Apakah menurut Anda kuburan ini kurang sopan?

Como

Sumber gambar, FACEBOOK/CORRADO SPANGER

Keterangan gambar, Makam ini terlihat berbeda dengan kuburan lain di sekitarnya. Makam ini didesain khusus untuk orang terkasih, meski tak disenangi sejumlah orang.
    • Penulis, Rebecca Seales
    • Peranan, BBC News

Di makam ini dikubur Carlo Annoni, petugas medis berusia 61 tahun sekaligus pegiat yang memperjuangkan hak-hak kaum LGBT. Dia dikebumikan di pemakaman Mariano Comense di Como, Italia.

Suami Annoni yang tenggelam dalam duka, memutuskan untuk melangsungkan prosesi pemakaman bernuansa suka cita. Ia ingin sesuatu yang menggelorakan kehidupan, kegembiraan, dan cinta.

Siapa sangka, langka dan prakarsanya itu dikecam dan disebut sebagai ketidaksopanan yang tidak senonoh.

Andrea Ballabio, anggota dewan legislatif dari Partai Forza Italia, angkat bicara tentang kuburan tersebut.

"Tanpa ada maksud diskriminasi gender, makam itu sungguh mencolok - seperti tidak menghormati orang-orang mati dan sanak keluarga mereka yang datang untuk nyekar ke sini," ujar Ballabio.

Ballabio pun mengungkapkan niatnya untuk membuat aturan yang ketat terkait warna untuk setiap nisan di pemakaman itu yang disambut kemarahan oleh teman-teman Annoni.

Deretan nisan yang terpisah menunjukkan penghormatan bagi setiap orang mati di pekuburan. Beberapa orang mungkin melihat kuburan megah berwarna-warni terlalu mencolok, akan tetapi apakah melarang keberadaannya merupakan hal yang tepat?

Bukankah menentukan bentuk dan warna makam adalah pilihan pesonal untuk menghormati kepergian orang yang kita kasihi?

Mengapa kuburan kerap berwarna abu-abu?

Sejarah mencatat, batu nisan abu-abu kerap digunakan di dataran Eropa karena kala itu hanya tersedia jenis batu gamping, batu pasir, dan batu tulis.

Namun saat ini, pasar penuh dengan marmer hitam yang diimpor dari Cina.

Pemakaman

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Pada masa lalu, batu nisan dibuat dari batu-batu yang tersedia di sekitar pemakaman.

Profesor Douglas Davies, Direktur di Pusat Studi Kematian dan Kehidupan pada Universitas Durham, menyebut pada masa lalu jika orang ingin sesuatu yang lebih berwarna, biasanya akan lebih mahal dan susah diperoleh.

Belakangan, kata dia, mulai muncul batu-batu nisan yang dibuat dengan sentuhan yang lebih personal.

"Perkembangannya, misalnya ada batu nisan yang diukir dengan motif sepak bola," kata Davies.

"Saya baru-baru ini melihat kuburan keluarga gipsi yang nomaden dengan beberapa patung kuda besar dipancang di nisannya - struktur yang menakjubkan."

"Mamasukkan gaya hidup ke batu nisan, menurut saya, secara dramatis terus menjadi tren yang meningkat."

Kuburan di Surabaya

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Sebuah kuburan di Surabaya

Corrado Spanger, pria yang menjadi pasangan Annoni selama 36 tahun, berkata kepada BBC bahwa dia menginginkan makam yang "ceria dan berwarna untuk menekspresikan kasih sayang dan kesetiaan".

"Warna-warni juga memberikan impresi bahwa kehidupan Carlo berlanjut ke suatu tempat, meninggalkan saya dengan pesan bahwa kami sebenarnya tidak benar-benar berpisah," tuturnya.

Meski tak disukai sesuai semua orang di Italia, pandangan Spanger toh serupa dengan sejumlah tradisi di belahan dunia lain.

Yang suka makam berwarna-warni

Di Meksiko, warga lokal mengenang kepergian orang yang mereka sayangi dengan menggelar karnaval musik dan pesta warna selama tiga hari. Acara itu dikenal publik sebagai Día de los Muertos alias Hari Para Orang Mati.

