'Incaran China', Balochistan, kawasan kaya dan 'terlupakan' di Pakistan, mengapa menjadi sasaran megaproyek Beijing?

Balochistan

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Meski kaya dengan sumber alam, Balochistan dikenal sebagai kawasan 'miskin dan terlupakan' di Pakistan.

Kawasan Balochistan di Pakistan memiliki cadangan emas, tembaga dan gas yang sangat besar, salah satu yang terbesar di Asia.

Namun, Balochistan juga dikenal sebagai salah satu kawasan termiskin dan terbelakang di Pakistan.

Ada yang mengatakan, kawasan terpencil yang berbatasan dengan Afghanistan dan Iran di sisi barat ini seakan terlupakan.

Padahal, di Balochistan ini, Pakistan pernah melakukan enam uji nuklir lebih dari dua dekade lalu, uji yang menjadikan Pakistan menjadi satu dari sedikit negara yang berhak menyandang sebutan kekuatan nuklir dunia.

Balochistan juga identik dengan beberapa kelompok perlawanan yang menentang pemerintah Pakistan.

Konflik antara kelompok nasionalis Balochistan dan tentara pemerintah telah menewaskan ribuan orang di kedua belah pihak.

Ada juga kelompok Taliban Pakistan, kelompok ekstrem berhaluan Sunni Lashkar-e-Jhangvi, dan Tentara Pembebasan Balochitan (BLA).

BLA mengaku empat anggota mereka melakukan serangan di Bursa Efek Karachi Juni lalu menewaskan dua petugas keamanan dan melukai tujuh orang lainnya, sebelum tewas ditembak.

Tahun lalu, kelompok ini menyerang Hotel Zaver Pearl-Continental di kota Gwadar, di Balochistan selatan, dengan sasaran investor China dan negara-negara lain yang biasanya menginap di hotel tersebut.

BLA menganggap kompleks hotel sebagai pusat proyek-proyek China bernilai miliaran dolar.

Kelompok militan menentang dengan keras investasi China dengan alasan investasi ini tidak membawa manfaat kepada warga lokal.

Mengapa Balochistan menjadi titik strategis bagi China?

Koridor Ekonomi China-Pakistan

Pelabuhan di Gwadar

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Pelabuhan di Gwadar bisa menjadi akses bagi China untuk 'memanfaatkan rute di Laut Arab'.

Hotel Zaver Pearl-Continental, yang diserang pada 11 Mei 2019, berada di puncak bukit. Dari hotel bisa dilihat pelabuhan Gwadar.

Di pelabuhan yang terletak di Laut Arab ini, China tengah membangun dermaga, sebagai bagian Koridor Ekonomi China-Pakistan (CPEC), megaproyek yang diumumkan pada April 2015.

Investasi yang ditanam China telah mencapai US$62 miliar (sekitar Rp871 triliun), dengan tujuan membangun jaringan jalan, rel kereta, jaringan pipa gas, yang menghubungkan kedua negara.

Koridor ekonomi berawal dari Kawasan Otonomi Xinjiang di China barat laut dan berakhir di pelabuhan Gwadar di Balochistan, di Pakistan barat laut, mencakup jarak sekitar 3.000 kilometer.

Proyek-proyek ini akan memberi China akses langsung ke Samudra Hindia.

Bagian dari geostrategi China

Ketertarikan China terhadap Balochistan sebenarnya bukan hal yang baru.

Beijing tertarik "menggarap" kawasan ini bahkan sejak sebelum Perang Dingin.

Saqlain Imam, wartawan BBC Urdu, menjelaskan sudah sejak lama China menaruh perhatian di perbatasan barat mereka, demi mendapatkan akses ke Eropa, negara-negara di Asia Tengah dan Iran.

"Ini bukan sesuatu yang baru. China ingin 'menggarap' perbatasan barat karena alasan komersial dan alasan strategis lain," ujar Imam.

