Demo Hong Kong: Potret kemarahan dan rasa putus asa warga selama enam bulan terakhir
Sumber gambar, Getty Images
Keterangan gambar, Pengunjuk rasa menghadiri aksi protes menentang RUU Ekstradisi yang kontroversial di Hong Kong pada 9 Juni 2019
Pada 9 Juni 2019, sebuah aksi unjuk rasa besar-besaran terjadi di Hong Kong - potret amarah warga terhadap perubahan terencana atas hukum ekstradisi di kawasan tersebut.
Rancangan Amandemen Undang-Undang Hukum Ekstradisi (ELAB) Hong Kong dapat memungkinkan tersangka pelaku kejahatan dikirim ke luar negeri untuk menjalani proses persidangan, bahkan ke tempat yang tidak menjalin kesepakatan ekstradisi dengan Hong Kong.
Yang mengkhawatirkan adalah bahwa dengan undang-undang itu orang dapat dikirim ke China daratan untuk disidang. Para pengunjuk rasa mengatakan bahwa hal itu dapat membuat mereka menghadapi persidangan yang tidak adil, dan akan mempermudah China memburu musuh politik mereka di Hong Kong.
Enam bulan berjalan, RUU itu telah dicabut namun amarah warga semakin berkembang. Kali ini mereka fokus terhadap pemerintah dan dugaan tindak kekerasan polisi.
Berikut adalah foto-foto terbaik yang menggambarkan amarah warga Hong Kong selama enam bulan terakhir.
Keterangan gambar, Setelah aksi unjuk rasa besar-besaran yang pertama, pemerintah Hong Kong mengatakan bahwa mereka akan menunda RUU Ekstradisi - namun itu saja tidak cukup bagi para penentangnya. Tanggal 16 Juni, sekitar dua juta warga Hong Kong turun ke jalan untuk menuntut dicabutnya RUU tersebut secara keseluruhan.
Sumber gambar, Getty Images
Keterangan gambar, Pada 1 Juli, dalam salah satu momen paling dramatis dari unjuk rasa yang terjadi, ratusan orang menerobos masuk ke dalam gedung markas pemerintahan Hong Kong. Mereka menduduki gedung itu semalaman, merusak lambang kota dan menyemprotkan cat ke kalimat slogan yang terpampang di dinding.
Sumber gambar, AFP
Keterangan gambar, Dalam unjuk rasa berbulan-bulan itu, sebuah kelompok yang disebut garis keras muncul. Berpakaian serba hitam dan dengan hati-hati menyembunyikan identitas, mereka akan berhadapan dengan polisi setelah aksi damai - menciptakan siklus kekerasan.
Sumber gambar, Huw Evans picture agency
Keterangan gambar, Seiring polisi yang menggunakan langkah-langkah lebih keras dalam membubarkan massa, hubungan antara keduanya semakin buruk. Beberapa warga Hong Kong kini menuduh polisi melakukan tindak kekerasan dan menuntut digelarnya penyelidikan independen terhadap mereka.
Sumber gambar, Reuters
Keterangan gambar, Salah satu momen kunci dalam unjuk rasa terjadi di Yuen Long, di mana para pria berkaos putih yang diyakini merupakan anggota geng triad - kelompok penjahat terencana - menyerang para penumpang kereta. Polisi yang terlambat datang ke lokasi kejadian memicu tuduhan bahwa mereka sengaja menjauh.
Sumber gambar, AFP
Keterangan gambar, Pada awal September, polisi mulai menggunakan taktik baru - menyemprotkan cairan berwarna biru yang tak bisa dihilangkan sehingga mereka yang kabur dapat dikenali. Ribuan orang ditangkap dalam kurun enam bulan terakhir.
Pada 30 September, para pengunjuk rasa membentuk rantai manusia yang membentang ke seantero Hong Kong, sebagai sebuah referensi terhadap aksi protes demokrasi Baltic Way yang juga membentuk rantai manusia melintasi Latvia, Estonia dan Lithuania.
Sumber gambar, Getty Images
Keterangan gambar, Aksi unjuk rasa telah mencapai hampir semua sudut Hong Kong dan menyebabkan gangguan yang signifikan. Ini adalah salah satu aksi damai yang dilakukan di dalam sebuah pusat perbelanjaan di Sha Tin, jauh dari pusat utama kawasan komersial.
Sumber gambar, Getty Images
Keterangan gambar, 'Dinding Lenno' telah menjadi sebuah fitur di kota yang dilanda protes - terowongan dan jembatan telah ditempeli berbagai pesan dukungan, amarah dan solidaritas. Namun mereka terkadang juga menjadi tempat bentrokan.
Sumber gambar, Getty Images
Keterangan gambar, Perempuan ini, yang jauh lebih tua dari sebagian besar pengunjuk rasa, merupakan sosok yang biasanya secara rutin hadir dalam berbagai aksi. Sambil melambaikan bendera Inggris, ia kemudian dikenal dengan sebutan Nenek Wong, dan mengatakan kepada wartawan bahwa ia khawatir akan masa depan tapi juga merindukan masa-masa kolonial. Ia sudah lama tidak muncul dalam aksi protes.
Sumber gambar, Getty Images
Keterangan gambar, Salah satu tuntutan pengunjuk rasa adalah bahwa pemerintah harus berhenti mengelompokkan aksi unjuk rasa mana pun sebagai aksi ricuh. Mereka merujuk pada foto-foto seperti ini - massa membuka jalan bagi ambulans yang lewat - sebagai bukti bahwa mereka terorganisir dan tertib.
Sumber gambar, Getty Images
Keterangan gambar, Betapa mudanya beberapa pengunjuk rasa menjadi sangat kontras ketika kampus Universitas Politeknik Hong Kong menjadi latar insiden pengepungan yang dramatis. Para pengunjuk rasa membarikade diri mereka di dalam kampus selama berhari-hari dan menembakkan bom bensin dan anak panah ke arah polisi. Pada akhirnya, kepala sekolah sejumlah SMA datang untuk meyakinkan siswa mereka untuk pulang.
Sumber gambar, Getty Images
Keterangan gambar, Berbagai kejadian yang berlangsung di Hong Kong membuat banyak orang bertanya-tanya kenapa para pengunjuk rasa rela mempertaruhkan hidup dan kebebasan mereka. Banyak di antaranya yang percaya bahwa masa depan Hong Kong dalam bahaya.
Sumber gambar, Getty Images
Keterangan gambar, Dalam enam bulan terakhir, para pengunjuk rasa menunjukkan sampai sejauh mana mereka siap beraksi untuk mempertahankan keunikan identitas Hong Kong dan kebebasan yang mereka miliki.