Dalam festival itu, makam-makam dihiasi tanamanmarigold yang berwarna menyala, dan pasar penuh dengan permen berbentuk tengkorak, setan, dan peti orang mati.

Meksiko

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Pemain terompet melantunkan musik di dekat makam sanak saudaranya di Tlacotepec, Meksiko, pada perayaan Hari Orang Mati.

Di rumah dan kuburan, altar makam penuh dengan bunga, lilin, dan makanan favorit orang terkasih untuk menarik roh-roh mereka datang berkunjung.

Orang-orang asing mungkin menganggap fenomena penuh suka cita ini sebagai upaya mengenang alien atau bahkan tradisi yang mengerikan.

Meski demikian, di sebagian wilayah Amerika Selatan, berpesta dengan orang mati dianggap masuk akal dan wajar.

"Saya berharap setiap negara Katolik yang memiliki gaya hidup penuh warna akan merefleksikan cara serupa di pemakaman keluarga mereka," kata Profesor Davies.

Meksiko

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Tengkorak ini dibuat dari gula dan dibentuk dengan cetakan berongga.

Di Ghana, gaya pascakematian bahkan lebih berani. Di Acrca, ibu kota negara itu, "peti mati fantasi" memiliki beberapa bentuk yang luar biasa, seperti elang, mobil jip, biji cokelat, dan bahkan perempuan seksi.

Peti mati di Ghana dilihat sebagai status sosial, terutama untuk membangkitkan rasa cinta, humor, dan kehidupan orang mati.

Meksiko

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Terdapat pula permen berbentuk peti mati selama Festival Orang Mati.

Pemakaman biasa 'membosankan'?

Sulit untuk tidak tersenyum melihat peti mati berbentuk burung elang yang ceria. Namun gaya itu tidak dapat diterima oleh setiap orang.

Sebagian kelompok menganggap bentuk peti mati seperti itu egois. Wujud itu dinilai merusak atmosfer sunyi pendukung kontemplasi yang lebih disenangi sejumlah orang.

Psikolog Dr. Sally Austen mengatakan kepada BBC bahwa kesedihan mendorong manusia untuk lebih menyukai hal-hal yang selaras. Alasannya, ketika kita merasa terkatung-katung dan merindukan orang terkasih, kita akan berlabuh ke hal-hal yang sifatnya permanen dan mapan.

Ghana

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Masyarakat Ghana terkenal dengan desain peti mati yang unik, salah satunya yang berbentuk elang.

Sesuatu seperti batu nisan berwarna hitam yang konvensional, menurut Austen, adalah salah satu contohnya.

"Ketika kita menuju kematian, kita mulai bersikap seakan lebih takut dan khawatir. Dan seolah-olah seseorang di sutau tempat yang lebih berkuasa mendesak kita untuk bertingkah secara layak," kata Austen.

Jadi apakah kita merasa nyamjan dengan tidak mencolok? Mungkin, katanya.

"Saya kira itu konvensional: [Kita berpikir] orang lain telah mengatasi ini, ini yang dilakukan. Ini yang dapat diandalkan dan aman dan ini juga bagaimana saya bisa bertahan, secara psikologis, berdasarkan tradisi dan prosedur."

Kematian

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Sejumlah peti mati bahkan dipajang dalam sejumlah pameran seni.

Meski begitu, Spanger menyebut mayoritas penduduk Como tidak peduli akan makam suaminya yang mencolok. Baginya, prinsip 'berlebihan' masuk akal untuk kuburan itu.

"Politikus yang ingin meenghilangkan warna di pemakaman melawan kultur religius yang merayakan kematian sebagai jembatan menuju kehidupan baru," kata Spanger.

"Dan tentu juga bertentangan dengan tradisi non-religius yang ingin mengingat orang mati dengan memori ceria dari waktu-waktu yang telah dilewati bersama," ujarnya.

Kebijakan apapun yang akan diambil dewan lokal tentang pemakaman, Spanger sangat puas dengan pilihannya: sebagian taman dan sebagian lagi galeri foto, sebuah monumen penuh warna lambang cinta.