Ia menambahkan, Amerika Serikat sudah sejak lama menempatkan armada Angkatan Laut di perairan di China tenggara dan secara hipotetis bisa memblokir perdagangan di kawasan dengan menutup akses ke Selat Malaka, rute perdagangan yang sangat penting bagi China.

Pakistan secara historis pernah menjadi sekutu China. Dalam konteks ini, China tak bisa menggantungkan diri pada negara-negara di perbatasan timur mereka seperti Jepang, Korea Selatan dan Taiwan.

Jika China ingin mendapatkan akses ke Laut, maka Balochistan bisa menjadi pilihan.

Kepentingan Pakistan

Pemimpin Pakistan dan China, Imran Khan dan Xi Jinping

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Kerja sama pembangunan infrastruktur antara China dan Pakistan bernilai lebih dari Rp870 triliun.

Namun proyek-proyek di koridor tak semata-mata menguntungkan China.

Pakistan juga akan diuntungkan.

"Pakistan tak memiliki sistem kereta yang memadai. Negara ini juga kekurangan sekolah, rumah sakit dan pusat kesehatan. Selama 40 tahun terakhir, investasi infrastruktur bisa dikatakan rendah," kata Imam.

"Pakistan hanya punya satu pelabuhan besar, yaitu di Karachi, yang dibangun di masa kolonial lebih dari 100 tahun lalu," imbuhnya.

Di tengah keterbatasan dana, proyek-proyek CPEC tentu akan sangat menguntungkan bagi pemerintah Pakistan.

Namun investasi China juga menimbulkan ketegangan.

Banyak yang menolak, baik karena alasan ekonomi maupun ideologi.

"Beberapa pihak di Balochistan menolak investasi China karena mereka pada dasarnya menentang semua kebijakan pemerintah Pakistan. Mereka ingin menjadi negara tersendiri," kata Imam.

"Kelompok-kelompok lain merasa suara mereka tak diperhatikan," kata Imam.

Mereka merasa pemerintah federal dikuasai oleh Punjab, provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Pakistan, namun dari sisi luas wilayah, masih kalah dari Balochistan.

"Kelompok-kelompok ini merasa warga di Balochistan tak punya suara dalam menentukan proyek-proyek besar [di Balochistan]," jelas Imam.

'Mereka menjual wilayah kami ke China'

Pelabuhan di Gwadar

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Proyek koridor ekonomi China-Pakistan berawal dari Xinjiang dan berakhir di pelabuhan di Gwadar, Balochistan.

Hassas Kosa, aktivis Dewan Hak Asasi Manusia Balochistan (BHRC), lembaga swadaya masyarakat yang menyuarakan kepentingan masyarakat Balochitan, merasa bahwa proyek-proyek China tak terlalu menguntungkan masyarakat Balochistan.

"Pakistan sedang mengalami masalah keuangan. Mereka perlu dana dan mereka mengatasi masalah ini dengan cara menjual wilayah kami ke China," kata Kosa kepada wartawan BBC Mundo, Norberto Paredes.

"Warga di Balochistan tak akan diuntungkan dari kerja sama Pakistan-China. Kami tahu karena ada sejarahnya," kata Kosa.

Ia mengatakan pemasukan dari proyek gas alam di Balochistan "mengalir ke mana-mana, kecuali ke warga Balochistan".

Setengah dari total produksi gas Pakistan berasal dari eksplorasi di Balochistan.

BLA, kelompok yang mengaku melancarkan serangan di Bursa Efek Karachi pada akhir Juni, adalah satu dari enam kelompok separatis bersenjata di Balochistan.

Amerika Serikat dan Inggris menganggap mereka organisasi teroris.

Tidak mudah bagi wartawan dan organisasi HAM masuk ke Provinsi Balochistan.

Muncul dugaan tentara Pakistan melakukan represi dalam skala besar, tuduhan yang dibantah pemerintah lokal pada sejumlah kesempatan.

Para pengamat mengatakan ketegangan antara kelompok-kelompok separatis di Balochistan dan tentara pemerintah Pakistan akan terus berlanjut, sampai dicapai kesepakatan antara kedua pihak.