan. Talia dan kakaknya, Shumaisa, mencemaskan kesehatannya. Mereka tidak tahu apakah Idris diberikan obat diabetes hariannya.

Kakak Idris Khattak lalu melapor ke polisi, dan mencoba membuat petisi untuk Pengadilan Tinggi Peshawar guna memaksa polisi menyelidiki kasus ini.

Amnesty International, di mana Idris Khattak sempat bekerja sebagai periset, mengatakan ia "dipaksa menghilang"--sebuah istilah yang dipakai untuk penculikan yang dilakukan oleh negara.

Namun setelah enam bulan tidak ada informasi soal keberadaan Idris, Talia mengunggah sebuah video permintaan di media sosial meminta orang-orang untuk menandatangani petisi meminta jawaban kepada pemerintah.

Di Pakistan yang konservatif, tidak umum seorang perempuan muda meminta keadilan lewat platform publik. Keluarganya sempat keberatan.

"Saya selalu berpikir, apa yang Papa akan lakukan? Saya tahu dia tidak akan diam. Ia akan bersuara jika salah satu dari kita [hilang]," kata Talia.

"Banyak kasus seperti yang menimpa ayah saya. Ayah saya bukan yang pertama dan ia tidak akan menjadi yang terakhir. Ini membuat saya marah dan khawatir kita tidak bisa berbuat banyak soal ini."

Idris Khattak dan anak-anaknya ketika mereka kecil

Sumber gambar, Handout

Keterangan gambar, Talia (kanan) dan kakaknya Shumaisa ketika masih kecil

Penghilangan paksa memiliki sejarah panjang di Pakistan dan menjadi 'populer' selama kepemimpinan Jenderal Pervez Musharraf pada akhir tahun 1990an.

Biasanya, mereka yang hilang adalah pemberontak atau separatis dari wilayah-wilayah konflik seperti Balochistan atau, baru-baru ini, nasionalis Sindhi.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, pasukan keamanan diduga mempraktekan hal tersebut dengan lebih luas dengan menargetkan aktivis, blogger, dan wartawan yang kritis terhadap pemerintah.

Keluarga Idris Khattak mengklaim mereka tidak tahu kenapa dia diculik, karena ia bukan kritikus vokal pemerintah atau militer dalam beberapa tahun terakhir. Ia berafiliasi dengan Partai Nasional--salah satu partai politik terbesar di Balochistan.

Komisi Hak Asasi Manusia Pakistan (HRCP), yang independen dari pemerintah, memperkirakan setidaknya 2.100 rival politik dan aktivis HAM di negara itu masih hilang, meskipun jumlah sebenarnya mungkin lebih tinggi.

Harris Khalique dari HRCP mengatakan praktek tersebut menyakitkan, terutama bagi keluarga yang tidak tahu keberadaan orang-orang terkasih, terkadang sampai bertahun-tahun. Atau sampai jenazah atau kuburannya muncul.

Secara fundamental, praktek itu juga bertentangan dengan hak-hak individu yang tercantum dalam konstitusi Pakistan.

"Jika negara melakukan aksi-aksi di luar hukum, apa legitimasi negara dalam mengejar pelaku-pelaku di luar pemerintahan yang melakukan hal yang sama?" kata Khalique.

Pada 2011, Komisi Penyelidikian Penghilangan Paksa dibentuk di Pakistan, namun pemerintahan-pemerintahan selanjutnya, termasuk yang sekarang, gagal membuktikan janji mereka mengadili pelaku penculikan yang disokong oleh negara--terutama karena hubungan dekat antara pemerintah dengan militer di Pakistan, kata pengamat.

"Meskipun pemerintah telah berulang kali berjanji memidanakan kasus penghilangan paksa, praktek itu terus dipakai sebagai alat untuk membungkam kritik atau oposisi," kata Amnesty.

"Despite repeated promises to criminalise enforced disappearances, it continues to be used as a tool to muzzle dissent or criticism," says Amnesty.

Hentikan X pesan
Izinkan konten X?

Artikel ini memuat konten yang disediakan X. Kami meminta izin Anda sebelum ada yang dimunculkan mengingat situs itu mungkin menggunakan cookies dan teknologi lain. Anda dapat membaca X kebijakan cookie dan kebijakan privasi sebelum menerima. Untuk melihat konten ini, pilihlah 'terima dan lanjutkan'.

Peringatan: Konten pihak ketiga mungkin berisi iklan

Lompati X pesan

BBC telah meminta respon dari pemerintah Pakistan tapi tidak ditanggapi.

Keluarga Idris Khattak dan aktivis-aktivis HAM menggalakkan kampanye mereka untuk menambah tekanan internasional bagi pemerintah.

Mereka menghubungi Kantor Komisioner Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR) dan Kantor Kementerian Luar Negeri Inggris.

Sebuah kejadian langka terjadi pada Juni, ketika keluarga Idris diberitahu bahwa badan intelijen militer tengah menahan Idris dan menuntutnya dengan sebuah pasal dalam Undang-Undang Rahasia Negara buatan tahun 1923.

Keluarganya juga lantas mengetahui bahwa Idris akan menghadapi pengadilan militer yang dilakukan tertutup. Mereka tidak tahu apa tuntutan yang dikenakan padanya. Ada kemungkinan mereka tidak akan pernah diberitahu.

Mereka masih belum bisa bertemu atau bicara dengan Idris. Situasi saat ini masih sulit bagi Talia, yang selalu bicara kepada ayahnya soal harinya setiap malam.

Ia berkomunikasi dengan ibunya, yang sekarang tinggal di Swiss, namun ia mengatakan, meski semua orang mendukungnya, ini adalah kesepian terbesar yang pernah ia hadapi.