Diperiksa, pengungsi Afghanistan dan Pakistan yang 'menjadi gigolo' di Batam

Ilustrasi tentang seputar praktik gigolo dalam sebuah film produk Hollywood.

Sumber gambar, AP Magnolia Pictures

Keterangan gambar, Ilustrasi tentang seputar praktik gigolo dalam sebuah film produk Hollywood.

Sepuluh orang pengungsi asal Afghanistan dan Pakistan ditangkap di Pulau Batam, Provinsi Kepulauan Riau karena diduga bekerja sebagai gigolo, kata pejabat penerangan Imigasi Indonesia.

Seorang warga Indonesia yang berinisial BS juga ditangkap karena dituduh sebagai perantara alias muncikari sepuluh orang tersebut.

Pejabat itu mengatakan sebagian dari mereka adalah pengungsi yang sudah terdaftar di United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) dan tengah menunggu negara tujuan yang akan menerimanya.

  • <link type="page"><caption> Razia gigolo bukan tujuan film</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2010/04/100427_gigolobali" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Malaysia bongkar jaringan pekerja seks Uganda</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2011/10/111018_uganda" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Buku seks Klub Istri Patuh dikecam</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2011/10/111014_buku_seks_malaysia.shtml" platform="highweb"/></link>

Kepala humas Ditjen Imigrasi Pusat, Heru Santoso, mengatakan pihaknya menangkap sepuluh orang itu di sebuah pusat kebugaran di kota Batam, setelah melakukan penyelidikan selama sekitar tiga pekan.

"Tertangkap tangan, artinya kita berhasil menjebak mereka, mengikuti mereka selama sekitar tiga pekan," kata Humas Ditjen Imigrasi, Pusat Heru Santoso, kepada wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, Kamis (08/09) malam.

Ditanya apakah terungkapnya kasus ini membuktikan bahwa fungsi pengawasan keimigrasian tidak berjalan optimal, Heru menolak anggapan seperti itu.

"Kami bukan kurang mengawasi mereka. Setelah mendapat sertifikat pengakuan sebagai pengungsi, artinya mereka boleh di luar rumah detensi. Tetapi mereka tetap harus mentaati peraturan yang berlaku," kata Heru.

Siapa sang muncikari?

Menurutnya, sepuluh orang itu kini ditempatkan di rumah detensi Imigrasi di Batam untuk dimintai keterangan lebih lanjut. "Adapun BS, yang warga Indonesia, sedang diperiksa kepolisian setempat," ungkapnya.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Ronny Franky Sompie, mengatakan sembilan orang itu adalah warga Afghanistan dan seorang lagi adalah warga Pakistan.

Ilustrasi yang menggambarkan seorang gigolo dengan seorang perempuan.

Sumber gambar, THINKSTOCK

Keterangan gambar, Ilustrasi yang menggambarkan seorang gigolo dengan seorang perempuan.

Sejumlah laporan menyebutkan mereka beinisial MBH (15), MH alias J (17), MYA (19), MA (20), FH (20), MIS (22), AH (24), JMN (34), dan MZA (35).

Sedangkan satu orang lagi - warga negara Pakistan - berinisial MA, yang berusia 26 tahun.

Sementara, warga Indonesia yang berinisial BS yang diduga bertindak sebagai perantara alias muncikari adalah pria 35 tahun.

"Dia mastermind yang mengelola kegiatan tersebut," tutur Ronny kepada wartawan, Rabu (07/09) malam. Sang muncikari, lanjutnya, menawarkan mereka kepada pihak-pihak yang tertarik dengan tarif Rp20 juta.