Pengkritik keras Israel yang dilarang masuk: Rashida Tlaib dan Ilhan Omar

Ilhan Omar (kiri) dan Rashida Tlaib.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Ilhan Omar (kiri) dan Rashida Tlaib.

Rashida Tlaib dan Ilhan Omar membuat sejarah pada bulan November 2018 ketika mereka berhasil meraih kursi Kongres Amerika Serikat sebagai perempuan muslim pertama dalam sejarah Amerika yang bisa melakukannya.

Rashida Tlaib dan Ilhan Omar adalah anggota Partai Demokrat dan cocok untuk masuk dalam kepolitikan yang progresif.

Mereka membela hak-hak LGBTQ, membela hak aborsi, dan bicara lantang mendukung imigran.

Namun ada satu hal yang membedakan keduanya, bahkan dari anggota Kongres yang lain: Israel.

Kontroversi boikot

Kedua perempuan ini merupakan pengkritik keras perlakuan Israel terhadap Palestina, dan hanya mereka politisi di Kongres yang secara terbuka mendukung gerakan boikot terhadap Israel.

Hal ini membuat Rashida dan Ilhan menjadi wakil rakyat Amerika Serikat pertama dalam sejarah yang ditolak masuk ke Israel.

Keduanya ditolak masuk ke Israel ketika bermaksud melakukan kunjungan. Israel akhirnya sempat mengizinkan Rashida Tlaib masuk hari Jumat (16/08) dengan syarat tidak boleh menyerukan gerakan boikot terhadap Israel. Namun di hari yang sama Rashida menolak izin itu karena dianggap sebagai penindasan dan memalukan.

Berbeda sekali dengan 72 orang rekan mereka dari Kongres yang awal bulan ini dibayari penuh untuk melawat ke Israel - sebuah acara tahunan yang disponsori oleh kelompok lobi.

Muftia Tlaib

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Muftia Tlaib, yang tinggal di daerah pendudukan di Tepi Barat, adalah nenek dari anggota Kongres Rashida Tlaib.

Ilhan Omar dan Rashida Tlaib berencana terbang ke Israel ke wilayah Palestina yang diduduki Israel: Yerusalem Timur dan Tepi Barat.

Malahan, Rashida Tlaib memasukkan juga rencana untuk melakukan kunjungan keluarga.

Nenek dan keluarga dari pengacara Amerika keturunan Palestina ini tinggal di Tepi Barat.

Sesudah Israel menolaknya masuk, Rashida Tlaib memasang foto neneknya di Twitter dan mengatakan, "Keputusan Israel untuk melarang masuk cucu dari nenek ini - seorang anggota Kongres Amerika - adalah tanda kelemahan karena takut pada kebenaran tentang apa yang terjadi pada Palestina."

Perjuangan hak sipil

Ia juga menekankan bahwa pemerintah apartheid Afrika Selatan pernah menolak masuk pegiat hak sipil dan politisi Amerika terkenal, Jesse Jackson.

Rashida Tlaib meggambarkan Israel sebagai negara "rasis" yang memunculkan kritik bahwa sikapnya itu anti-Semit.

Benjamin Netanyahu dan Donald Trump

Sumber gambar, GPO via Getty Images

Keterangan gambar, PM Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Amerika Donald Trump merupakan sekutu dekat.

Dalam kontroversi ini, sekutu terdekatnya adalah anggota Kongres Ilham Omar dari Minnesota, seorang perempuan berhijab Amerika keturunan Somalia berumur 38 tahun yang datang di AS sebagai pengungsi ketika anak-anak.

Ia menyebut larangan masuk baginya dan Rashida Tlaib merupakan "penghinaan" dan menyebut ironi bahwa Israel yag mengaku "satu-satunya negara demokrasi" di Timur Tengah membuat keputusan yang "menghina nilai-nilai demokrasi".

Pandangan Ilhan Omar terhadap Israel telah menjadi perhatian sejak ia terpilih sebagai anggota Kongres.

Sebelumnya, ia mencuitkan sebuah sindiran bahwa kelompok lobi pro-Israel Aipac (The American Israel Public Affairs Committee) menggunakan insentif uang untuk mendorong agenda pro-Israel.

Komentarnya ini memicu kehebohan di twitter dari para pendukung dan pengkritiknya seputar peran Aipac dalam politik Amerika, juga tuduhan bahwa Ilhan Omar bersikap rasis terhadap Yahudi.

Tuduhan Anti-Semitisme

Ilhan akhirnya mencuitkan "permohonan maaf yang tegas", seraya berterimakasih kepada rekan-rekannya untuk "mendidik tentang sejarah pedih anti-Semit" dan berkata bahwa tujuannya adalah mengkritik kelompok lobi bukan Yahudi.

Ini adalah kedua kalinya ia menyampaikan permintaan maaf sesudah cuitannya diserang.

Sesudah menjadi anggota Kongres, cuitannya di tahun 2012 muncul kembali: "Israel telah menghipnotis dunia, semoga Allah membangunkan orang-orang dan membuka mata mereka agar melihat kekejaman Israel."

Bendera Palestina

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Palestina menyatakan gerakan boikot terhadap Israel merupakan perlawanan tak bersenjata yang sah, tapi Israel menolak hal tersebut.

Cuitan ini berbarengan dengan Operasi Pillar of Defense Israel terhadap Gaza, di mana - menurut PBB - enam orang Israel dan 158 orang Palestina - termasuk 30 anak-anak dan 13 perempuan - tewas.

Kedua anggota Kongres ini adalah pengkritik paling kuat dan keras terhadap Presiden Donald Trump, yang mendorong Israel agar melarang mereka masuk.

Trump menyebut keduanya "aib" dan menyatakan "jika Israel membolehkan Omar dan Tlaib masuk, itu memperlihatkan mereka lemah".

''Mereka benci Israel dan seluruh orang Yahudi dan tidak ada yang bisa dikatakan atau dilakukan untuk mengubah pandangan mereka," cuitnya di Twitter.

Hukum anti-boikot

Perdana Menteri Israeli Benjamin Netanyahu mengatakan undang-undang anti boikot digunakan untuk melarang kedua anggota Kongres ini masuk ke Israel.

Di bawah undang-undang yang disahkan pemerintahan Netanyahu tahun 2017, orang asing yang menyerukan segala janis boikot terhadap Israel - ekonomi, budaya dan akademis - akan ditolak visa masuknya.

Rashida Tlaib dan Ilhan Omar

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Kedua anggota Kongres Amerika ini menolak tuduhan bahw mereka anti-Semit.

Israel menuduh gerakan boikot itu mengancam keberadaan Israel dan pandangan ini diyakini oleh para politisi Amerika dari kubu manapun di Kongres.

Kedua permpuan anggota Kongres ini menolak tuduhan bahwa seruan untuk boikot ini merupakan tindakan anti-Semitik.