Trump akan umumkan keputusan nuklir, Iran 'jalin hubungan konstruktif'

Sumber gambar, IRAN PRESIDENTIAL OFFICE / EPA
Presiden Iran Hassan Rouhani mengatakan negaranya akan terus menjalin hubungan konstruktif dengan dunia terkait dengan program nuklirnya.
"Fondasi kebijakan luar negeri kita adalah hubungan konstruktif dengan dunia," tegas Presiden Rouhani dalam pidato di Teheran yang disiarkan langsung oleh televisi Iran, Selasa (08/05).
"Jika kita dijatuhi sanksi atau tidak, kita harus mandiri. Hal ini sangat penting bagi pembangunan negara kita," tambahnya.
Penegasan itu ia sampaikan beberapa jam sebelum Presiden AS Donald Trump mengumumkan keputusan apakah akan menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran dan menjatuhkan sanksi kepada negara itu, atau tidak.
AS mundur sepenuhnya?
Presiden Rouhani juga mengakui bahwa Iran mungkin menghadapi kesulitan selama beberapa bulan jika Amerika Serikat benar-benar mundur dari kesepakatan nuklir tahun 2015. Namun, ditambahkannya, semua kendala dapat diatasi.
Kesepakatan ditandatangani oleh Iran, Inggris, Amerika Serikat, Prancis, Jerman, Rusia, Cina dan Uni Eropa. Menyusul kesepakatan itu, sanksi-sanksi ekonomi yang sebelumnya diberlakukan terhadap Iran dicabut sebagai imbalan atas pembatasan program nuklirnya.
Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan, Presiden Trump mungkin hanya akan mengumumkan bahwa Amerika Serikat mundur dari sebagian kesepakatan, tidak sepenuhnya. Akan tetapi hingga kini belum jelas bagian-bagian yang akan ditolak AS.

Sumber gambar, Matt Cardy/PA
Ancaman Presiden Trump disampaikan dalam berbagai kesempatan. Intinya ia ingin kesepakatan nuklir itu diubah karena menurutnya 'cacat yang membawa petaka'.
Menurut Presiden Trump, kesepakatan tahun 2015 tersebut hanya membatasi kegiatan nuklir Iran selama waktu tertentu dan gagal menghentikan pengembangan rudal balistik.

Sumber gambar, ABEDIN TAHERKENAREH/EPA
Di samping itu, katanya, Iran mendapat durian runtuh sebesar US$100 miliar atau sekitar Rp1.406 triliun yang digunakan sebagai "dana gelap untuk senjata, teror, dan penindasan" di seluruh wilayah Timur Tengah.
Sebelumnya, Inggris, Prancis dan Jerman telah menyerukan kepada Presiden Trump untuk tidak meninggalkan kesepakatan nuklir Iran.
Iran menegaskan program nuklir sepenuhnya untuk tujuan damai dan mematuhi kesepakatan pembatasan aktivitas nuklir yang sudah diverifikasi oleh Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA).
Presiden Rouhani mewakili wajah lebih moderat di jajaran kepemimpinan Iran, dan ia membantu merampungkan kesepakatan nuklir sebagai upaya memperbaiki perekonomian yang terpuruk karena sanksi-sanksi internasional.
Namun, sebagaimana dilaporkan oleh editor BBC masalah Arab, Sebastian Usher, terdapat kekuatan-kekuatan garis keras di Iran yang tidak pernah mendukung kesepakatan dan akan merasa lega jika kesepakatan itu gagal.









